ARJUNAKU.....
Awan-awan putih bergelantungan hari itu, mengiringi senyuman hangat sang mentari. Tepat di bawah arakan awan-awan, di sebuah taman, terlihat begitu banyak orang dengan pakaian formalnya, jas lengkap dengan dasinya dan gaun indah berwarna-warni. Ditengah sekumpulan tanaman hijau dan mahkota bunga yang berguguran berdiri sepasang manusia, yang hari itu terlihat layaknya raja dan ratu di surga ciptaan mereka, dengan gaun serba putih dan tuxedo hitam, kedua mempelai terlihat begitu sumringah seperti tak kenal lelah walaupun kedua tangan mereka menyalami tamu-tamu yang entah berapa jumlahnya.
"Dimana Arjuna?" tanya sang mempelai pria
"Entahlah, Nadia?" sang wanita menjawab dengan pertanyaan. Keduanya berpandangan, seolah-olah mempunyai pemikiran yang sama kedua tersenyum bersamaan.
"Sudahlah biarkan saja...." akhirnya sang suami pun kembali menyalami para tamu yang masih berdatangan dengan sang istri mengikutinya.
Di sisi lain taman, jauh dari keramaian manusia, terlihat seorang pemuda yang tengah tidur telentang dengan kedua lengan sebagai pengganti bantal, kedua matanya menutup. sementara beberapa langkah di depannya terlihat seorang gadis yang tengah berkacak pinggang kesal memandangi tingkah sang pemuda. Dengan sedikit berlari sambil memegangi sarung kebayanya gadis itu menghampiri si pemuda, kedua tangannya menggoyang bau si pemuda berharap dia membuka matanya.
"Da pa?" suara keluar dari mulut si pemuda tapi tetap dengan kedua mata terpejam, seperti tidak puas Si gadis tetap menggoyangkan bahu pemuda itu.
"Apaan sie... " akhirnya mata si pemuda pun terbuka bahkan dia bangkit dari tidurnya.
Dengan senyumnya, seolah lega bisa membangun pemuda tersebut, si gadis menunjuk ke arah keramaian yang mereka tinggalkan.
"Aku nggak suka keramaian..." seolah mengerti apa yang ingin dikatakan si gadis pemuda tersebut menjawab.
Wajah si gadis berubah cemberut, namun dia tidak lagi mengganggu sang pemuda malahan menikmati angin semilir yang tiba-tiba membelai wajahnya, matanya terpejam seolah ingin menghayati lebih dalam lagi bisikan angin di sekitarnya. Sang pemuda kembali meletakkan kepala di tanah yang diikuti si gadis.
"Kira-kira bagaiamana wajah angel saat ini ?" dengan suara lirih si pemuda bertanya. sesaat si gadis menolehkan kepala memandang wajah damai sang pemuda. perlahan suara si gadis keluar hanya mendendangkan beberapa nada tanpa lirik namun bagi sang pemuda suara tersebut ditambah bisikan angin yang terus menderu sudah berarti jawaban baginya.
Hampir 10 menit dia berdiri, entah sudah berapa angkot tujuannya lewat begitu saja tanpa digubrisnya. Pikirannya mekayang pada detik jam yang telah dilaluinya di halte ini. Berharap orang yang ditunggunya segera tiba, dia memutar matanya, menatap sekeliling mencari sosok yang dikenalnya. Harapnnya tak terwujud, di depannya begitu banyak orang lalu lalang, lengkap dengan berbagai kendaraan yang tersedia di kota ini, dan tak satupun yang memenuhi ciri-ciri orang yang ditunggunya.
Huffff... gadis itu menarik napas panjang, putus asa akhirnya dia melangkah pelan. Dia pasti lupa.... pikir gadis itu, seharusnya aku naik angot saja tadi.... tambahnya. Namun baru beberapa langkah dia berjalan sebuah tiger black mendekatinya dan berhenti tepat didepannya, helm hitam diberikan kepadanya oleh tangan sang pengemudi.
”Ayo... ” dia berucap
Walau kesal, namun gadis itu menerima helm tersebut dan duduk menyamping di jok belakang.
Hanya 10 menit, dia yakin akan hal itu biar tidak sedetikpun dia melihat guess miliknya. Namun gadis sangat amat yakin dia menempuh 20 km perjalanan ke sekolahnya hanya dalam waktu 10 menit. Hampir saja jantungnya berhenti berdetak begitu kakinya menginjak tanah, dengan wajah memerah menahan marah, dia memberikan—bahkan hampir melempar—helm yang dipakainya ke arah pengemudi motor gila yang memboncengnya. Tanpa menoleh lagi dia masuk ke kelasnya.
”Panas.....” mulutnya berucap tapi tangannya jauh lebih cepat, dia mengambil ice coffe kaleng yang baru saja dibeli Nad. Dan dengan wajah innocentnya Arjuna duduk disebelahnya.
”Apa ?” tanya Arjuna, dia sadar akan tatpan kesal Nad.
Tangan Nad mulai menulis, mengungkapkan semua kekesalannya
’pertama... kau membuatku menunggu setengah jam lebih di halte, kedua... kau membuatku hampir mati dengan setan kebutmu itu, dan ketiga... kamu meminum ice coffe stock terakhir yang kudapat setelah mengantri cukup lama...’
”Oh....” hanya sepatah kata itu yang keluar saat arjuna membaca semua unek-unek yang ditulis Nad. Memandang tak percaya cowok tanpa hati didepannya, Nad benar-benar tidak bisa berkata apapun lagi.
”Nih... ” dia menempelkan kaleng dingin itu di pipi Nad, reflek tangan Nad memegangnya tidak membiarkannya jatuh saat arjuna melepaskan tangannya dari kaleng itu.
”Tunggu aku di depan gerbang nanti....” ucapnya sambil berlalu meninggalkan Nad sendirian diantara kerumunan orang yang kelaparan dicafetaria.
”Hei.... seharusnya kamu sudah terbiasa dengan sikapnya khan... ” Nanda muncul dengan semangkok mie dan duduk ditempat Arjuna tadi duduk. Nad menjawab dengan menghela napas sambil mengocok kaleng ice coffenya, berharap masih ada cairan coklet yang tersisa.
”Kalau begitu jangan bermuka masam lagi donk.... terima nasib saja Non,....” serunya mengejek. Sekali lagi Nad menghela napas, tidak sedikitpun tersisa cairan di kaleng alumunium itu, lebih lagi helaannya semakin panjang medengar ejekan teman barunya itu.
“Aku heran kamu masih bisa tahan dengannya....” tanyanya
‘Anggap saja aku hebat...’ tulis Nad di memonya. Dan tentu saja disambut tawa oleh Nanda.
“Siang gadis-gadis....” satu lagi cowok menyebalkan datang.
“Oh gosh.. mimpi apa aku semalam...” gumam Nanda, Nad tersenyum mendengarnya.
“Hei Nad, seharian ini aku tidak melihat Arjunamu... kemana dia ?” tanya cowok itu sambil duduk tepat di sebelah Nanda, yang tentu saja membuat Nanda makin merasa tidak enak badan.
“Bisakah kau menjauh beberapa meter lagi, entah kenapa aku langsung pusing kalau didekatmu...” Nanda berucap dengan penekanan disetiap kat-katanya.
“What’z wrong ?... kenapa sih kau selalu bersikap jahat pada ku...” nada kecewa tersirat dari kata-kata Ron
“Entahlah... mungkin karena aku paling benci player...”
“Hei, bukan salahku donk kalau banyak cewek yang tergila-gila padaku... aku hanya menggunakan anugerah yang diberikan Tuhan kepadaku dan....
“Dasar kucing...” sela Nanda sambil berlalu dari situ, menjauh sejauh mungkin.
“Kenapa sih dengannya...?” tanya Ron pada Nad.
Sambil mengangkat bahu dia mengambil air jeruk milik Nanda yang bahkan belum disentuhnya sama sekali.
Dua kali.... dua kali dalam satu hari ini dia menunggu, yang pertama pagi tadi... dan sekarang..... sudah lewat dari setengah jam dia duduk di bawah pohon di depan gerbang kampusnya. Dan cowok nyebelin itu tetap saja belum menampakkan hidungnya, untung saja suaranya entah kemana, kalau tidak pasti sudah beberapa puluh kali dia mengumpat kesal.
’kenapa aku masih disini... bahkan warung soto yang baru buka malam hari itu sudah mulai amai dipenuhi pengunjung yang kelaparan... pikirku sambil melihat pasrah ke depan warung soto itu.
”Nad.....” sebuah suara yang dikenalnya nmun bukan suara yang ditunngunya. Nad tersenyum lemah membalas sapaan cowok itu.
”jangan bilang kau menunggu Arjuna...” tebaknya dengan sangat tepat. Dan dengan lemah, putus asa Nad mengangguk.
”Tapi dia sudah pulang beberapa jam yang lalu.... bahkan dia tidak ikut latihan sore...”
mimik wajah tidak percaya terlukis sangat jelas dari wajah Nad, ’Jadi cowok b******k itu lupa... bagus sekali...’ pikirnya sambil tersenyum kecut. Nad berdiri, tidak ada gunanya lagi dia menunggu.
”Mau kuantar pulang....” Ron menawarkan diri
Kepala Nad menggeleng walau sebenarnya dia khawatir melihat gelapnya malam.
”Ayolah... aku tidak mungkin berbuat aneh-aneh kepadamu... Arjuna bisa membunuhku....” canda Ron, Nad baru sadar kalau cowok ini juga punya lesung pipit di kedua pipinya.
Nad mengangguk lemah, membiarkan dirinya duduk di bangku belakang ninja ungu milik Ron.
”Kamu kenal yang namanya Suzie...” tanya Ron begitu aku keluar sambil membawa segelas air untuknya. Aku menggeleng, mengambil tempat, duduk di depan Ron.
”Hufff.... ya sudahlah kalau begitu... sebaiknya aku pulang... sebelum ditangkep sama satpam...” canda Ron. Nad tersenyum, inilah perbedaan antara Arjuna dan Ron, Ron selalu bisa membuatnya tersenyum.
”Oh ya.... mungkin Arjuna akan sibuk beberapa hari ini, so how about....” Ron terdiam tidak menyelesaikan ucapannya. Nad menunggu.
”Lupakanlah... Arjuna takkan terganti khan....” seru Ron. Wajah Nad memanas, dia yakin warna wajahnya semerah tomat sekarang.
”Ha..ha...Ha... kau ini lucu....” seru Ron.
’Ron benar...’ pikir Nad, sudah 3 hari ini dia tidak melihat wajah Arjuna, Nad tidak lagi diantar jemput oleh tiger hitam miliknya. Entah apa sebabnya. Dan sekarang bertiga dengan Ron dan Nanda dia duduk di food court mall yang mereka kunjungi.
”Jadi kemana perginya sahabatmu itu...” tanya Nanda diantara suapan spaghetinya.
”Dunnoo.... ehm jangan bilang klo lue kangen ma dia...”
’’Kangen.... yang bener ja... noh... si Nad tu yang kangen...” elak Nanda.
Hampir tersedak, Nad menggeleng namun terlihat wajahnya mulai memerah.
”Ngaku ja deh Nad... kamu khan sering banget bengong 3 hari ini.... gara-gara kangen khan.....” Nanda mulai menggoda sahabatnya itu. Ron tersenyum melihat 2 gadis itu.
Nad menggeleng makin keras mencoba meyakinkan keduanya. Namun matanya terbelak dan spontan langsung berdiri begitu melihat sosok yang sangat dikenalnya, berjaln dengan orang yang tidak pernah dilihatnya. Heran melihat temannya itu tiba-tiba berdiri, Nanda melihat kearah tatapan Nad.
”Arjuna... ” gumamnya pelan.
”Hah....” Ron yang sedang asik dengan ayamnya terkejut dan ikut melihat kearah yang mereka lihat.
”Hufff... see, i’m right then...” gumamnya, namun cukup jelas untuk bisa didengar Nanda.
”Jadi lue tahu siapa dia....” tanya Nanda, lebih terdengar mengancam.
“Dunno...”
“Lue masih bilang nggak tau... udah jelas-jelas lue bilang....” Nanda tidak meneruskan perkataannya karen tangan Nad menyentuh bahunya. Nad menganggukkan kepala, isyarat dia tidak apa-apa.
Keduanya terdiam, dan tidak menyebut lagi masalah ini.
”Itu Suzie... yang sempat aku tanyakan beberapa hari yang lalu....” Ron mengantarkannya pulang dan mampir untuk sekadar duduk dan menikmati segelas jus jeruk.
Sedikit paksaan Nad tersenyum, mencoba tidak mengeluarkab sakit yang entah datang dari mana di balik tubuhnya.
”Aku tak tahu detailnya, yang jelas beberapa hari yang lalu dia datang, saat kami latih tanding dan setelah itu... Aku jarang melihat Arjuna lagi...”
’kenapa kamu cerita kalau tidak tahu... lagi pula itu bukan urusanku... Arjuna punya kehidupan lain selain aku khan....’ tulis Nad.
”Yah kau benar,... hanya memastikan kau tidak..... terluka” kata terakhir yang diucapkan Ron terdengat sangat pelan seolah sebenarnya tidak ingin diucapkannya. Nad menjawa dengan gelengan kepala.
Ini pertama kalinya dia datang kerumah ini tanpa ditemani Arjuna, sebelumnya dia menyempatkan diri menengok makam angel beberapa blok dari sini.
”Wah Nad... sudah lama nggak ketemu.... tante kangen lho...” seperti biasanya sambutan orang rumah ini sangat membuat hatinya hangat. Om pun tersenyum melihat kedatangannya dan dengan sinar dimatanya lelaki paruh baya itu mempersilahkannya untuk duduk di sebelahnya di meja makan.
”Arjuna... cepat turun.... Nadia sudah datang ini....” dengan suara cempreng namun tidak bisa dibilang jelek, tante memanggil anak tirinya itu.
”Wah... wah... jangan-jangan kau sudah lupa dengan kami ya....” seru Om tetap dengan senyumnya.
Nad menggeleng cepat, kemudian menulis,
’Maaf Om... Tante... Nad belakangan sibuk... Nad juga baru tahu kalo Om dan Tante sudah pulang...’
”Lho... memangnya Arjuna belum cerita...” tanya Tante heran, Nad menjawab dengan gelengan pelan.
”Pagi.... ” Arjuna turun dari kamarnya, lengkap dengan jaketnya.
”Mau kemana ?”
”Ngantar suzie ke dokter...”
”Ohhh.... nanti siang ajak dia kemari ya... kita makan bersama, mumpung Nad ada disini....” pinta tante
Sekilas Arjuna melirik Nad, tepat saat Nad memandangnya dan kedua mata mereka bertemu. Sejenak jantung Nad berhenti berdetak, ada sesuatu yang lain dari mata itu, entah apa....
”Assalamualaikum....” Arjuna pamit dan tak lama bunyi motornya menderu.
”Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang sambil menunggu datangnya makan siang...?” tanya Om dengan senyum penuh arti. Nad membalasnya dengan senyum yang sama.
Dia menyadarinya bahkan saat gadis manis itu datang dengan tangan mengenggam erat jemari Arjuna. Entah kenapa seperti terdengar suara tangisan dari hatinya.
Makan siangnya berjalan sangat lancar, terdengar tawa dari semuanya. Namun tidak terdengar suara apapun dari mulut Nad, tentu saja itu karena keterbatasannya, namun entah kenapa ada sesuatu yang hilang dari diri Nad. Dan melhat senyum Arjuna yang jarang sekali dilihatnya, dia tahu persis apa yang hilang dari dirinya.
’Saatnya pamit’ pikirnya dalam hati.
”Nad bagaimana kalau kamu tidur disini malam ini... suzie juga berencana menginap khan...” Tante menawarkan, dan Nad tahu dia harus menolaknya. Nad menggeleng dengan mimik muka yang dibuatnya, dia berusaha meyakinkan Om dan Tantenya itu untuk membiarkannya pulang.
”Oh baiklah... Arjuna antarkan Nad....” Arjun terdiam sejenak, hanya beberapa detik sebelum dia mengambil kunci dan jaketnya, tapi Nad telah menyadarinya, Arjuna tidak ingin mengantarnya malam ini.
sekali lagi dia menggeleng dan menulis di memonya, dia akan baik-baik saja dan telah memesan taksi untuk pulag.
”Nad... ” nada protes terdengar dari tante begitu juga gelengan kepala Om, tapi bunyi klakson mobil telah menyelamatkannya. Itu taksi untuknya pulang.
Sakit... itulah yang dirasakan Nadia saat ini, tak terlihat secra fisik, namun bagian lain dari dirinya, yang hanya bisa dirasakannya, menjerit dan terus menangis. Dan Nadia sadar sekali, jeritan dan tangisan itu akan terus bertambah saat kedua matanya menatap wajah Arjuna.
”Hei... jangan murung gitu donk... aku khan jadi nggak enak ngeliatnya...” suara Nanda menembus benakku, hanya dengan senyum lemah aku membalas, aku mencoba untuk tidak melihat matanya.
”Sepertinya kamu benar-benar perlu hiburan....” ujarnya, dalam diam dia menekan beberapa tombol di hapenya kemudian meletakkannya di meja.
”Hey... kejutan nie, seorang Nanda menelponku... da pa? Kamu mw daftar jadi cewekku juga...” suara itu berasal dari hadphone milik Nanda, sekilas Nadia melihat nama REY di layarnya.
”Hah... jangan mimpi ya... sampai kiamat pun tidak akan pernah terjadi...” dengan kesal Nanda menjawab.
”Dengerin baik2...” serunya menyela sebelum Rey bisa menjawa lagi ucapannya barusan, ”di depan gue sekarang ada cewek yang seminggu ini wajahnya terus ditekuk, dan secara nggak langsung itu merubah mood gue... lue punya ide g....?”
”kalian dimana sekarang ?” tanya balik
”di kafetaria kampus...” Nanda menjawab sambil melirik sahabatnya yang masih diam tak bergeming sambil menatap es kelapa yang tak berkurang satu tetes pun isinya.
”Oke, gue kesana sekarang...”
”Ngapain...”
”ada deh...” berikutnya yang terdengar keluar dari 6600 Nanda adalah bunyi beep panjang.
”Aku harap idenya bukan ide gila.... ” gumam Nanda, sedikit menyesal, kenapa dia harus minta bantuan orang itu tadi.
”Nad.... lue beneran jatuh hati sama cowok itu...” pertanyaan yang sama sekali tidak disangka oleh Nadia akan keluar dari mulut Nanda.
Kali ini jawabannya tidak hanya senyum, dia juga mengangkat kedua bahunya. Tangannya juga menulis di memonya.
’entahlah.. saat aku hanya merasa ada sesuatu yang kurang dari diriku...’
”Huh.... kasian banget sih lue....” keduanya kembali terdiam
”Halooo.... sore Nad... udah enakan khan...” tiba2 Rey muncul seperti biasa dengan wajah sok polosnya.
”Ngapain lue kesini....?” tanya Nanda
”Lho... tadi katanya disuruh hibur Nad...”
”Lue mw ngapain sekarang...”’
”Nggak ngapa-ngapain.... liat aku ja Nad pasti seneng, iya khan Nad...”
”Sudah kuduga aku salah orang..” gerutu nanda
”Apa maksudmu...”
”Yah, seharusnya memang aku atasi sendiri...” lanjutnya tanpa menghiraukan Rey
”Kamu tuh kenapa sie... selalu aja sinis ama aku, emang guaku pernah punya salah apa sih sama kamu...”
”Banyak”
”Apa contohnya...”
tiba-tiba Nad tersenyum dan kemudian tertawa kecil, entah kenapa kalau berada diantara mereka berdua, Nadia selalu merasa senang.
”Tuh khan bener...” Rey merasa menang sekarang. Dan Nanda hanya mendengus kesal
Suasana hujan masih sangat terasa walaupun tetes-tetes airnya sudah tidak turun dari langit, namun sisa-sisanya di daratan menimbulkan reaksi dan memunculkan bau khas yang hanya tercipta oleh keduanya. Sambil memperhatikan langkahnya di jalan setapak yang licin penuh lumpur, Nad mengeluarkan kelopak bunga-bunga mawar yang sengaja dibawanya dari rumah.
Bersimpun di depan pusara orang yang pernah mengisi hidupnya dan memberinya kenangan yang tak terlupakan, tiba-tiba membuat air mata Nad keluar. Dengan tangannya dia membersihkan nisan yang bertuliskan angel itu, dengan senyumnya dia berusaha menghapus airmata dan tentusaja kesedihannya. Dalam hati dia mengucapkan ayat-ayat tahlil, mencoba memberikan doa, upaya terakhir yang bisa dilakukannya saat ini. tepat setelah ayat terakhir dilafadzkannya dia merasa ada orang lain dibelakangnya.
Deg... dadanya kembali berdetak dengan kencang melihat kedua orang itu berdiri tepat dibelakangnya.
”Kebetulan sekali Nadia,.. ” dengan senyum manisnya Suzie menyapanya, dan tentu saja jemari tangan kanannya menggenggam erat namun hangat jemari Arjuna. Nadia membalas dengan senyum, senyum terbaik yang bisa dihasilkannya dalam kepura-puraan. Dan perlahan dia bangkit, memberikan luang lebih lebar kepada mereka berdua untuk mendekati pusara angel.
”Kamu sudah mau pulang Nad...” tanya Suzie, sementara Arjuna mengulangi apa yang dilakukan Nadia tadi, membersihkan nisan adik tercintanya.
Nadia menjawab dengan anggukan dan anggukan kedua ditambahnya denga senyum pamit, dia harus segera pergi dari tempat itu sebelum airmata kembali membanjiri wajahnya.
Dengan langkah pelan namun berusaha melebarkan kedua kakinya, dia meningglkan komplek pemakaman itu. Benaknya kembali melayang pada memori beberapa hari yang lalu
”1000 harinya Angel minggu depan khan” suara Arjuna ””aku akan menjemputmu dan kita berangkat kesana bersama, Angel pasti senang kalau kita kesana bersama....”
Sekali lagi, hujan deras mengguyur, membasahi wajah mendung Nadia dalam perjalanan pulangnya.
Nadia kebagian jaga malam hari ini, karenanya dia buru-buru. Motor milik Nanda yang sengaja dipinjamnya hari ini terparkir di lapangan belakang itu artinya hampir setengah kilo meter dari ruang kuliahnya. Dengan langkah cepat sementara kedua tangannya sibuk mengobok-obok tasnya mencari kunci motor Nanda.
”Gue nggak pernah ngangep Nad lebih dari pada seorang adik, buat gue dia pengganti angel....” suara lantang Arjuna tertangkap oleh telinganya, spontan kepala dan kedua matanya mencari asal suara tersebut. Di balik tembok tempatnya berdiri sekarang, Arjuna dan Rey sedang duduk dan tentu saja membelakanginya.
”dan Suzie...”
”Dia beda... sejak dulu gue nggak pernah bisa melepas perhatian darinya,..”
”Dengan kata lain, lue jatuh cinta...”
Diam sejenak, Arjuna tidak langsung menjawab.
”Gue nggak pernah bisa nemuin orang yang bisa ngantiin tempat suzie dihati gue...”
Seperti tersambar geledek dunia Nadia sekarang, dengan serpihan terakhir yang dimilikinya, Nadia berusaha menggerakkan kakinya, dia harus menjauh sejauh mungkin dari tempat itu, dia tidak mungkin bisa mendengar pembicaraan mereka lebih lama lagi. Airmata kembali membayangi kedua matanya, namun dengan beberapa kedipan dia mencoba menghapusnya. Dia menyadari hal itu sejak lama, dan seharusnya dia sudah menduga kata-kata itu akan keluar dari mulut Arjuna. Kebodohannyalah yang membuatnya bersedih sekarang, dan sekarang dia harus menghapus semua dan mengembalikan keadaan ini seperti semula, seperti yang sudah seharusnya terjadi.
”Nad... kamu yakin mau ikut kuliah... ”seru Nanda tidak tega melihat mata sahabatnya yang sudah mirip bahkan mungkin tidak bisa dibedakan lagi dengan panda. Nadia mengangguk namun kepalanya masih tidak bisa diangkat dari meja. Kedua matanyapun terasa sangat amat berat sekali untuk dibuka.
”Haloo cewek-cewek....” sura Rey membuyarkan suasana.
”Nadia kenapa... ?” tanya Rey mengambil tempat duduk disebelah Nad, sementara Arjuna hanya berdiri.
”Dia begadang 2 malam, jaga kafe....” Nanda menjawab singkat.
”Kuantar pulang...” khas Arjuna, berbicara seperlunya. Perlahan Nad mengangkat kepalanya dan meraih memonya.
’Yang benar saja, hari ini ada Quiz dan klo aq g masuk percuma aku kuliah 1 semester ini’ digenggamkan memo itu langsung ditangan Arjuna lalu dia kembal menaruh kepalanya di meja dan memejamkan kedua matanya.
”Lihat wajahmu sekarang...” ada sedikit nada cemas dan marah dari suara Arjuna.
Sambil menghela napas, Nadia kembali menulis
’tenang saja, begitu quiznya selesai aku langsung pulang..., (PS kau ini benar-benar seperti kakakku)’ kali ini memo itu tidak digenggamkan ke tangan Arjuna, namun ditempelkan di kepala Arjuna. Dengan senyum Nadia meninggalkan mereka, tak lupa dia juga melampaikan tangannya, Nanda mengikutinya dari belakang.
’Inilah yang seharusnya terjadi.....’ pikirnya, senyum samar terlukis di wajah Nad.
”Kamu yakin...” Nanda yang menangkap senyum itu mencoba membaca pikiran Nadia.
Anggukan kepala mantap dan senyum, sudah lebih dari cukup bagi Nadia untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar