Sabtu, 04 September 2010

Manusia biasa

MANUSA BIASA

Slalu begitu
Aq sadar tak da satupun kebaikan yg kupunya..
Tak ada sedikitpun kelebihan yg ku tau..
Aq hanya manusìa biasa..
Benar-benar biasa, tanpa hal yg bisa dbanggakan..
Tanpa aq bumi kan trus berputar..
Mereka kan tetap hidup tanpa rasa kehilangan..
Bagai setitik air dalam samudra, keberadaanq tak da artinya sama sekali..
Namun sayangnya aq punya hati..
Ada perasaan ingin dibanggakan yg menghantuiku..
Terus mengejar setiap langkahq..
Tetap aq melangkah.. Tetap aq menjalaninya..
Dan sekali lagi aq akan kecewa.. Aq akan menangis..
kembali tersadar bahwa aq hanya manusia..
Manusia biasa..

Kamis, 12 Agustus 2010

konjungtivitis

KONJUNGTIVITIS
PENDAHULUAN
DEFINISI
Suatu keradangan yang disebabkan bakteria, virus, jamur, chlamidia, alergi atau iritasi dengan bahan-bahan kimia
PATOFISIOLOGI
Konjungtiva selalu berhubungan dengan dunia luar. Kemungkinan konjungtiva terinfeksi dengan mikroorganisme sangat besar. Pertahanan konjungtiva terutama oleh karena adanya tear film pada konjungtiva yang berfungsi untuk melarutkan kotoran-kotoran dan bahan-bahan yang toksik kemudian mengalirkan melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi inferior. Di samping itu tear film juga mengandung beta lysine, lysozim, Ig A, Ig G yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan kuman. Apabila ada mikroorganisme pathogen yang dapat menembus pertahanan tersebut seihingga terjadi infeksi konjungtiva yang di sebut konjungtivitis.
GEJALA
Keluhan utama berupa rasa ngeres, seperti ada pasir di dalam mata, gatal, panas dan kemeng di sekitar mata, epifora dan mata merah. Penyebab keluhan ini karena edema konjungtiva terbentuknya hipertrofi papiler dan folikel yang mengakibatkan perasaan seperti ada benda asing di dalam mata.
GAMBARAN KLINIS
- Hiperemia konjungtiva : konjungtiva berwarna merah oleh karena pengisian pembuluh darah konjungtiva yang dalam keadaan normal kosong. Pengisian pembuluh darah konjungtiva terutama di daerah fornix akan semakin menghilang atau menipis ke arah limbus.
- Epifora : keluarnya airmata yang berlebihan
- Pseudotosis : kelopak mata atas seperti akan menutup, oleh karena edema konjungtiva palpebra dan eksudasi sel-sel radang pada konjungtiva palpebra
- Hipertrofi papiler : suatu reaksi nonspesifik konjungtiva di daerah tarsus dan limbus, berupa tonjolan-töjolan yang berbentuk poligonal.
- Folikel : suatu reaksi nonspesifik konjungtiva biasanya karena infeksi virus, berupa tonjolan kecil-kecil yang berbentuk bulat
-Khemosis : edema köjungtiva
- Membran atau pseudomembran :
suatu membran yang terbentuk oleh karena koagulasi fibrin
- Preaurikular adenopati : pembesaran kelenjar limfe preaurikular
KLASIFIKASI
Bedasarkan perjalanan penyakitnya konjungtivitis dapat diklasifikasikan menjadi konjungtivitis hiperakut, akut, subakut dan kronik. Ret atau getah mata dapat bersifat purulent, mukopurulen, mucus, serus atau kataral.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan laboratorium dan dilakukan kerokan langsung atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan Gram atau Giemsa dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear, sel-sel mononuklear, juga bakteri atau jamur penyebab konjungtivitis dapat diidentifikasikan dari pengecatan ini. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan Giemsa akan didapatkan sel-sel eosinophil.
DIAGNOSIS
Diagnosis konjungtivitis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan klinis didapatkan adanya hiperemi konjunguiva, sekret atau getah mata edema konjungtiva. Dari pemeriksaan laboratorium, dapat ditemukan kuman-kuman atau mikroorganisme dalam sediaan langsung dari kerokan konjungtiva atau getah mata, juga sel-sel radang polimorfonuklear atau sel-sel radang mononuklear. Pada konjungtìvis karena jamur ditemukan adaoya hyfe, sedangkan pada konjungtivitis karena alergi ditemukan sel-sel eosinofil.
PENATALAKSANAAN
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Dua penyebab klasik konjungtivitis bakteri akut adalah streptokokus pneumoni dan haemophilus aegypticus. Pada umumnya konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotic (Gentamycin 0.3%, Chloramphenicol 0.5%, polymixin). Gentamycin dan Tobramycin sering disertai reaksi hipersensitifitas local. Penggunaan aminoglikosida seperti gentamycin yang tidak teratur dan tidak adekuat menyebabkan resistensi organisme Gram negative. Kojungtivitis karena jamur sangat jarang. Dapat diberi Amphotericin B 0.1% yang efektif untuk ASpergillus dan Candida. Konjungtivitis karena virus, pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder dengan antibiotic. Beberapa virus yang sering menyebabkan konjungtivitis ialah Adenovorus tipe 3 dan 7 yang menyebabkan demam pharingokonjungtiva. Adenovirus type 8 dan 19 menyebabkan epidemic keratokonjungtivitis. Enterovirus 70 menyebabkan konjuntivitis hemorrhagic akut. Pengobatan dengan anti virus tidak efektif. Pengobata yang utama adalah suportif. Berikan kompres hangat atau dingin, bersihkan secret dan dapat memakai air mata buatan. Pemberian kortikosteroid tidak dianjurkan dalam pemakaian rutin. Sedangkan konjungtivitis karena alergi diobati dengan antihistamin (antazoline 0.5%, Naphazoline 0.05%) atau kortikosteroid (missal: dexamethasone 0.1%)
PENYULIT
Penyakit pada konjungtivitis dapat berbentuk :
1. Phlikten
2. Keratitis epithelial
3. Ulkus kataralis
Penyebab khusus untuk penyuli-penyulit ini tidak dibutuhkan, Karena penyulit-penyulit ini akan sembuh, bila konjungtivitisnya sembuh.
PROGNOSIS
Konjungtivitis pada umumnya merupakan self limited disease artinya dapat sembuh dengan sendirinya. Tanpa pengobatan biasanya sembuh dalam 10-14 hari. Bila diobati sembuh dalam waktu 1-3 hari. Konjungtivitis karena stafilokokus sering kali menjadi kronis.
DAFTAR PUSTAKA
1. Soewono W, Oetomo M M, Eddyanto : Konjungtivitis, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo, 3th ed, 2006
2. Vaughan D, Asbury T: General opthalmology, Lange Medical Publication, 12th ed, 1989
3. Wright P: Clinical Opthalmology, Wright IOP Publishing Limited, Bristol BSI6NX, 1987
4. Seminar sehari PERDAMi : Glaukoma, Penyakit Mata Luar, Katarak dam Fakoemulsifikasi, Surabaya 12 Juli 1997

Selasa, 10 Agustus 2010

Mata-keratitis

KERATITIS
Definisi
Keradangan pada kornea
Etiologi
Yang sering menjadi penyebab adalah
1. Bakteri : S. pneumoniae, P.aeroginosa, S. epidermidis, dll
2. Jamur : Candida, Fusarium, Aspergillus, dll
3. Virus : Herpes Simplex, Varicella-zooster, dll
4. Defisiensi vitamin A
5. Exposure keratitis :
- Exophtalmos (tumor retrobulbar, penyakit Basedow)

- Lagophtalmos akibat paralise n. VII

Gejala Klinis
Keratitis ditandai dgn adanya infiltrasi pada kornea berupa bercak putih dengan batas tak jelas baik pada epitel atau sub epitel kornea. Akhir syaraf pada permukaan kornea menyebabkan rasa nyeri yang diteruskan ke iris akibat adanya reflek phenomene, menyebabkan pembuluh darah iris dilatasì dan spasme dari iris. Hasil yang menyebabkan rasa nyeri menjadi lebih hebat terutama bila penderita terkena rangsangan cahaya. Akibatnya penderita takut kena sinar (photophobia) dan berusaha menutup mata dengan palpebra sehingga menimbulkan spasme palpebra (bleropharospasme). Rangsangan nyeri menyebabkan rangsangan keluarnya air mata yg berlebihan (epiphora). Kekaburan terjadi bila infiltrate berada di kornea sentral.
Pada pemeriksaan dengan lampu senter atau ophthalmoskop tampak adanya infiltrate.
Pemeriksaan lanjutan dilakukan bika ditemukan infiltrate, diantaranya :
1. Bentuk infiltrate :
- Numuler, misal keratitir numularis
- Punctat, misal keratitis punctata superficial
- Dendrit, misal keratitis herpes simplex
- Filamen, misal keratitis herpes simplex
- Disciform, misal stromal keratitis

2. Tes Fluorescein : dengan cairan fluorescein dapat dilihat infiltrate dgn fluorescein (+) atau (-).

3. Lokasi : infiltrate bisa berada pada sub epitel, epitel dari stroma. Bisa pula di satu daerah kornea dan bisa merata di seluruh kornea, di perifer maupun di sentral.

4. Sensibilitas kornea : menggunakan ujung kapas digeserkan pada permukaan kornea. Reflek berkedip menunjukkan hasil (+), berarti sensibilitas baik. Sensibilitas menurun misal pada herpes simplex keratitis. Tanda lain disamping infiltrate adalah hyperemia silier.

Pengobatan
Pengobatan terhadap penyebabnya, diberikan salep mata antibiotika, antivirus dan antijamur. Simptomatis bisa diberikan midriatikum (tetes mata) dengan tujuan mengurangi spasme silier sehingga rasa nyeri berkurang. Bebat mata perlu ditambahkan untuk mengurangi super-infeksi dan mengurangi spasme palpebra.

Prognosis
Dengan pengoctan adekuat keratitis sembuh tanpa bekas, tapi dapat menimbulkan jaringan parut pada kornea terutama bila infiltrate mengenai stroma korne. Jaringan sikatrik pada kornea dibagi menurut ketebalannya, yakni :
1. Nebula, yaitu jaringan sikatrik tipis, tampak dengan pemeriksaan lampu celah
2. Makula, lebih tebal dan tampak dengan pemeriksaan lampu sentes
3. Lekoma, jaringan sikatrik tebal dan terlihat dengan mata biasa.

Penyulit
Tanpa pengobatan yang baik, keratitis dapat berlamkut menjadi ulkus kornea. Karena infiltrat yang masuk ke dalam, mencapai lapisan Descement. Lapisan ini merupakan lapisan yang kuat dan akibatnya pada tekanak bola mata maka muncul Descemetocele yang selanjutnya mengalami perforasi sampai terjadi endopthalmitis yang berakhir dengan pthisis bulbi.

Senin, 09 Agustus 2010

Kangen (part 1)

part 1
Malam itu bulan bersinar dalam bentuk utuhnya, namun terlihat temaram. Memberi rasa sedih pada siapapun yang melihatnya. Aku tengah menatapnya saat itu, dan tanpa terasa kedua mataku mengalirkan air jatuh di kedua pipiku. Aku terkejut, menyekanya dan sesaat merasakan rasa sakit yg aneh di dadaku. Dan menyusul kemudian keinginan untuk bertemu, entah dengan siapa.
"nandila.. Kamu belum tidur nak?" wanita paruh baya yg selalu menemaniku masuk begitu saja ke dalam kamarku. Sekali lagi aku menyeka airmata dipipiku.
"tidak bisa tidur nek.. "
Wanita yg kupanggil nenek itu mendekat kearahku tapi berhenti tepat d depan jendela. "bulannya indah y sayang.." serunya.
"hmm.. Tapi terlihat menyedihkan.." jawabku dan sekali lagi sakit itu muncul dan terasa menyesakkan diiringi dg tetesan airmata. Segera aku menyeka sekali lg airmata itu. "ada apa nak? Kenapa kamu menangis?" tanyanya sambil duduk d sisi ranjang tempat tidurku.
Aku mendekatinya dan bersimpuh dihadapannya, seraya menaruh kepala ku dipangkuannya. Sementara airmata dan sakit itu terus mengalir dan membuatku sesak. "nek.. Apa nenek pernah merasa sangat merindukan seseorang, seseorang yg tidak pernah nenek pernah lihat sebelumnya..?" kalimat itu terucap begitu saja dari kedua bibirku.
Sekejap aku melihat ekspresi terkejut diwajah nenek namun berganti dengan senyum yang selalu membuatku tenang.
"mmm.. Sepertinya pernah.. Dulu sekali.."
"benarkah.. Lalu.." senyum hangat tadi seketika berubah menjadi senyum penuh misteri.
"nanti kau akan tahu sendiri jawabannya sayang.." jawab nenek sambil membelai lembut helai-helai rambutku, membawaku masuk perlahan ke alam mimpi, membawa serta rasa sakit dan rindu itu ke dalam dunia impian.

Jumat, 16 Juli 2010

Zyiena

Dia duduk didepanku, tersenyum. Kontras dengan sembab mata dan basah pipinya. Rangkaian kata terucap dari mulutnya, bercerita tentang kisahnya. Hilang gadis kecil yang kukenal dulu. Menjelma menjadi sosok wanita dengan kedewasaan dan kebijaksanaan. Berterima kasih pada waktu dan keadaan, dia telah tumbuh, melampaui ku. disetiap suaranya mengandung kesedihan, tak tertutupi walau dengan tawanya. Aku terdiam didepannya, tak bisa berkata. Dia tak butuh kata, dia tak butuh pelukan. Pendengar yg dia mau, dan aku berusaha memerankannya.
"Allah tidak akan memberi cobaan melebihi batas umatnya.." sekali lagi senyum itu tergambar. Bercampur aduk rasa dalam benakku, memaksaku untuk memberinya senyuman. "Semakin banyak cobaan yang diberikanNya, semakin sayang Dia dengan umatny.."ucapanku membuatnya tersenyum dan mengangguk, meng-iya-kan pendapatku.

Selasa, 13 Juli 2010

Rasa ini ada

Tak tepat kata cinta
Tuk gambarkan rasa ini
Tak sanggup pula
Terucap benci padanya

Dalam tangis
Layakny pelangi
Hentikan derasny hujan

Dalam tawa
Terasa surya menyinari
Memberi terang dunia

Selama qt bersama
Taklukkan hidup
Hempaskan rintangan
Gapai impian

Dan aq tau
Rasa itu ada
Karena kalian

Rabu, 09 Juni 2010

2 dunia

aku hidup dalam 2 dunia,
dunia yang tak bertentangan tapi tetap berbeda
dan yang pasti tak dapat disatukan.
gemerlap keduanya mengganguku, membuatku terus berada didalamnya
tak mampu keluar meninggalkannya.
saat berada pada salah satunya, tergoda pada yang lainnya
namun tak mampu tuk pergi

what should i do
bagai pagi dan petang
bagai matahri dan rembulan
keduany berarti
dengan keunikannya masing-masing
membuat warna dalam hidupku
membuat hidup jiwa dan ragaku

namun lelah
tak sanggup lagi aq
sekarang disini aq berdiri
diantara keduanya
berjuang untuk untuk memilih
menentukan takdir
jalan hidupq..

Sabtu, 22 Mei 2010

dear my lost friend

lagi....
aku bermimppi tentangmu...
dirimu yang tlah lama hilang,
terhapus waktu
namun tetap abadi dalam anganku...

lagi...
kuteringat janji itu..
janji yg kau ucap terakhir kali...
janji khan terus temaniku...
janji yg tak kau tepati...

lagi..
ku menunggu dalam diam...
menanti kehadiranmu..
tanpa lelah terus berharap...
hingga nanti saat kaku kembali....

Rabu, 07 April 2010

ceritaku

CERITAKU

Dengan keringat dingin aku terbangun, napasku tersengal-sengal dan mataku masih gelap dengan bayangan-bayangan mimpi yang mengejarku belakangan ini.

”Neng.... neng tidak apa-apa ? apa perlu bibi ambilkan minum....” suara bi inah dari balik pintu kamarnya. Aku mengusap keringatku dengan ujung lengan piyama, dan berjalan meraih pegangan pintu. Dengan senyum aku menolak halus tawaran Bibi. Lalu aku menambahkan beberapa gerakan isyarat tangan, agar tidak membuatnya lebih khawatir lagi. Begitu bi inah yakin aku hanya mimpi buruk, beliau pun meninggalkan kamarku. Kembali aku mencoba memejamkan mata, namun entah mengapa tiba-tiba arimataku menetes.

Hiruk pikuk disekeliingku tidak berhasil membuatku terlepas dari bayang mimpi buruk semalam, walaupun kedua tanganku tengah bekerja—membersihkan beberapa meja yang telah ditinggalkan tamu—benakku juga ikut bekerja, mengingat setiap detai gambar yang selalu berkelabat di dalam tidur, sampai-sampai aku tidak merasakan kehadiran Nanda di dekatku.

”Hey, bantu gue donk... Rey ngikutin terus tuh...” aku mencoba tersenyum, menyembunyikan semua ketakutanku.

”lue gak pa-pa.... wajah lue pucat...” tanya Nanda, kembali aku tersenyum sambil menggelengkan kepala, aku memang tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu darinya.

“Nan gimana… mau khan nemenin aku…. Ayolah...” satu orang lagi mendekat kearahku.

”Diem deh... lu g liat gue, lg ngomong ma Nad...” seru Nanda kesal.

”Nad... lue beneran gpp khan...” suara Nanda melembut, dia bertanya ke arahku.

”Emangnya Nad kenapa ?” Rey mendekatiku, bahkan tangannya memegang pipiku, berusaha meneliti apa yang salah dengan wajahku, risih aku menyingkirkan tangannya.

”wah... lue bener Nan, wajah Nad pucet.... oi Jun, Nad pucet nie...“ teriaknya kearah cowok yang sedari tadi duduk di pojokan cafe.

Aku menggeleng cepat, mencoba myakinkan mereka, aku tidak apa-apa, tapi sepertinya cowok yang dipanggil jun itu mendekatiku, meninggalkan gadis manis yang menemaninya. Dia berhenti tepat didepanku, mengulangi kembali apa yang dilakukan Rey, dan tentu saja aku menolaknya dengan mengalihkan pandanganku dari mata elangnya. Perlahan aku merasakan panas menjalar di kedua pipiku. Tidak ingin terlihat memalukan, aku beranjak pergi dari mereka, namun pergelangan tangannku ditahan oleh tangan besar Juna.

’’Ayo pulang....“ ucapnya singkat, aku kaget tentu saja, sekarang masih jam 9 dan shift kerjaku baru berakhir 2 jam lagi. Aku melepaskan`` tanganku dari cengkramannya, kemudian menulis di memoku dan memberikannya.

’aku nggak pa-pa, dan aku belum bisa pulang sampai nanti j 11’

sedikit berlari aku meninggalkan mereka, takut tertangkap lagi.

”Kalian yakin dia nggak pa-pa...” Suzie bertanya begitu Juna dan Rey kembali duduk disebelahnya.

”Wajahnya sih terlihat pucat, tapi tadi waktu di pegang ma Juna langsung memerah.... dasar Nadia...” Rey menjawabnya sambi tertawa. Suzie yang melihat adegan tadi juga ikut tersenyum, sementara Juna masih dengan wajah tanpa ekspresi memandang keluar jendela.

”Baiklah, kalau begitu aku panggil taksi ja ya... kamu pasti mau mengantarkan Nadia pulang khan Jun...” seru Suzie mengeluarkan Hapenya

”Biar aku antar....” seru Juna sambil bangkit dari duduknya.

Suzie menggelang sambil menahan tangan Juna, ”trus kamu balik kesini lagi... nggak.... lebih baik aku naik taksi dan kamu menunggu disini, siapa tau Nadia berubah pikiran dan pingin cepet pulang...” serunya.

”Tenang ja Jun, biar gue yang anterin... lagian gue udah jelas-jelas ditolak ma Nanda... daripada gue kena jurus silatnya mending gue kabur duluan khan...” Lerai Rey yang melihat sorot mata tidak setuju yang diarahkan ke Suzie.

”Ide bagus... km g keberatan khan Jun....”

”Terserah kalian....” Juna kembali menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.

Ku...kuruyuk... suara alarm alami yang selalu berbunyi saat fajar itu perlahan menggetarkan gendang telingaku. Sekali lagi, untuk beratus kalinya dalam 1 malam, aku menatap lekat bayangan mirip diriku yang memantul dari cermin besar di depanku. Bayangan itu menunjukkan mimik wajah ketakutan dengan mata bengkak dan sisa-sisa airmata yang tergambar jelas di kedua pipinya. Entah sudah berapa jam aku terduduk disini, mencoba untuk menahan kedua kelopak mataku agar tetap terbuka, bahkan sebisa mungkin tidak berkedip.

Aku takut cahaya, aku takut tertidur dan aku takut bermimpi, sekali lagi aliran air keluar dari kelenjar airmataku dan sekali lagi aku mencoba menghapusnya.

”Non Dia sudah beberapa hari ini terlihat lesu... bibi kurang tau ada apa dengan non Dia... biasanya sih non cerita, tapi...” Bi’ Inah akhrnya membeberkan ceritanya setelah kurang ebih setengah jam Nanda dan Rey memaksanya, mencari tahu ada apa sebenarnya yang terjadi dengan Nadia.

”hampir tipa malem Non Dia mimpi buruk, bahkan samapi teri-teriak dalam tidurnya... Bibi g berani nanya, takutnya Non da malah tambah sedih nanti....” lanjut Bibi. Nanda dan Rey salaing berpandangan dan seperti sudah dikomando sebelumnya, keduanya langsung menoleh kearah Arjuna yang berdiri membelakangi mereka. Sepertinya tengah asyik melihat kendaraan yang lalu lalang di depan rumah ini.

”Tapi semalem, Bibi g denger apapun dari kamar non Dia.... bibi jadi khawatir...”

”Bibi tau dimana Nadia sekarang...” akhirnya Arjuna bebicara.

Bi inah menggeleng, dan menundukkan kepala, terlihat jelas dari mimik wajahnya dia sedih.

Nadia menghilang, dia tidak muncu di kampus. Baru satu hari memang—mengingat sekarang baru jam 11 malam, namun ini sudah membuat Nanda dan Rey kalang kabut, belum lagi Juna. Walau dalam diamnya, keduanya menyadari Juna panic dan mungkin malah ketakutan.

”Non...Den... Bibi ambilkan minum dulu y... ” seru Bi inah pamit ke belakang. Rey menjawab dengan senyuman sementara Nanda hanya mengangguk.

Hening, tidak ada suara bahakan hewan malam dan angin yang membelai dedaunan kut berhenti bersuara. Seakan memberikan ruangan bagi mereka untuk konsentrasi berpikir, apa sebenarnya yan terjadi dengan Nadia.

”Apa yang harus kita lakukan sekarang ? ” Rey bertanya tak tahan dengan keheningan yang terjadi. Dan tepat pada saat itu, derik pintu pagar terdengar, ketiganya menoeh cepat. Di depan mereka seorang gadis dengan jaket putih dan jeans biru lengkap dengan kerudung kaosnya terlihat sedang membuka pintu. Sepertinya gadis itu tidak menyadari ketiga orang yang tengah mengawasinya.

Juna bergegas mendekatinya,

”Kau pikir apa yang kau lakukan...?” hardik nya tepat di wajah gadis tersebut.

Gadis itu kaget, lalu mimik ketakutan menggantikannya, terasa benar hujaman langsung dari mata elang milik Juna. Dengan isyarat tangan dia mangeja kata MAAF.

”Kau....” Juna marah, sangat marah, terlihat dari wajahnya yang memerah dan tentu saja tidak mampu mengeluarkan kata apapun saking marahnya. Dia menarik napas panjang dan menuju motornya, sambil mengenakan helamnya dia masih sempat berucap pada gadis itu.

”Kalau berniat pergi, sebaiknya tidak usah kembali” kata-kata itu diucapkan dengan suara dalam, terdengar sinis dan tentu saja marah.

Brummm.... dengungan motornya pergi, menembus malam meninggalkan kedua sahabatnya melongo, kaget melihat tindakannya barusan.

Nanda yang tersadar dari kagetnya terlebih dahulu, mendekati Nadia.

”Darimana saja kamu.... kami kuatir....”

”Sebaiknya aku menyusulnya,... ” seru rey sambl merogoh sakunya, mencari kunci mobilnya.

”Nad... jng buat kami ppanik agi yah... please... kasihani jantung ni... oke .....” tambah Rey dengan tatapan memelas. Sambil memberi tanda ’telpon aku’ yang dijawab anggukan oleh Nanda Rey pergi, meninggalkan asap mobil berwarna putih di halaman depan rumah Nad.

”Aku boleh menginap disini khan...” tanya Nanda.

Nadia mengangguk lemah masih menatap jalanan, arah Juna dan Rey pergi.

Juna merebahkan diri di rerumputan, motornya terparkir sembarangan di seberang taman. Dia menghirup sebanyak mungkin udara bebas, mencoba melegakan sesak yang tiba-tiba melanda dadanya.

”Damn......” dia mengumpat, tiba-tiba dia membenci dirinya, membenci sifatnya yang tidak bisa bertanya. Dia ingin sekali tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Nadia. Tapi dia tidak bisa bertanya, karena kalau dia bertanya itu akan membuatnya membuka semua, membuka semua yang ada dirinya.

”Angel... apa sebenarnya yang terjadi.... ada apa dengan Nadia....” bisik Juna sembari memandang langit, mencari-cari wajah adiknya tercinta.

”Kak, aku punya teman baru... namanya Nadia... anaknya baik banget... dia mirip sama kakak....”

”maksudnya....”

”matanya.... dia punya mata seperti kakak... mata yang selalu kesepian....”

”Angel... bantu aku...” bisik Juna lagi, kali ini dengan mata terpejam.

Suara rintik hujan, satu-satunya bunyi yang terdengar saat ini. 2 pasang anak manusia yang tengah duduk mengitari meja terdiam, seolah ikut terhanyut dalam suara tetes air yang menyentuh tanah.

”Jadi bisa kamu ceritakan sama kami, apa sebenarnya yang terjadi....?” Rey angkat bicara.

Semua mata memandang Nad, yang hanya tertunduk menghindari terutama tatapan elang cowok didepannya.

’Maap membuat kalian khawatir...’ dia menulis di memonya.

”Hufff....” Rey menghela napas panjang, dan bangkit

”Rey mau kemana...?” Nanda bertanya

”mindahin mobil....” jawab Rey asal, dia tahu Nad tidak akan pernah berbicara kalo dia ada disana.

”Aku ikut....” seru Nanda, dia juga merasa hal yang serupa.

Sekali lagi tidak ada berbicara, tidak ada suara, seolah-olah Nad dan Juna tengah berlomba untuk berdiam diri.

’Maap...’ sekali lagi Nad menulis di memonya dan menyerahkannya di depan Juna. Arjuna hanya melirik sekilas.

”tidak ada gunanya kalo itu terjadi lagi....” juna menjawab dengan nada sinisnya.

Aku menyerah, hawa dingin disekitarku benar-benar tidak bisa mengalahkan sikapnya yang dingin itu. Dia memang tidak mendesakku bercerita, tapi sikapnya ini.... apa bedanya. Takut aku melihat langsung ke matanya, aku hanya berani menggunakan sudut mataku menilai wajahnya. Aku bisa melihat kemarahan dan kekhawatiran bercampur disitu, tapi..... apa aku harus menyerah.

Entah sudah berapa lama kami berdiam seperti ini, bahkan Rey dan Nanda juga tidak menampakkan diri lagi, sepertinya mereka bersekongkol. Sekali lagi aku meliriknya. Ekspresi wajahnya tidak berubah, tatapan matanya terasa begitu jauh, aku tahu dia menghindari menatap wajahku, mungkin dengna menatap wajahku saja bisa menyulut kemarahannya... sekali lagi aku bertanya pada diriku sendiri.... apa aku harus menyerah.

Aku menarik napas dalam dan perlahan menghembuskannya, tanganku merogoh tas kecil yang selalu kubawa dan mengeluarkan semua cerita hidupku. Sebuah buku kecil bergambar hello kitty aku serahkan dihadapannya. Aku mencoba menilai kembali ekspresi di wajahnya. Dia meliriknya dan tertarik karena dia melihat kearahku sekarang, segera saja aku menundukkan wajahku kembali, aku masih takut menatap mata elangnya.

Samar-samar diantara gemerisik bunyi hujan aku mendengar buku itu diangkat, entah hanya ilusiq sajakah, aku mendengar dia bertanya, apa ini...?

”Apa ini...?” Juna bertanya, ditangannya saat ini ada sebuah notes kecil bersampul hello kitty.

’apapun yang ingin kau tanyakan...’ sebuah memo kembali disodorkan ke arahnya, tapi Nad masih tidak mau mengangkat wajahnya.

’jangan buka disini, aku tidak ingin berada didkatmu saat kamu membacanya....’ memo kali ini ditulis dengan cepat sebagai reaksi jemari arjuna yang mulai membuka notes kecil itu. pertama kalinya dalam beberpa jam terakhir mata Arjuna menyelidik penuh tanya mengamati ekspresi apapun yang bisa dilihatnya yang tergambar di wajah Nadia.

teman, aku mendengarnya lagi hari ini, suara tangisan... entah suara siapa... kali ini aku memberanikan diri keluar kamar untuk melihatnya. Sama sekali tidak aku duga kawan, yang terduduk dan menagis didepanku adalah mamaku... mama yang melahirkanku, mama yang selalu ceria setiap kali aku melihatnya. Kali ini menangis, terduduk di lantai dengan tangan kedua tangan menutupi wajahnya, tapi aku tahu ada air mata yang menetes dibalik kedua tangannya itu........

Aku takut teman.... aku takut laki-laki itu datang lagi, mamaku sudah mengusirnya dan menjamin bahwa dia tidak akan kembali, tapi aku takut karena aku sendirian saat ini, mamaku tidak ada, tidak ada yang menolongku....

Dia datang... dia datang lagi... tapi aku tidak takut, ada mamaku sekarang, dia pasti menjagaku.... mama pasti menjagaku... laki-laki itu tidak akan berani....

Dia sudah pergi.... selamanya... ornag berseragam itu sudah membawanya, dan mereka berjanji tidak akan pernah melepaskannya... aku bebas... mamaku bebas... kami bebas... dia tidak akan mengganggu kami lagi....

Laki-laki itu jahat... dia pergi... tapi dia membawa mamaku... mamaku jug pergi... meninggalkanku sendiri... aku sendirian... mamaku tidak ada disampingku... mamaku pergi...

Hanya penggalan kata-kata itu yang terbaca, sisanya blur... sepertinya ttintanya terhapus oleh air, mungkin air mata. Arjuna menutup perlahan notes itu, pikirannya kalut, dia sama sekali tidak pernah membayangkan, masa lalu Nadia sekelam itu.

Dok....dok...

”Juna... bangun... Nadia pingsan nak....” arjuna langsung tersadar dan membuka pintunya, tanpa berkata apa-apa dia langsung menyambar jaket dan kunci motornya kemudian berlari keluar rumah, di belakangnya terdengar suara teriakan orang tuanya.

”Jun... mama sama papa nyusul... jaga Nad dulu ya....”

Sebentuk wajah polos tengah memejamkan mata. Masih tersisa ekspresi ketakutan di wajah itu.

”berikan semua beban itu kepadaku... biar aku yang menaggungnya....” arjuna berbisik sambil perlahan mengelus pipi wajah polos tersebut.

Dia mengamati wajah itu, mencoba merekam dan menggambarkan setiap detail dari wajah gadis, seolah selama dia tidak akan bisa melihatnya lagi.

”Jun...” bisikan mamanya membangunkannya dari lamunan.

”Apa sebenarnya yang terjadi....?”

Juna menggeleng, masih tidak berani melepaskan kedua matanya dari wajah gadis itu.

”Den... Non Dia tidak apa-apa kan....?” kali ini suara bik inah yang terdengar di telinganya.

”Harusnya bibik tahu... harusnya bibik sadar kalo bulan ini hari terjadinya... bibik memang bodoh....” bik inah mulai nyerocs tanpa henti.

”maksud bibik....?” tanya mama, kali ini Arjuna ikut menoleh meminta penjelasan.

”sebenarnya bibik mengasuh non dia sejak lahir, tapi waktu bibik dinikahkan bibik sudah tidak bekerja lagi sama nyonya.. lagi pula waktu itu nyonya sudah menikah lagi dan tinggal bersama suami barunya, jadi bibik tidak dibutuhkan.....”

”bibik meninggalkan nyonya dan non dia lama sekali... sampe nyonya sendiri yang menjemput bibik di kampung dan meminta bibik kembali bekerja, kebetulan waktu itu suami bibik juga sudh meninggal jadi bibik ikut nyonya lagi.....”

”bibik nggak begitu paham kenapa nyonya meminta bibik kembali bekerja, nyonya juga nggak cerita apa-apa yang bibik tahu, setelah bibik bekerja suasana rumah jadi berbeda, non dia yang dulunya cerewet sekali jadi pendiam hanya bicara saat nyonya bertanya... nyonya juga begitu jarang banget di rumah dan bahkan hampir tidak pernah ngobrol sama bibik... padahal dulu bibik sama nyonya sering banget nggosipin tetangga....”

”nggak lama, nyonya meninggal karena sakit... non dia jadi lebih pendiam lagi bahkan beberapa bulan kemudian tridak mau bicara sama sekali.... bibik kasihan melihatnya....” Bik inah bercerita di luar kamar, takut tibatiba Nadia terbangun kalo mendengar cerita tersebut.

”Bibik bener-bener nggak tahu apa yang terjad sama mereka berdua waktu bibik tinggal....?” tanya Arjuna sedikit mendesak.

Bik inah menggeleng kemudian menambahkan, ”bibik cuman mendengar cerita pembantu tetangga, katanya suami nyonya itu jahat sering main tangan... nypnya sama non dia selalu dipukul... tapi nyonya dan suaminya itu sudah bercerai katanya, malah ada yang bilang suaminya itu sudah mati....”

”Apa setiap tahun Nadia selalu seperti ini....”

Bik inah menggeleng lagi.

”Biasanya cuman diam aja seminggu, lebih banyak dikamar... kalo sampe mimpi buruk kayak yang kemaren sih nggak pernah den....” Bi inah masih sesenggukan di dalam pelukan nanda. Sementara Rey mengintip keadaan Nadia dari balik pintu dan Arjuna duduk ekspresi wajahnya menggambarkan penuhnya isi didalam pikirannya.

”Pagi... syukurlah kamu udah sadar... kita semua kuatir...” Nanda menyapa. Aku melihat sekelilingku. Ada Bik inah dengan mata sembab, mamanya Arjuna, Rey, dan di sebelah kiriku Papanya Arjuna tengah tersenyum. Aku membalas sapaan itu dengan senyum yang sebisa mungkin tanpa hawa ketakutan yang belakangan ini kurasakan. Namun ada kehampaan yang muncul tiba-tiba.

Nad tersenyum, ”dia dia kantin beli sarapan.. 2 hari ini dia tidak lepas dari sisimu... ”.

Aku kembali tersenyum namun aku merasa panas ulai menjalar dari leher ke wajahku, Nad semakin terpingkal melihatnya.

”hei...hei... sudah mulai bercanda sekarang... bagai mana kabarmu adik kecil...? kau membuat kami semua kelimpungan.... ” Rey mendekat dan mengelus pipiku, sebuah kecupan kecil di keningku cukup mengejutkanku.

”Liat saja kalau sampai Arjuna melihatnya....” seru Nanda, melihat adegan barusan, ada senyum hangat tersimpan di mulutnya.

”Jangan bilang kamu cemburu Nad... ” Rey mulai menggoda Nad.

”Tidak... sama sekali tidak, kalau itu kamu...”

Aku tersenyum bahakn menambahkan sedikit suara di tawaku.

”Syukurlah... jangan buat kami khawatir lagi ya... ” Tante Misca ganti mencium pipi kananku, masih tersisa kantung mata di kedua belah matanya, wajahnya jga pucat tanpa make up.

”cukup sekali ini saja... O sudah sangat tua untuk menerima kejutan seerti ini Nak...” Ganti Om Jay yang mencium pipi kiriku, raut kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya, sedikt banyak Aku merasa bersalah. Dengan sedikit memaksa aku mengkupkan kedua tanganku, memberi isyarat permintaan maaf.

”Sudahlah... yang penting sekarang kamu bersama kami... jangan pernah merasa sendirian lagi....” Tante Misca menutupkan kedua tangannya diatangan tanganku dan kembali menaruhnya di kedua sisi tempat tidurku.

Langit hitam penuh bertaburan bintang, bentuk bulan yang tidak bulat sempurna terselimuti awan menambah kekhusukan suasa na malam. Bisikan angin diantara rerumputan menambah simfoni khas lagu ciptaan alam. Nadia terlihat memejamkan mata meresapi semua bisikan alam sekelilingnya mencoba mengartikan dan memaknai nada-nada yang dibuat alam.

”Jangan... Pernah... Melakukannya... Lagi....” suara Arjuna terdengar berat dan penuh tekanan disetiap katanya. Nadia langsung membuka mata dan menunduk dengan lirikan matanya dia mencoba mencari kemarahan di wajah Arjuna.

Kembali tidak ada suara, Arjuna kembali terdiam, matanya juga menutup namun entah apa yang ada dalam pikirannya.

”Maaf....” terdengar bisikan perlahan, sangat pelan seolah satu nada dengan desiran angin

”Aku tidak ingin kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya...” Arjuna kembali berucap, perlahan dia menggeser tangannya, menggenggam tangan mungil nan lentik disampingnya.

arjunaku

ARJUNAKU.....

Awan-awan putih bergelantungan hari itu, mengiringi senyuman hangat sang mentari. Tepat di bawah arakan awan-awan, di sebuah taman, terlihat begitu banyak orang dengan pakaian formalnya, jas lengkap dengan dasinya dan gaun indah berwarna-warni. Ditengah sekumpulan tanaman hijau dan mahkota bunga yang berguguran berdiri sepasang manusia, yang hari itu terlihat layaknya raja dan ratu di surga ciptaan mereka, dengan gaun serba putih dan tuxedo hitam, kedua mempelai terlihat begitu sumringah seperti tak kenal lelah walaupun kedua tangan mereka menyalami tamu-tamu yang entah berapa jumlahnya.
"Dimana Arjuna?" tanya sang mempelai pria
"Entahlah, Nadia?" sang wanita menjawab dengan pertanyaan. Keduanya berpandangan, seolah-olah mempunyai pemikiran yang sama kedua tersenyum bersamaan.
"Sudahlah biarkan saja...." akhirnya sang suami pun kembali menyalami para tamu yang masih berdatangan dengan sang istri mengikutinya.

Di sisi lain taman, jauh dari keramaian manusia, terlihat seorang pemuda yang tengah tidur telentang dengan kedua lengan sebagai pengganti bantal, kedua matanya menutup. sementara beberapa langkah di depannya terlihat seorang gadis yang tengah berkacak pinggang kesal memandangi tingkah sang pemuda. Dengan sedikit berlari sambil memegangi sarung kebayanya gadis itu menghampiri si pemuda, kedua tangannya menggoyang bau si pemuda berharap dia membuka matanya.
"Da pa?" suara keluar dari mulut si pemuda tapi tetap dengan kedua mata terpejam, seperti tidak puas Si gadis tetap menggoyangkan bahu pemuda itu.
"Apaan sie... " akhirnya mata si pemuda pun terbuka bahkan dia bangkit dari tidurnya.
Dengan senyumnya, seolah lega bisa membangun pemuda tersebut, si gadis menunjuk ke arah keramaian yang mereka tinggalkan.
"Aku nggak suka keramaian..." seolah mengerti apa yang ingin dikatakan si gadis pemuda tersebut menjawab.
Wajah si gadis berubah cemberut, namun dia tidak lagi mengganggu sang pemuda malahan menikmati angin semilir yang tiba-tiba membelai wajahnya, matanya terpejam seolah ingin menghayati lebih dalam lagi bisikan angin di sekitarnya. Sang pemuda kembali meletakkan kepala di tanah yang diikuti si gadis.
"Kira-kira bagaiamana wajah angel saat ini ?" dengan suara lirih si pemuda bertanya. sesaat si gadis menolehkan kepala memandang wajah damai sang pemuda. perlahan suara si gadis keluar hanya mendendangkan beberapa nada tanpa lirik namun bagi sang pemuda suara tersebut ditambah bisikan angin yang terus menderu sudah berarti jawaban baginya.

Hampir 10 menit dia berdiri, entah sudah berapa angkot tujuannya lewat begitu saja tanpa digubrisnya. Pikirannya mekayang pada detik jam yang telah dilaluinya di halte ini. Berharap orang yang ditunggunya segera tiba, dia memutar matanya, menatap sekeliling mencari sosok yang dikenalnya. Harapnnya tak terwujud, di depannya begitu banyak orang lalu lalang, lengkap dengan berbagai kendaraan yang tersedia di kota ini, dan tak satupun yang memenuhi ciri-ciri orang yang ditunggunya.
Huffff... gadis itu menarik napas panjang, putus asa akhirnya dia melangkah pelan. Dia pasti lupa.... pikir gadis itu, seharusnya aku naik angot saja tadi.... tambahnya. Namun baru beberapa langkah dia berjalan sebuah tiger black mendekatinya dan berhenti tepat didepannya, helm hitam diberikan kepadanya oleh tangan sang pengemudi.
”Ayo... ” dia berucap
Walau kesal, namun gadis itu menerima helm tersebut dan duduk menyamping di jok belakang.
Hanya 10 menit, dia yakin akan hal itu biar tidak sedetikpun dia melihat guess miliknya. Namun gadis sangat amat yakin dia menempuh 20 km perjalanan ke sekolahnya hanya dalam waktu 10 menit. Hampir saja jantungnya berhenti berdetak begitu kakinya menginjak tanah, dengan wajah memerah menahan marah, dia memberikan—bahkan hampir melempar—helm yang dipakainya ke arah pengemudi motor gila yang memboncengnya. Tanpa menoleh lagi dia masuk ke kelasnya.

”Panas.....” mulutnya berucap tapi tangannya jauh lebih cepat, dia mengambil ice coffe kaleng yang baru saja dibeli Nad. Dan dengan wajah innocentnya Arjuna duduk disebelahnya.
”Apa ?” tanya Arjuna, dia sadar akan tatpan kesal Nad.
Tangan Nad mulai menulis, mengungkapkan semua kekesalannya
’pertama... kau membuatku menunggu setengah jam lebih di halte, kedua... kau membuatku hampir mati dengan setan kebutmu itu, dan ketiga... kamu meminum ice coffe stock terakhir yang kudapat setelah mengantri cukup lama...’
”Oh....” hanya sepatah kata itu yang keluar saat arjuna membaca semua unek-unek yang ditulis Nad. Memandang tak percaya cowok tanpa hati didepannya, Nad benar-benar tidak bisa berkata apapun lagi.
”Nih... ” dia menempelkan kaleng dingin itu di pipi Nad, reflek tangan Nad memegangnya tidak membiarkannya jatuh saat arjuna melepaskan tangannya dari kaleng itu.
”Tunggu aku di depan gerbang nanti....” ucapnya sambil berlalu meninggalkan Nad sendirian diantara kerumunan orang yang kelaparan dicafetaria.
”Hei.... seharusnya kamu sudah terbiasa dengan sikapnya khan... ” Nanda muncul dengan semangkok mie dan duduk ditempat Arjuna tadi duduk. Nad menjawab dengan menghela napas sambil mengocok kaleng ice coffenya, berharap masih ada cairan coklet yang tersisa.
”Kalau begitu jangan bermuka masam lagi donk.... terima nasib saja Non,....” serunya mengejek. Sekali lagi Nad menghela napas, tidak sedikitpun tersisa cairan di kaleng alumunium itu, lebih lagi helaannya semakin panjang medengar ejekan teman barunya itu.
“Aku heran kamu masih bisa tahan dengannya....” tanyanya
‘Anggap saja aku hebat...’ tulis Nad di memonya. Dan tentu saja disambut tawa oleh Nanda.
“Siang gadis-gadis....” satu lagi cowok menyebalkan datang.
“Oh gosh.. mimpi apa aku semalam...” gumam Nanda, Nad tersenyum mendengarnya.
“Hei Nad, seharian ini aku tidak melihat Arjunamu... kemana dia ?” tanya cowok itu sambil duduk tepat di sebelah Nanda, yang tentu saja membuat Nanda makin merasa tidak enak badan.
“Bisakah kau menjauh beberapa meter lagi, entah kenapa aku langsung pusing kalau didekatmu...” Nanda berucap dengan penekanan disetiap kat-katanya.
“What’z wrong ?... kenapa sih kau selalu bersikap jahat pada ku...” nada kecewa tersirat dari kata-kata Ron
“Entahlah... mungkin karena aku paling benci player...”
“Hei, bukan salahku donk kalau banyak cewek yang tergila-gila padaku... aku hanya menggunakan anugerah yang diberikan Tuhan kepadaku dan....
“Dasar kucing...” sela Nanda sambil berlalu dari situ, menjauh sejauh mungkin.
“Kenapa sih dengannya...?” tanya Ron pada Nad.
Sambil mengangkat bahu dia mengambil air jeruk milik Nanda yang bahkan belum disentuhnya sama sekali.

Dua kali.... dua kali dalam satu hari ini dia menunggu, yang pertama pagi tadi... dan sekarang..... sudah lewat dari setengah jam dia duduk di bawah pohon di depan gerbang kampusnya. Dan cowok nyebelin itu tetap saja belum menampakkan hidungnya, untung saja suaranya entah kemana, kalau tidak pasti sudah beberapa puluh kali dia mengumpat kesal.
’kenapa aku masih disini... bahkan warung soto yang baru buka malam hari itu sudah mulai amai dipenuhi pengunjung yang kelaparan... pikirku sambil melihat pasrah ke depan warung soto itu.
”Nad.....” sebuah suara yang dikenalnya nmun bukan suara yang ditunngunya. Nad tersenyum lemah membalas sapaan cowok itu.
”jangan bilang kau menunggu Arjuna...” tebaknya dengan sangat tepat. Dan dengan lemah, putus asa Nad mengangguk.
”Tapi dia sudah pulang beberapa jam yang lalu.... bahkan dia tidak ikut latihan sore...”
mimik wajah tidak percaya terlukis sangat jelas dari wajah Nad, ’Jadi cowok b******k itu lupa... bagus sekali...’ pikirnya sambil tersenyum kecut. Nad berdiri, tidak ada gunanya lagi dia menunggu.
”Mau kuantar pulang....” Ron menawarkan diri
Kepala Nad menggeleng walau sebenarnya dia khawatir melihat gelapnya malam.
”Ayolah... aku tidak mungkin berbuat aneh-aneh kepadamu... Arjuna bisa membunuhku....” canda Ron, Nad baru sadar kalau cowok ini juga punya lesung pipit di kedua pipinya.
Nad mengangguk lemah, membiarkan dirinya duduk di bangku belakang ninja ungu milik Ron.

”Kamu kenal yang namanya Suzie...” tanya Ron begitu aku keluar sambil membawa segelas air untuknya. Aku menggeleng, mengambil tempat, duduk di depan Ron.
”Hufff.... ya sudahlah kalau begitu... sebaiknya aku pulang... sebelum ditangkep sama satpam...” canda Ron. Nad tersenyum, inilah perbedaan antara Arjuna dan Ron, Ron selalu bisa membuatnya tersenyum.
”Oh ya.... mungkin Arjuna akan sibuk beberapa hari ini, so how about....” Ron terdiam tidak menyelesaikan ucapannya. Nad menunggu.
”Lupakanlah... Arjuna takkan terganti khan....” seru Ron. Wajah Nad memanas, dia yakin warna wajahnya semerah tomat sekarang.
”Ha..ha...Ha... kau ini lucu....” seru Ron.

’Ron benar...’ pikir Nad, sudah 3 hari ini dia tidak melihat wajah Arjuna, Nad tidak lagi diantar jemput oleh tiger hitam miliknya. Entah apa sebabnya. Dan sekarang bertiga dengan Ron dan Nanda dia duduk di food court mall yang mereka kunjungi.
”Jadi kemana perginya sahabatmu itu...” tanya Nanda diantara suapan spaghetinya.
”Dunnoo.... ehm jangan bilang klo lue kangen ma dia...”
’’Kangen.... yang bener ja... noh... si Nad tu yang kangen...” elak Nanda.
Hampir tersedak, Nad menggeleng namun terlihat wajahnya mulai memerah.
”Ngaku ja deh Nad... kamu khan sering banget bengong 3 hari ini.... gara-gara kangen khan.....” Nanda mulai menggoda sahabatnya itu. Ron tersenyum melihat 2 gadis itu.
Nad menggeleng makin keras mencoba meyakinkan keduanya. Namun matanya terbelak dan spontan langsung berdiri begitu melihat sosok yang sangat dikenalnya, berjaln dengan orang yang tidak pernah dilihatnya. Heran melihat temannya itu tiba-tiba berdiri, Nanda melihat kearah tatapan Nad.
”Arjuna... ” gumamnya pelan.
”Hah....” Ron yang sedang asik dengan ayamnya terkejut dan ikut melihat kearah yang mereka lihat.
”Hufff... see, i’m right then...” gumamnya, namun cukup jelas untuk bisa didengar Nanda.
”Jadi lue tahu siapa dia....” tanya Nanda, lebih terdengar mengancam.
“Dunno...”
“Lue masih bilang nggak tau... udah jelas-jelas lue bilang....” Nanda tidak meneruskan perkataannya karen tangan Nad menyentuh bahunya. Nad menganggukkan kepala, isyarat dia tidak apa-apa.
Keduanya terdiam, dan tidak menyebut lagi masalah ini.

”Itu Suzie... yang sempat aku tanyakan beberapa hari yang lalu....” Ron mengantarkannya pulang dan mampir untuk sekadar duduk dan menikmati segelas jus jeruk.
Sedikit paksaan Nad tersenyum, mencoba tidak mengeluarkab sakit yang entah datang dari mana di balik tubuhnya.
”Aku tak tahu detailnya, yang jelas beberapa hari yang lalu dia datang, saat kami latih tanding dan setelah itu... Aku jarang melihat Arjuna lagi...”
’kenapa kamu cerita kalau tidak tahu... lagi pula itu bukan urusanku... Arjuna punya kehidupan lain selain aku khan....’ tulis Nad.
”Yah kau benar,... hanya memastikan kau tidak..... terluka” kata terakhir yang diucapkan Ron terdengat sangat pelan seolah sebenarnya tidak ingin diucapkannya. Nad menjawa dengan gelengan kepala.

Ini pertama kalinya dia datang kerumah ini tanpa ditemani Arjuna, sebelumnya dia menyempatkan diri menengok makam angel beberapa blok dari sini.
”Wah Nad... sudah lama nggak ketemu.... tante kangen lho...” seperti biasanya sambutan orang rumah ini sangat membuat hatinya hangat. Om pun tersenyum melihat kedatangannya dan dengan sinar dimatanya lelaki paruh baya itu mempersilahkannya untuk duduk di sebelahnya di meja makan.
”Arjuna... cepat turun.... Nadia sudah datang ini....” dengan suara cempreng namun tidak bisa dibilang jelek, tante memanggil anak tirinya itu.
”Wah... wah... jangan-jangan kau sudah lupa dengan kami ya....” seru Om tetap dengan senyumnya.
Nad menggeleng cepat, kemudian menulis,
’Maaf Om... Tante... Nad belakangan sibuk... Nad juga baru tahu kalo Om dan Tante sudah pulang...’
”Lho... memangnya Arjuna belum cerita...” tanya Tante heran, Nad menjawab dengan gelengan pelan.
”Pagi.... ” Arjuna turun dari kamarnya, lengkap dengan jaketnya.
”Mau kemana ?”
”Ngantar suzie ke dokter...”
”Ohhh.... nanti siang ajak dia kemari ya... kita makan bersama, mumpung Nad ada disini....” pinta tante
Sekilas Arjuna melirik Nad, tepat saat Nad memandangnya dan kedua mata mereka bertemu. Sejenak jantung Nad berhenti berdetak, ada sesuatu yang lain dari mata itu, entah apa....
”Assalamualaikum....” Arjuna pamit dan tak lama bunyi motornya menderu.
”Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang sambil menunggu datangnya makan siang...?” tanya Om dengan senyum penuh arti. Nad membalasnya dengan senyum yang sama.
Dia menyadarinya bahkan saat gadis manis itu datang dengan tangan mengenggam erat jemari Arjuna. Entah kenapa seperti terdengar suara tangisan dari hatinya.
Makan siangnya berjalan sangat lancar, terdengar tawa dari semuanya. Namun tidak terdengar suara apapun dari mulut Nad, tentu saja itu karena keterbatasannya, namun entah kenapa ada sesuatu yang hilang dari diri Nad. Dan melhat senyum Arjuna yang jarang sekali dilihatnya, dia tahu persis apa yang hilang dari dirinya.
’Saatnya pamit’ pikirnya dalam hati.
”Nad bagaimana kalau kamu tidur disini malam ini... suzie juga berencana menginap khan...” Tante menawarkan, dan Nad tahu dia harus menolaknya. Nad menggeleng dengan mimik muka yang dibuatnya, dia berusaha meyakinkan Om dan Tantenya itu untuk membiarkannya pulang.
”Oh baiklah... Arjuna antarkan Nad....” Arjun terdiam sejenak, hanya beberapa detik sebelum dia mengambil kunci dan jaketnya, tapi Nad telah menyadarinya, Arjuna tidak ingin mengantarnya malam ini.
sekali lagi dia menggeleng dan menulis di memonya, dia akan baik-baik saja dan telah memesan taksi untuk pulag.
”Nad... ” nada protes terdengar dari tante begitu juga gelengan kepala Om, tapi bunyi klakson mobil telah menyelamatkannya. Itu taksi untuknya pulang.


Sakit... itulah yang dirasakan Nadia saat ini, tak terlihat secra fisik, namun bagian lain dari dirinya, yang hanya bisa dirasakannya, menjerit dan terus menangis. Dan Nadia sadar sekali, jeritan dan tangisan itu akan terus bertambah saat kedua matanya menatap wajah Arjuna.
”Hei... jangan murung gitu donk... aku khan jadi nggak enak ngeliatnya...” suara Nanda menembus benakku, hanya dengan senyum lemah aku membalas, aku mencoba untuk tidak melihat matanya.
”Sepertinya kamu benar-benar perlu hiburan....” ujarnya, dalam diam dia menekan beberapa tombol di hapenya kemudian meletakkannya di meja.
”Hey... kejutan nie, seorang Nanda menelponku... da pa? Kamu mw daftar jadi cewekku juga...” suara itu berasal dari hadphone milik Nanda, sekilas Nadia melihat nama REY di layarnya.
”Hah... jangan mimpi ya... sampai kiamat pun tidak akan pernah terjadi...” dengan kesal Nanda menjawab.
”Dengerin baik2...” serunya menyela sebelum Rey bisa menjawa lagi ucapannya barusan, ”di depan gue sekarang ada cewek yang seminggu ini wajahnya terus ditekuk, dan secara nggak langsung itu merubah mood gue... lue punya ide g....?”
”kalian dimana sekarang ?” tanya balik
”di kafetaria kampus...” Nanda menjawab sambil melirik sahabatnya yang masih diam tak bergeming sambil menatap es kelapa yang tak berkurang satu tetes pun isinya.
”Oke, gue kesana sekarang...”
”Ngapain...”
”ada deh...” berikutnya yang terdengar keluar dari 6600 Nanda adalah bunyi beep panjang.
”Aku harap idenya bukan ide gila.... ” gumam Nanda, sedikit menyesal, kenapa dia harus minta bantuan orang itu tadi.
”Nad.... lue beneran jatuh hati sama cowok itu...” pertanyaan yang sama sekali tidak disangka oleh Nadia akan keluar dari mulut Nanda.
Kali ini jawabannya tidak hanya senyum, dia juga mengangkat kedua bahunya. Tangannya juga menulis di memonya.
’entahlah.. saat aku hanya merasa ada sesuatu yang kurang dari diriku...’
”Huh.... kasian banget sih lue....” keduanya kembali terdiam
”Halooo.... sore Nad... udah enakan khan...” tiba2 Rey muncul seperti biasa dengan wajah sok polosnya.
”Ngapain lue kesini....?” tanya Nanda
”Lho... tadi katanya disuruh hibur Nad...”
”Lue mw ngapain sekarang...”’
”Nggak ngapa-ngapain.... liat aku ja Nad pasti seneng, iya khan Nad...”
”Sudah kuduga aku salah orang..” gerutu nanda
”Apa maksudmu...”
”Yah, seharusnya memang aku atasi sendiri...” lanjutnya tanpa menghiraukan Rey
”Kamu tuh kenapa sie... selalu aja sinis ama aku, emang guaku pernah punya salah apa sih sama kamu...”
”Banyak”
”Apa contohnya...”
tiba-tiba Nad tersenyum dan kemudian tertawa kecil, entah kenapa kalau berada diantara mereka berdua, Nadia selalu merasa senang.
”Tuh khan bener...” Rey merasa menang sekarang. Dan Nanda hanya mendengus kesal


Suasana hujan masih sangat terasa walaupun tetes-tetes airnya sudah tidak turun dari langit, namun sisa-sisanya di daratan menimbulkan reaksi dan memunculkan bau khas yang hanya tercipta oleh keduanya. Sambil memperhatikan langkahnya di jalan setapak yang licin penuh lumpur, Nad mengeluarkan kelopak bunga-bunga mawar yang sengaja dibawanya dari rumah.
Bersimpun di depan pusara orang yang pernah mengisi hidupnya dan memberinya kenangan yang tak terlupakan, tiba-tiba membuat air mata Nad keluar. Dengan tangannya dia membersihkan nisan yang bertuliskan angel itu, dengan senyumnya dia berusaha menghapus airmata dan tentusaja kesedihannya. Dalam hati dia mengucapkan ayat-ayat tahlil, mencoba memberikan doa, upaya terakhir yang bisa dilakukannya saat ini. tepat setelah ayat terakhir dilafadzkannya dia merasa ada orang lain dibelakangnya.
Deg... dadanya kembali berdetak dengan kencang melihat kedua orang itu berdiri tepat dibelakangnya.
”Kebetulan sekali Nadia,.. ” dengan senyum manisnya Suzie menyapanya, dan tentu saja jemari tangan kanannya menggenggam erat namun hangat jemari Arjuna. Nadia membalas dengan senyum, senyum terbaik yang bisa dihasilkannya dalam kepura-puraan. Dan perlahan dia bangkit, memberikan luang lebih lebar kepada mereka berdua untuk mendekati pusara angel.
”Kamu sudah mau pulang Nad...” tanya Suzie, sementara Arjuna mengulangi apa yang dilakukan Nadia tadi, membersihkan nisan adik tercintanya.
Nadia menjawab dengan anggukan dan anggukan kedua ditambahnya denga senyum pamit, dia harus segera pergi dari tempat itu sebelum airmata kembali membanjiri wajahnya.
Dengan langkah pelan namun berusaha melebarkan kedua kakinya, dia meningglkan komplek pemakaman itu. Benaknya kembali melayang pada memori beberapa hari yang lalu

”1000 harinya Angel minggu depan khan” suara Arjuna ””aku akan menjemputmu dan kita berangkat kesana bersama, Angel pasti senang kalau kita kesana bersama....”

Sekali lagi, hujan deras mengguyur, membasahi wajah mendung Nadia dalam perjalanan pulangnya.


Nadia kebagian jaga malam hari ini, karenanya dia buru-buru. Motor milik Nanda yang sengaja dipinjamnya hari ini terparkir di lapangan belakang itu artinya hampir setengah kilo meter dari ruang kuliahnya. Dengan langkah cepat sementara kedua tangannya sibuk mengobok-obok tasnya mencari kunci motor Nanda.
”Gue nggak pernah ngangep Nad lebih dari pada seorang adik, buat gue dia pengganti angel....” suara lantang Arjuna tertangkap oleh telinganya, spontan kepala dan kedua matanya mencari asal suara tersebut. Di balik tembok tempatnya berdiri sekarang, Arjuna dan Rey sedang duduk dan tentu saja membelakanginya.
”dan Suzie...”
”Dia beda... sejak dulu gue nggak pernah bisa melepas perhatian darinya,..”
”Dengan kata lain, lue jatuh cinta...”
Diam sejenak, Arjuna tidak langsung menjawab.
”Gue nggak pernah bisa nemuin orang yang bisa ngantiin tempat suzie dihati gue...”
Seperti tersambar geledek dunia Nadia sekarang, dengan serpihan terakhir yang dimilikinya, Nadia berusaha menggerakkan kakinya, dia harus menjauh sejauh mungkin dari tempat itu, dia tidak mungkin bisa mendengar pembicaraan mereka lebih lama lagi. Airmata kembali membayangi kedua matanya, namun dengan beberapa kedipan dia mencoba menghapusnya. Dia menyadari hal itu sejak lama, dan seharusnya dia sudah menduga kata-kata itu akan keluar dari mulut Arjuna. Kebodohannyalah yang membuatnya bersedih sekarang, dan sekarang dia harus menghapus semua dan mengembalikan keadaan ini seperti semula, seperti yang sudah seharusnya terjadi.

”Nad... kamu yakin mau ikut kuliah... ”seru Nanda tidak tega melihat mata sahabatnya yang sudah mirip bahkan mungkin tidak bisa dibedakan lagi dengan panda. Nadia mengangguk namun kepalanya masih tidak bisa diangkat dari meja. Kedua matanyapun terasa sangat amat berat sekali untuk dibuka.
”Haloo cewek-cewek....” sura Rey membuyarkan suasana.
”Nadia kenapa... ?” tanya Rey mengambil tempat duduk disebelah Nad, sementara Arjuna hanya berdiri.
”Dia begadang 2 malam, jaga kafe....” Nanda menjawab singkat.
”Kuantar pulang...” khas Arjuna, berbicara seperlunya. Perlahan Nad mengangkat kepalanya dan meraih memonya.
’Yang benar saja, hari ini ada Quiz dan klo aq g masuk percuma aku kuliah 1 semester ini’ digenggamkan memo itu langsung ditangan Arjuna lalu dia kembal menaruh kepalanya di meja dan memejamkan kedua matanya.
”Lihat wajahmu sekarang...” ada sedikit nada cemas dan marah dari suara Arjuna.
Sambil menghela napas, Nadia kembali menulis
’tenang saja, begitu quiznya selesai aku langsung pulang..., (PS kau ini benar-benar seperti kakakku)’ kali ini memo itu tidak digenggamkan ke tangan Arjuna, namun ditempelkan di kepala Arjuna. Dengan senyum Nadia meninggalkan mereka, tak lupa dia juga melampaikan tangannya, Nanda mengikutinya dari belakang.
’Inilah yang seharusnya terjadi.....’ pikirnya, senyum samar terlukis di wajah Nad.
”Kamu yakin...” Nanda yang menangkap senyum itu mencoba membaca pikiran Nadia.
Anggukan kepala mantap dan senyum, sudah lebih dari cukup bagi Nadia untuk menjawab pertanyaan tersebut.

...ku (ch 1)

SUARAKU…..

“Eh lihat, itu anak barunya”
“yang bisu itu ya”
“bisu kok bisa masuk sini”
”tau tuh, ini khan sekolah favorit”
”kenapa nggak masuk SLB aja sih”
Bisikan-bisikan itu yang mengiringiku sejak pintu gerbang tadi. Walaupun sudah berusaha tapi tetap saja telingaku panas.
Bruk..., sesosok tubuh menabrakku, sekilas aku melihat seraut mimik kesepian dari matanya, tapi kemudian
”Eh, nggak punya mata, kalo jalan liat-liat donk” serentetan cacian dilemparkannya. Ingin sekali rasanya aku membalas makian itu, tapi.... Astaghfirullah apa yang kupikirkan. Berbagai asma Allah ku dengungkan, menghlangkan perasaan kesalku, perlahan aku bangkit sementara pemilim tubuh itu menatapku tajam seolah-olah aku mangsanya.
”Nggak punya mulut, ato jangan-jangan kamu bisu” semakin banyak lagi asma Allah yang kuserukan di hati ini.
”Dia emang bisu kok, makanya nggak bisa jawab” datang lagi serombongan orang yang memojokkanku.
Ya Allah berikanlah kesabaran pada hambamu ini, seruku dalam kalbu. Mereka semua mendekatiku tapi terhenti ketika seorang guru menyapaku,
”Kamu Nadine khan ?” Aku hanya mengangguk sambil mengucap syukur kepada Penciptaku.
”Ayo ikut bapak !!” segera kubereskan buku-bukuku yang berserakan dan mengikuti bapak itu.
”Tidak usah menghiraukan mereka, memang mereka selalu begitu...” seru Bapak yang bernama Agung itu, aku tahu dari buku yang dibawanya, ”Kamu masuk kelas ini dan Bapak adalah wali kelasmu, jadi kalau ada apa-apa katakan saja pada bapak” tambah beliau, beliau terlihat sudah begitu tua namun masih cukup segar dari wajahnya yang bersinar.
Kami berhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan ’Kelas 1-7’, terdengar celotehan beberapa anak dari dalamnya.
”Baiklah kamu masuk dulu, Bapak ke ruang guru sebentar” aku tersenyum pada beliau sebagai pengganti rasa terima kasih yang dibalas dengan senyuman ramah.
Begitu langkah kakiku memasuki ruangan kelas, celotehan yang tadi terdengar sampai keluar berubah menjadi bisikan sinis, aku memilih tempat duduk paling depan, dekat meja guru.
”Hai.. kamu anak baru ya...” sapa seorang gadis berkepang dengan senyuman yang manis, aku mengangguk kepala sambil menjabat tangannya yang telah diulurkan terlebih dahulu.
”Aku Rachel... namamu...” aku menuliskan namaku diatas memo yang selalu kubawa, kemudian memberikan kepadanya.
”Nadine... namamu bagus, tapi terlalu panjang, ehm... balehkan aku memnggilmu Nad saja....” tanyanya sopandan senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya. Aku menggangguk sekali lagi, senang rasanya mempunyai seorang teman yang tulus kepadaku.
”Kamu pasti pinter banget deh... sori yach... walaupun kamu tidak bisa bicara kamu bisa masuk sini dengan mudah, aku saja harus merayu ayahku dulu..” dia mulai bercerita tentang dirinya dan kelihatannya dia senang ’ngobrol’ denganku walaupun terkadang pertanyaannya tidak bisa langsung kujawab.


”Nad....Nad....Nad.... tungguin donk” Rachel berlari ke arahku. ”Aku mau cerita sesuatu ma kamu, jadi jangan pulang dulu ya...” ucapnya sambil melihat sekeliling. ”nanti aku cerita’in, tap aku mau ngenalin kamu dulu ma seseorang..” aku hanya bisa mengangkat bahu, menurutinya. Dan sekarang hampir setengah jam aku duduk sendirian, Rachel belum juga terliat.
”sorry Nad, kelamaan unggu ya...” Rachel menepuk pundakku dari belakang, aku tersenyum menanggapinya.
”kenalin Nad, ni Una... ” aku menawarkan tanganku tapi dia hanya meliriknya saja, lirikan sinis.
”Una’ kok gitu sich...” Rachel benar-benar marah, terlihat dari wajahnya yang memerah. Tidak ingin memperburuk suasana, aku memegang lengan Rachel sembari menggeleng.
”napain sih lue... kenalin gue ma orang bisu...”
”Na’... aku ngenalin kamu ke Nad biar bisa bantuin kamu...”
”gimana dia bisa ngebantu’in gue klo dia sendiri bisu...”
Astaghfirullah... aku hanya bisa menyebut asma-Nya, mendengar makian dari cowok itu. Ini bukan pertama kalinya dia mengumpat dan mengejekku.
”ya udah, terserah kamu... aku cuma pengen bangebantu... tapi klo sikap kamu kayak gini... sia-sia...” Akhirnya Rachel menyerah, dia mngajakku pergi tanpa menghiraukan cowok itu.

”Dia itu kakakku, Arjuna....” Rachel menjelaskan semuanya kepadaku, ”orang tua kami bercerai... kakakku ikut ayah, dan aku ikut ibu...”, dia menceritaka semuanya sambil sesekai mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
”Kakakku nggak pernah diperhatiin ma ayah, sehingga dia lari ke obat-obatan, sudah 2 kali nyawanya hampir melayang karena overdosis. Aku sudah beberapa kali mencoba menyadarkannya, tapi... sampai akhirnya ibuk meninggal. Belakangan dia mulai mencoba belajar agama tapi diantara kami tidak ada yang bisa dijadikan guru, Ayah terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya... sedangkan aku, ilmuku pas-pasan aku takut kalau salah...”
Aku mendengar semua ucapan Rachel sambil berpikir, pantas rasanya aku pernah mengenali wajah arjuna, banyak persamaan diantara keduanya, hidung, rahang, tulang pipi, mulutnya mungkin lesung pipitnya juga. Tapi yang paling berkesan di benakku dan mungkin satu-satunya perbedaannya dengan adikkanya adalah matanya.
”Nad... kamu mau membantuku khan...” Rachel mengiba, kali ini bukan senyum yang diberikannya tapi mata memohon. Aku tersenyum sambil mengiyakannya, tanganku menunjuknya dan kemudian aku tersehyum lagi. Rachel mengerti maksudku.
”tentu saja aku ikut, kita akan belajar bersama....” sekali lagi senyumnya mengembang.

Aku mencari wajah itu, seharian ini aku belum melihat senyumnya, arjuna lewat di depanku tetap saja sengan nada kesepiannya tapi ada yang berbeda. Sepertinya... aku menjegatnya dan kelihatan sekali dia enggan meladeniku.
”apa sih gue sibuk....” aku memberinya isyarat ’dimana rachel’.
”Ngapain si lue..” serunya tidak sabar melihat bahasa tubuhku. Segera saja aku menuliskan nama rachel di memoku dan memebrikan kepadanya.
Dia melihat tulisanku dan segera saja mimik wajahnya berubah.
”gue nggak tau... dan jangan pernah ganggu aku lagi...” bentaknyakasar sambil meremas memo itu dan membuangnya.
Dasar ndak tau aturan, ngapain juga aku tadi nanya dia.... sesalku. Tapi dimana Rachel, tidak biasanya dia bolos sekolah setidaknya selama aku mengenalnya.
”Jadi Arjuna itu kakaknya Rachel ya.. pantes Arjuna kelabakan kayak gitu, aku pikir mereka pacaran...”
”eh tapi, kasian juga ya si Rachel, ibunya baru saja meninggal papanya mau nikah lagi dan sekarang mesti dioperasi pula...”
Sekelompok anak lewat di depanku mereka membicarakan Rachel, operasi... sejak kapan? Kenapa dia tidak pernah cerita ?.... Aku harus pergi, tapi kemana? Mereka tidak mengatakannya tadi. Nggak mungkin aku menjelajahi seluruh rumah sakit di Surabaya. Tanya mereka /... tapi apa mereka mau menggubrisku, melirik saja mereka tidak mau.
Ah .... aku pergi ke rumahnya saja, orang rumahnya pasti tau. Aku membongkar isi tasku dan mencari alamat Rachel. Ketemu... sekarang aku harus cepat, hampir berlari aku menuju gerbang sekolah tapi....
”Kamu mau ke tempat Rachel khan....“ Arjuna mencegatku tepat di depan gerbang sekolah, hampir saja aku terjatuh karena kaget. Ngimpi apa ni anak, jadi baik gini... pikirku heran.
’’Cepet... mau ikut nggak ?“ sikap arogannya tidak berubah ternyata, Tanpa ba..bi...bu... lagi begitu tulang dudukku menyentuh jok motornya dia melaju sekencang-kencangya menantang jalanan. Duh... nie anak, ngak bisa pelan-pelan dikit napa... pikirku lagi. Kira-kira ada angin apa ya... sampe dia mw nyaperin aku bahkan ngasih tumpangan... semoga bukan hal buruk yang terjadi...tiba-tiba saja firasat buruk menyergap benakku.
Dia menurunkakku tepan di depan RSI sedangkan dia sendiri pergi mencari temapt parkir. Sudah sangat lama aku tak pernah menjejakkan kakiku disini, namun ternyata masih ada yang mengenaliku. Dengan sentyum khasnya Pak Satpam--yang dulu sering kuajak bermain petak umpet---menyapaku, mungkin dia akan banyak bertanya kalo Arjuna tidak buru-buru menepuk pundakku dan dengan isyarat satu tangan dia menyuruhku mengikutinya.
”kamar 302, lantai 3..” ucapnya begitu melewatiku. Sambil berjalan aku menatap mengelilingi lorong-lorong dan ruangan yang kulewati. Mencoba mencari perbedaannya dengan memoriku beberapa tahun yang lalu, namun hampir tak ada perubahan yang berarti seingatku.
”Kalian terlambat...” ucapan itu yang menyambut kami setibanya di kamar Rachel. Aku mencari-cari sosok manis teman baruku itu di sebelah seorang laki-laki paruh baya—yang aku kira ayahnya. Tak terlihat lagi lesung pipit miliknya, juga mata ceria yang mempesonaku, yang ada di depanku sekarang hanya sosok seorang gadis tak bernyawa dengan kain putih menyelubunginya. Dengan tubuh gemetaran Arjuna menutup sisa tubuh adiknya dengan kain tersebut, samar aku melihat air mata di wajahnya.

Satu minggu sudah berlalu sejak kepergian Rachel, walaupun baru 3 bulan sejak aku mengenalnya naun aku sangat terpukul dengan kepergiannya. Terlebih lagi kejadian tersebut membuat luka yang hampir sembuh dihatiku, perlahan terbuka. Tapi yang paling mungkin menanngun beban terberat adalah Arjuna. Matanya terlihat semakin dingin... jauh lebih dingin dari awal aku mengenalnya, sepertinya kesepian di hatinya sudah mencapai puncaknya.
Panjang umur juga dia... baru saja aku memikirkannya, dia melintas didepanku. Entah kenapa tiba-tiba aku bangit dan perlahan menikutinya. Langkahnya pelan namun dengan pasti seolah tahu kemana tujuannya, aku mengikutinya. Sempat dia menoleh ke arahku, tapi tanpa bertanya dia membiarkanku mengikutinya, bahkan dia memberikan helmnya kepadaku dan tumpangan di jok belakang motornya. Aku tahu pasti kemana tujuan kami, tempat peristirahatan terakhir orang yang—kebetulan—kami sayangi.

Tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit adalah hal pertama bagiku, lebih lagi dengan adanya Arjuna disampingku. Dia membawaku kemari, dari mimik mukanya dia terlihat ingin mengatakan sesuatu.
”Rachel bercerita banyak sekali tentangmu, dan ini baru pertama kalinya sejak dia bisa bicara....” ucapnya pelan, begitu pelannya seperti desir angin.
”Dia juga berpesan padaku... kalau sampai terjadi sesuatu dengannya... Aku harus tetap menjadi temanmu...” baru kali ini aku mendengar Arjuna berbicara banyak walau terpatah-patah. Desir angin membuat dedaunan sekitar kami ikut berbicara, tapi keheningan diantara kami membuat semuanya seakan berhenti.
Aku memandangnya, wajah itu masih sama, tetap dalam kekakuannya dan kesendiriannya, bahkan sekarang lebih terasa. Tanpa sadar aku bersenandung sambil menatap bintang yang seolah berubah menjadi senyum Rachel, senyum yang tidak akan pernah hilang dari benakku.
”Rachel juga bilang, kalau sebenarnya kamu tidak bisu.... hanya... tidak ingin bicara...” ucapnya pelan lebih seperti bicara pada dirinya sendiri. Entah kenapa kali ini tidak sedikitpun terbersit rasa kesal atau marah karena kata bisu yang dikeluarkannya, bahkan yang kurasakan saat ini hanyalah kelegaan, tak tahu karena apa. Aku teringat salah satu kalimat favoritku, ”ada terlalu banyak rahasia dalam kehidupan ini dan sebaiknya hal itu tetap menjadi rahasia”.

Senin, 05 April 2010

PENGGUNAAN HCT (HIDROKLOROTIAZIC) PADA PENDERITA GERIATRI DENGAN HIPERTENSI

MAKALAH ILMIAH FARMASI

PENGGUNAAN HCT (HIDROKLOROTIAZIC) PADA PENDERITA GERIATRI DENGAN HIPERTENSI










Mahardian Pahlefi 010516634
Sarah Meryska A 010516635
Thiwit Nuruh Huda 010516636
Nanda Fadhilah Witris Salamy 010516637



LABORATORIUM ILMU FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
OKTOBER 2009







BAB I
PENDAHULUAN

Jumlah lansia semakin lama semakin banyak. Di Indonesia saja, di tahun 2007 sudah ada 5.65% populasi penduduk yang berusia 65 tahun ke atas (Depkes RI, 2009 Walaupun peningkatan tekanan darah bukan merupakan bagian normal dari ketuaan, insiden hipertensi pada lanjut usia adalah tinggi. Setelah umur 69 tahun, prevalensi hipertensi meningkat sampai 50%.Menurut JNC (Joint National Committee) VII yang berlaku 2003, hipertensi ditemukan sebanyak 60-70% pada populasi berusia di atas 65 tahun.

Baik TDS maupun TDD meningkat sesuai dengan meningkatnya umur. TDS meningkat secara progresif sampai umur 70-80 tahun, sedangkan TDD meningkat sampai umur 50-60 tahun dan kemudian cenderung menetap atau sedikit menurun. Kombinasi perubahan ini sangat mungkin mencerminkan adanya pengakuan pembuluh darah`dan penurunan kelenturan (compliance) arteri dan ini mengakibatkan peningkat tekanan nadi sesuai dengan umur.

Ada beberapa faktor yang mungkin berpengaruh pada peningkatan jumlah penderita hipertensi pada usia lanjut, diantaranya , (1) Terjadi pengerasan pembuluh darah, khususnya pembuluh nadi (arterial). Hal ini disertai pengurangan elastisitas dari otot jantung (miokard), (2) Sensitivitas baroreseptor pada pembuluh darah berkurang karena rigiditas pembuluh arteri. Akibatnya pembuluh darah tidak dapat berfluktuasi dengan segera sesuai dengan perubahan curah jantung, (3) Selain itu fungsi ginjal juga sudah menurun. Ginjal dalam keadaan normal juga berperan pada pengaturan tekanan darah, yaitu lewat sistem renin-angiotensin-aldosteron. Jika tekanan darah sistemik turun, ginjal menghasilkan renin lebih banyak untuk mengubah angiotensinogen (angiotensin I) menjadi angiotensin II, zat yang dapat menimbulkan vasokonstriksi pada pembuluh darah. Akibatnya tekanan darah akan meningkat. Selain beberapa faktor diatas, belakangan juga diketahui bahwa Resistensi Na akibat peningkatan asupan dan penurunan sekresi juga berperan dalam terjadinya hipertensi. Walaupun ditemukan penurunan renin plasma dan respons renin terhadap asupan garam, sistem renin-angiotensin tidak mempunyai peranan utama pada hipertensi pada lanjut usia.

Oleh karena itu penatalaksanaan hipertensi pada lanjut usia, terutama dalam bidang medikamentosa yang umum digunakan adalah diuretic, dengan prinsip dosis awal yang kecil dan ditingkatkan secara perlahan. Dengan sasaran tekanan darah yang ingin dicapai adalah tekanan darah sistolik _ 140 dan diastolic _ 90 mmHg. Salah satu preparat diuretic adalah HCT atau Hiroklorotiazid yang paling banyak terdapat di puskesmas karena harganya yang murah. Sehingga dokter umum perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bahan obat tersebut. Pengetahuan terhadap farmakokinetik, farmakodinamik, efek samping dan toksisistas HC diharapkan mampu membantu dokter umum untuk memilih terapi yang sesuai untuk pasiennya dengan didasarkan pada prinsip 5 tepat.
















BAB II
FARMASI – FARMAKOLOGI

a. Sifat fisiko-kimiwi
Struktur Hidroklorotiazid :
6-Chloro-3,4-dihydro-2H-1,2,4-benzo hiadiazine-7-sulfonamide 1,1-dioxide
BM : 297,73
pKa : 7,9 – 9,2
Hidroklorotiazid mengandung tidak kurang dari 98,0% C7H8ClN3O4S2 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Sediaan : serbuk halus, putih atau praktis putih; praktis tidak berbau. Kelarutan : sukar larut dalam air (< 1 dalam 10.000), mudah larut dalam larutan natrium hidroksida, dalam n-butilamina, dan dalam dimetilfornamida; agak sukar larut dalam metanol; tidak larut dalam eter, dalam kloroform, dan dalam asam mineral encer.

b. preparat dan cara penggunaan
hydrochlorotiazid biasa diberikan lewat oral dengan sediaan tablet (25mg, 50mg, 100mg) dan sediaan cair-solusio (10mg/ml, dan 100mg/ml)

c. farmakologi umum
Farmakokinetik
Semua thiazide diabsorbsi pada pemberian secara oral, umumnya efek obat tampak setelah 1 jam. Tetapi terdapat perbedaan dalam metabolismenya. Semua thiazide disekresi oleh sistem sekretorik asam organik dan bersaing pada beberapa hal dengan sekresi uric acid oleh sistem tersebut. Sebagai hasilnya, kecepatan sekresi uric acid dapat menurun, dengan diikuti peningkatan kadar uric acid serum. Pada steady state, produksi uric acid tidak dipengaruhi oleh thhiazide. Klorothiazide didistribusikan ke seluruh ruang ekstrasel dan dapat melewati sawar uri, tetapi obat ini hanya ditimbun dalam jaringan ginjal saja. Dengan suatu proses aktif, tiazid diekskresi oleh sel tubuli proksimal ke dalam cairan tubuli. Jadi klirens ginjal obat ini besar sekali, biasanya 3-6 jam sudah diekskresikan dari badan. Klorotiazid dalam badan tidak mengalami perubahan metabolik.


Farmakodinamik
Diuretik ini bekerja menghambat simporter Na dan Cl di hulu tubulus distalis. Sistem transpor ini dalam keadaan normal berfungsi membawa Na, selanjutnya dipompakan ke luar tubulus dan ditukar melalui kanal klorida. Efek farmakodinamik tiazid yang utama ialah meningkatkan ekskresi Natrium, klorida dan sejumlah air. Efek natriuresis dan kloruresis ini disebabkan oleh penghambatan mekanisme reabsorpsi elektrolit pada hulu tubuli distal. Laju ekskresi Na maksimal yang ditimbulkan oleh tiazid jauh lebih rendah dibandingkan dengan apa yang dicapai oleh beberapa diuretik lain, hal ini disebabakan 905 Na dalam cairan filtrat telah direabsorbsi lebih dulu sebelum mencapai tempat kerja tiazid.

Derivat tiazid memperlihatkan efek penghambatan karbonik anhidrasedengan ptensi yang berbeda-beda. Zat yang aktif sebagai pengahmbat karbonik anhidrase, dalam dosis yang mencukupi, memperlihatkan efek yang sama seperti asetazolamid dalam eksresi bikarbonat. Agaknya efek penghambatan karbonik anhidrase ini tidak berarti secara klinis. Efek penghambatan enzim karbonik anhidrase diluar ginjal praktis tidak terlihat karena tiazid tidak ditimbun di sel lain.

Pada pasien hipertensi, tiazid menurunkan tekanan darah bukan saja karena efek diuretiknya tetap juga karena efek langsung terhadap arteriol sehingga terjadi vasodilatasi.



Interaksi obat
Pengunaan indometayid dan NSAID lain dapat mengurangi efek diuretic tiazid karena kedua obat ini menghambat sìntesìs prostaglandin vasodilator di ginjal sehingga menurunkan aliran darah ginjal dan laju filtrasì glomerulus. Probenezid menghambat sekresì tiazid ke dalam lumden tubulus, sehingga efektivitas tiazid berkurang. Penggunaan obat-obat anti aritmia dan digitalis juga dapat meningkatkan risiko hipokalemia pada penderita dgn pengobatan tiazide.
























BAB III
TOKSISITAS

Efek samping tiazid berkaitan dg kadar plasma. Obat ini mulai digunakan sejak tahun 1950 dg dosìs 200 mg/h. dg tujuan untuk mendapat efek diuresìs. Akibatnya, doßìß tinhi ini menimbulkan berbagai efek samping. Uji klinik yg lebih br membuktikan bahwa dosìß yg lebih rendah yaitu 12,j-aj mg HCT kebih efektìf menurunkan tekanan darah dan mengurangi risìko kardiovaskuler. Efek ramping penggunbn diuretik tiazid adalah sebagai berikut.

Gangguan elektrolit, meliputi hipokalemia, hipovolemia, hiponatremia, hipokloremia, hipomagnesemia. Hipokalemia mempermudah terjadinya aritmia terutama pada pasien yang mendapat digitalis atau antiaritmia lain. Pemberian diuretik pada pasien sirosis dengan asites perlu dilakukan dgn hati-hati, gangguan pembentukan ion H menyebabkan amoniak tdk dpt diubah menjadi ion amonium dan memasuki darah, ini merupakan sakah satu faktor penyebab terjadinya depresi mental dan koma pada pasien sirosis hepatis.

Hiperkalsemia, tendensi hiperkalsemia pada pemberian tiazid jangka panjang merupakan efek samping yang menguntungkan terutama untuk orang tua dengan risiko osteoporosis, karena dpt mengurangi risiko fraktur.

Hiperurisemia, diuretik thazid dapat meningkatkan kadar asam urat darah karena efeknya menghambat sekresi dan meningkatkan reabsorbsi asam urat. Efek samping ini perlu menjadi perhatian pada pasien artritis gout karena dapat mencetuskan serangan gout akut.

Tiazid menurunkan toleransi glukosa dan mengurangi efektivitas obat hipoglikemik oral. Ada 3 faktor yang menyebabkan hal ini dan telah dapat dibuktikan pada tikus yaitu kurangnya sekresi insulin terhadap peninggian kadar glukosa plasma, meningkatnya glikogenolisis, dan berkurangnya glikogenesis. Penyelidikan klinis menunjukkan bahwa deplesi ion K ikut memegang peranan dalam hal menurunnya toleransì glukosa ini, mungkin sekali melalui penghambatan konversì insulin menjadi insulìn.

Tiazid dapat menyebabkan peningkatan kolesterol dan trigliserida plasma dgn mekanìsme yang tdk diketahui.

Gangguan fungsì seksual kadang-kadang dpt terjadì akibat pemakaian diuretic. Mekanìsme efek sampìng ini tdk diketahui dgn jelas.






















BAB IV
PEMBAHASAN

Prevalensi hipertensi pada lanjut usia lebih tinggi dibanding dengan penderita yang lebih muda. Sebagian besar merupakan hipertensi primer dan hipertensi sistolik terisolasi. Diagnosis hipertensi sama dengan orang pada umumnya seperti yang dianjurkan oleh JNC VI dan WHO. Mekanisme hipertensi pada lanjut usia belum sepenuhnya diketahui. Hal yang penting mungkin karena adanya pengakuan pembuluh darah arteri, disamping faktor lainnya seperti penurunan sensitivitas baroreseptor maupun adanya retensi natrium.

Penatalaksanaan hipertensi pada lanjut usia, pada prinsipnya tidak berbeda dengan hipertensi pada umumnya; yaitu terdiri dari modifikasi pola hidup dan bila diperlukan dilanjutkan dengan pemberian obat-obat antihipertensi. Obat yang umum digunakan adalah diuretic dengan prinsip dosis awal yang kecil dan ditingkatkan secara perlahan dengan sasaran tekanan darah yang ingin dicapai adalah tekanan darah sistolik kurang dari/sama dengan 140 dan diastolic kurang dari / sama dengan 90 mmHg. Salah satu preparat diuretik yang banyak ditemukan adalah HCT.

Diuretik jenis ini bekerja menghambat simporter Na dan Cl di hulu tubulus distalis. Sistem transpor ini dalam keadaan normal berfungsi membawa Na, selanjutnya dipompakan ke luar tubulus dan ditukar melalui kanal klorida. Efek farmakodinamik tiazid yang utama ialah meningkatkan ekskresi Natrium, klorida dan sejumlah air. Efek natriuresis dan kloruresis ini disebabkan oleh penghambatan mekanisme reabsorpsi elektrolit pada hulu tubuli distal.

Memang banyak efek samping yang ditemukan pada penggunaan seperti, hipokalemi, hiperkalsemia, hiperurisemia. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian sumplemen K atau pada kasus hipertensi pada penderita usia lanjutbisa dikombinasikan dengan obat anti hipertensi lainnya seperti golongan ACE inhibitor.

Penggunaan obat-obatan lain juga perlu diwaspadai karena interaksinya dengan HCT, seperti penggunaan NSAID, obat-obatan anti aritmia dan dìgitalis. Penggunaan NSAID dapat mengurangi efek diuretik, sebaliknya digitalis dapat meningkatkan risiko terjadinya hipokalemia.
























BAB V
RINGKASAN DAN KESIMPULAN

HCT merupakan salah satu preparat dari golongan Diuretik yang bisa digunakan untuk terapi medikamentosa pada penderita usia lanjut dengan hipertensi. Penggunaannya yang luas di masyarakat menuntut dokter umum untuk mengetahui farmakodinamik, farmakokinetik, efek samping dan toksisitas obat ini. Sehingga dokter umum mampu memilih HCT sebagai medikamentosa pada pasien bila diperlukan secara tepat.

SUMMARY
HCT is one of diuretic used for medicinal terapeutic in geriatic with hypertension. The wide using of HCT makes the physician to know the pharmacodynamics, pharmacokinetic, averse effect and toxicity of HCT. So, the physician can choose the right therapy for patient according to the rule of 5 rights.

















DAFTAR PUSTAKA

1. Tjokroprawiro, Askandar. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya. 2000. Rumah Sakit Pendidikan Dr. Soetomo.
2. Gan Gunawan, Sulistia. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta. 2007. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
3. Katzung, Bertram G. Farmakologi : Dasar dan Klinik Edisi Pertama. Jakarta. 2001. Salemba Medika.
4. Kuswardhani, RA Tuty. Penatalaksanaan Hipertensi pada Usia Lanjut. Denpasar. 2006. Jurnal Penyakit Dalam vol. 7 No 6. RSUD Sanglah, Denpasar.
5. Kaplan, NM. Hypertension in the elderly. London. 1999. Martin Dunitz;.
6. National Institute of Health (2003). JNC 7 Express: The 7th Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure.