Rabu, 07 April 2010

ceritaku

CERITAKU

Dengan keringat dingin aku terbangun, napasku tersengal-sengal dan mataku masih gelap dengan bayangan-bayangan mimpi yang mengejarku belakangan ini.

”Neng.... neng tidak apa-apa ? apa perlu bibi ambilkan minum....” suara bi inah dari balik pintu kamarnya. Aku mengusap keringatku dengan ujung lengan piyama, dan berjalan meraih pegangan pintu. Dengan senyum aku menolak halus tawaran Bibi. Lalu aku menambahkan beberapa gerakan isyarat tangan, agar tidak membuatnya lebih khawatir lagi. Begitu bi inah yakin aku hanya mimpi buruk, beliau pun meninggalkan kamarku. Kembali aku mencoba memejamkan mata, namun entah mengapa tiba-tiba arimataku menetes.

Hiruk pikuk disekeliingku tidak berhasil membuatku terlepas dari bayang mimpi buruk semalam, walaupun kedua tanganku tengah bekerja—membersihkan beberapa meja yang telah ditinggalkan tamu—benakku juga ikut bekerja, mengingat setiap detai gambar yang selalu berkelabat di dalam tidur, sampai-sampai aku tidak merasakan kehadiran Nanda di dekatku.

”Hey, bantu gue donk... Rey ngikutin terus tuh...” aku mencoba tersenyum, menyembunyikan semua ketakutanku.

”lue gak pa-pa.... wajah lue pucat...” tanya Nanda, kembali aku tersenyum sambil menggelengkan kepala, aku memang tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu darinya.

“Nan gimana… mau khan nemenin aku…. Ayolah...” satu orang lagi mendekat kearahku.

”Diem deh... lu g liat gue, lg ngomong ma Nad...” seru Nanda kesal.

”Nad... lue beneran gpp khan...” suara Nanda melembut, dia bertanya ke arahku.

”Emangnya Nad kenapa ?” Rey mendekatiku, bahkan tangannya memegang pipiku, berusaha meneliti apa yang salah dengan wajahku, risih aku menyingkirkan tangannya.

”wah... lue bener Nan, wajah Nad pucet.... oi Jun, Nad pucet nie...“ teriaknya kearah cowok yang sedari tadi duduk di pojokan cafe.

Aku menggeleng cepat, mencoba myakinkan mereka, aku tidak apa-apa, tapi sepertinya cowok yang dipanggil jun itu mendekatiku, meninggalkan gadis manis yang menemaninya. Dia berhenti tepat didepanku, mengulangi kembali apa yang dilakukan Rey, dan tentu saja aku menolaknya dengan mengalihkan pandanganku dari mata elangnya. Perlahan aku merasakan panas menjalar di kedua pipiku. Tidak ingin terlihat memalukan, aku beranjak pergi dari mereka, namun pergelangan tangannku ditahan oleh tangan besar Juna.

’’Ayo pulang....“ ucapnya singkat, aku kaget tentu saja, sekarang masih jam 9 dan shift kerjaku baru berakhir 2 jam lagi. Aku melepaskan`` tanganku dari cengkramannya, kemudian menulis di memoku dan memberikannya.

’aku nggak pa-pa, dan aku belum bisa pulang sampai nanti j 11’

sedikit berlari aku meninggalkan mereka, takut tertangkap lagi.

”Kalian yakin dia nggak pa-pa...” Suzie bertanya begitu Juna dan Rey kembali duduk disebelahnya.

”Wajahnya sih terlihat pucat, tapi tadi waktu di pegang ma Juna langsung memerah.... dasar Nadia...” Rey menjawabnya sambi tertawa. Suzie yang melihat adegan tadi juga ikut tersenyum, sementara Juna masih dengan wajah tanpa ekspresi memandang keluar jendela.

”Baiklah, kalau begitu aku panggil taksi ja ya... kamu pasti mau mengantarkan Nadia pulang khan Jun...” seru Suzie mengeluarkan Hapenya

”Biar aku antar....” seru Juna sambil bangkit dari duduknya.

Suzie menggelang sambil menahan tangan Juna, ”trus kamu balik kesini lagi... nggak.... lebih baik aku naik taksi dan kamu menunggu disini, siapa tau Nadia berubah pikiran dan pingin cepet pulang...” serunya.

”Tenang ja Jun, biar gue yang anterin... lagian gue udah jelas-jelas ditolak ma Nanda... daripada gue kena jurus silatnya mending gue kabur duluan khan...” Lerai Rey yang melihat sorot mata tidak setuju yang diarahkan ke Suzie.

”Ide bagus... km g keberatan khan Jun....”

”Terserah kalian....” Juna kembali menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.

Ku...kuruyuk... suara alarm alami yang selalu berbunyi saat fajar itu perlahan menggetarkan gendang telingaku. Sekali lagi, untuk beratus kalinya dalam 1 malam, aku menatap lekat bayangan mirip diriku yang memantul dari cermin besar di depanku. Bayangan itu menunjukkan mimik wajah ketakutan dengan mata bengkak dan sisa-sisa airmata yang tergambar jelas di kedua pipinya. Entah sudah berapa jam aku terduduk disini, mencoba untuk menahan kedua kelopak mataku agar tetap terbuka, bahkan sebisa mungkin tidak berkedip.

Aku takut cahaya, aku takut tertidur dan aku takut bermimpi, sekali lagi aliran air keluar dari kelenjar airmataku dan sekali lagi aku mencoba menghapusnya.

”Non Dia sudah beberapa hari ini terlihat lesu... bibi kurang tau ada apa dengan non Dia... biasanya sih non cerita, tapi...” Bi’ Inah akhrnya membeberkan ceritanya setelah kurang ebih setengah jam Nanda dan Rey memaksanya, mencari tahu ada apa sebenarnya yang terjadi dengan Nadia.

”hampir tipa malem Non Dia mimpi buruk, bahkan samapi teri-teriak dalam tidurnya... Bibi g berani nanya, takutnya Non da malah tambah sedih nanti....” lanjut Bibi. Nanda dan Rey salaing berpandangan dan seperti sudah dikomando sebelumnya, keduanya langsung menoleh kearah Arjuna yang berdiri membelakangi mereka. Sepertinya tengah asyik melihat kendaraan yang lalu lalang di depan rumah ini.

”Tapi semalem, Bibi g denger apapun dari kamar non Dia.... bibi jadi khawatir...”

”Bibi tau dimana Nadia sekarang...” akhirnya Arjuna bebicara.

Bi inah menggeleng, dan menundukkan kepala, terlihat jelas dari mimik wajahnya dia sedih.

Nadia menghilang, dia tidak muncu di kampus. Baru satu hari memang—mengingat sekarang baru jam 11 malam, namun ini sudah membuat Nanda dan Rey kalang kabut, belum lagi Juna. Walau dalam diamnya, keduanya menyadari Juna panic dan mungkin malah ketakutan.

”Non...Den... Bibi ambilkan minum dulu y... ” seru Bi inah pamit ke belakang. Rey menjawab dengan senyuman sementara Nanda hanya mengangguk.

Hening, tidak ada suara bahakan hewan malam dan angin yang membelai dedaunan kut berhenti bersuara. Seakan memberikan ruangan bagi mereka untuk konsentrasi berpikir, apa sebenarnya yan terjadi dengan Nadia.

”Apa yang harus kita lakukan sekarang ? ” Rey bertanya tak tahan dengan keheningan yang terjadi. Dan tepat pada saat itu, derik pintu pagar terdengar, ketiganya menoeh cepat. Di depan mereka seorang gadis dengan jaket putih dan jeans biru lengkap dengan kerudung kaosnya terlihat sedang membuka pintu. Sepertinya gadis itu tidak menyadari ketiga orang yang tengah mengawasinya.

Juna bergegas mendekatinya,

”Kau pikir apa yang kau lakukan...?” hardik nya tepat di wajah gadis tersebut.

Gadis itu kaget, lalu mimik ketakutan menggantikannya, terasa benar hujaman langsung dari mata elang milik Juna. Dengan isyarat tangan dia mangeja kata MAAF.

”Kau....” Juna marah, sangat marah, terlihat dari wajahnya yang memerah dan tentu saja tidak mampu mengeluarkan kata apapun saking marahnya. Dia menarik napas panjang dan menuju motornya, sambil mengenakan helamnya dia masih sempat berucap pada gadis itu.

”Kalau berniat pergi, sebaiknya tidak usah kembali” kata-kata itu diucapkan dengan suara dalam, terdengar sinis dan tentu saja marah.

Brummm.... dengungan motornya pergi, menembus malam meninggalkan kedua sahabatnya melongo, kaget melihat tindakannya barusan.

Nanda yang tersadar dari kagetnya terlebih dahulu, mendekati Nadia.

”Darimana saja kamu.... kami kuatir....”

”Sebaiknya aku menyusulnya,... ” seru rey sambl merogoh sakunya, mencari kunci mobilnya.

”Nad... jng buat kami ppanik agi yah... please... kasihani jantung ni... oke .....” tambah Rey dengan tatapan memelas. Sambil memberi tanda ’telpon aku’ yang dijawab anggukan oleh Nanda Rey pergi, meninggalkan asap mobil berwarna putih di halaman depan rumah Nad.

”Aku boleh menginap disini khan...” tanya Nanda.

Nadia mengangguk lemah masih menatap jalanan, arah Juna dan Rey pergi.

Juna merebahkan diri di rerumputan, motornya terparkir sembarangan di seberang taman. Dia menghirup sebanyak mungkin udara bebas, mencoba melegakan sesak yang tiba-tiba melanda dadanya.

”Damn......” dia mengumpat, tiba-tiba dia membenci dirinya, membenci sifatnya yang tidak bisa bertanya. Dia ingin sekali tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Nadia. Tapi dia tidak bisa bertanya, karena kalau dia bertanya itu akan membuatnya membuka semua, membuka semua yang ada dirinya.

”Angel... apa sebenarnya yang terjadi.... ada apa dengan Nadia....” bisik Juna sembari memandang langit, mencari-cari wajah adiknya tercinta.

”Kak, aku punya teman baru... namanya Nadia... anaknya baik banget... dia mirip sama kakak....”

”maksudnya....”

”matanya.... dia punya mata seperti kakak... mata yang selalu kesepian....”

”Angel... bantu aku...” bisik Juna lagi, kali ini dengan mata terpejam.

Suara rintik hujan, satu-satunya bunyi yang terdengar saat ini. 2 pasang anak manusia yang tengah duduk mengitari meja terdiam, seolah ikut terhanyut dalam suara tetes air yang menyentuh tanah.

”Jadi bisa kamu ceritakan sama kami, apa sebenarnya yang terjadi....?” Rey angkat bicara.

Semua mata memandang Nad, yang hanya tertunduk menghindari terutama tatapan elang cowok didepannya.

’Maap membuat kalian khawatir...’ dia menulis di memonya.

”Hufff....” Rey menghela napas panjang, dan bangkit

”Rey mau kemana...?” Nanda bertanya

”mindahin mobil....” jawab Rey asal, dia tahu Nad tidak akan pernah berbicara kalo dia ada disana.

”Aku ikut....” seru Nanda, dia juga merasa hal yang serupa.

Sekali lagi tidak ada berbicara, tidak ada suara, seolah-olah Nad dan Juna tengah berlomba untuk berdiam diri.

’Maap...’ sekali lagi Nad menulis di memonya dan menyerahkannya di depan Juna. Arjuna hanya melirik sekilas.

”tidak ada gunanya kalo itu terjadi lagi....” juna menjawab dengan nada sinisnya.

Aku menyerah, hawa dingin disekitarku benar-benar tidak bisa mengalahkan sikapnya yang dingin itu. Dia memang tidak mendesakku bercerita, tapi sikapnya ini.... apa bedanya. Takut aku melihat langsung ke matanya, aku hanya berani menggunakan sudut mataku menilai wajahnya. Aku bisa melihat kemarahan dan kekhawatiran bercampur disitu, tapi..... apa aku harus menyerah.

Entah sudah berapa lama kami berdiam seperti ini, bahkan Rey dan Nanda juga tidak menampakkan diri lagi, sepertinya mereka bersekongkol. Sekali lagi aku meliriknya. Ekspresi wajahnya tidak berubah, tatapan matanya terasa begitu jauh, aku tahu dia menghindari menatap wajahku, mungkin dengna menatap wajahku saja bisa menyulut kemarahannya... sekali lagi aku bertanya pada diriku sendiri.... apa aku harus menyerah.

Aku menarik napas dalam dan perlahan menghembuskannya, tanganku merogoh tas kecil yang selalu kubawa dan mengeluarkan semua cerita hidupku. Sebuah buku kecil bergambar hello kitty aku serahkan dihadapannya. Aku mencoba menilai kembali ekspresi di wajahnya. Dia meliriknya dan tertarik karena dia melihat kearahku sekarang, segera saja aku menundukkan wajahku kembali, aku masih takut menatap mata elangnya.

Samar-samar diantara gemerisik bunyi hujan aku mendengar buku itu diangkat, entah hanya ilusiq sajakah, aku mendengar dia bertanya, apa ini...?

”Apa ini...?” Juna bertanya, ditangannya saat ini ada sebuah notes kecil bersampul hello kitty.

’apapun yang ingin kau tanyakan...’ sebuah memo kembali disodorkan ke arahnya, tapi Nad masih tidak mau mengangkat wajahnya.

’jangan buka disini, aku tidak ingin berada didkatmu saat kamu membacanya....’ memo kali ini ditulis dengan cepat sebagai reaksi jemari arjuna yang mulai membuka notes kecil itu. pertama kalinya dalam beberpa jam terakhir mata Arjuna menyelidik penuh tanya mengamati ekspresi apapun yang bisa dilihatnya yang tergambar di wajah Nadia.

teman, aku mendengarnya lagi hari ini, suara tangisan... entah suara siapa... kali ini aku memberanikan diri keluar kamar untuk melihatnya. Sama sekali tidak aku duga kawan, yang terduduk dan menagis didepanku adalah mamaku... mama yang melahirkanku, mama yang selalu ceria setiap kali aku melihatnya. Kali ini menangis, terduduk di lantai dengan tangan kedua tangan menutupi wajahnya, tapi aku tahu ada air mata yang menetes dibalik kedua tangannya itu........

Aku takut teman.... aku takut laki-laki itu datang lagi, mamaku sudah mengusirnya dan menjamin bahwa dia tidak akan kembali, tapi aku takut karena aku sendirian saat ini, mamaku tidak ada, tidak ada yang menolongku....

Dia datang... dia datang lagi... tapi aku tidak takut, ada mamaku sekarang, dia pasti menjagaku.... mama pasti menjagaku... laki-laki itu tidak akan berani....

Dia sudah pergi.... selamanya... ornag berseragam itu sudah membawanya, dan mereka berjanji tidak akan pernah melepaskannya... aku bebas... mamaku bebas... kami bebas... dia tidak akan mengganggu kami lagi....

Laki-laki itu jahat... dia pergi... tapi dia membawa mamaku... mamaku jug pergi... meninggalkanku sendiri... aku sendirian... mamaku tidak ada disampingku... mamaku pergi...

Hanya penggalan kata-kata itu yang terbaca, sisanya blur... sepertinya ttintanya terhapus oleh air, mungkin air mata. Arjuna menutup perlahan notes itu, pikirannya kalut, dia sama sekali tidak pernah membayangkan, masa lalu Nadia sekelam itu.

Dok....dok...

”Juna... bangun... Nadia pingsan nak....” arjuna langsung tersadar dan membuka pintunya, tanpa berkata apa-apa dia langsung menyambar jaket dan kunci motornya kemudian berlari keluar rumah, di belakangnya terdengar suara teriakan orang tuanya.

”Jun... mama sama papa nyusul... jaga Nad dulu ya....”

Sebentuk wajah polos tengah memejamkan mata. Masih tersisa ekspresi ketakutan di wajah itu.

”berikan semua beban itu kepadaku... biar aku yang menaggungnya....” arjuna berbisik sambil perlahan mengelus pipi wajah polos tersebut.

Dia mengamati wajah itu, mencoba merekam dan menggambarkan setiap detail dari wajah gadis, seolah selama dia tidak akan bisa melihatnya lagi.

”Jun...” bisikan mamanya membangunkannya dari lamunan.

”Apa sebenarnya yang terjadi....?”

Juna menggeleng, masih tidak berani melepaskan kedua matanya dari wajah gadis itu.

”Den... Non Dia tidak apa-apa kan....?” kali ini suara bik inah yang terdengar di telinganya.

”Harusnya bibik tahu... harusnya bibik sadar kalo bulan ini hari terjadinya... bibik memang bodoh....” bik inah mulai nyerocs tanpa henti.

”maksud bibik....?” tanya mama, kali ini Arjuna ikut menoleh meminta penjelasan.

”sebenarnya bibik mengasuh non dia sejak lahir, tapi waktu bibik dinikahkan bibik sudah tidak bekerja lagi sama nyonya.. lagi pula waktu itu nyonya sudah menikah lagi dan tinggal bersama suami barunya, jadi bibik tidak dibutuhkan.....”

”bibik meninggalkan nyonya dan non dia lama sekali... sampe nyonya sendiri yang menjemput bibik di kampung dan meminta bibik kembali bekerja, kebetulan waktu itu suami bibik juga sudh meninggal jadi bibik ikut nyonya lagi.....”

”bibik nggak begitu paham kenapa nyonya meminta bibik kembali bekerja, nyonya juga nggak cerita apa-apa yang bibik tahu, setelah bibik bekerja suasana rumah jadi berbeda, non dia yang dulunya cerewet sekali jadi pendiam hanya bicara saat nyonya bertanya... nyonya juga begitu jarang banget di rumah dan bahkan hampir tidak pernah ngobrol sama bibik... padahal dulu bibik sama nyonya sering banget nggosipin tetangga....”

”nggak lama, nyonya meninggal karena sakit... non dia jadi lebih pendiam lagi bahkan beberapa bulan kemudian tridak mau bicara sama sekali.... bibik kasihan melihatnya....” Bik inah bercerita di luar kamar, takut tibatiba Nadia terbangun kalo mendengar cerita tersebut.

”Bibik bener-bener nggak tahu apa yang terjad sama mereka berdua waktu bibik tinggal....?” tanya Arjuna sedikit mendesak.

Bik inah menggeleng kemudian menambahkan, ”bibik cuman mendengar cerita pembantu tetangga, katanya suami nyonya itu jahat sering main tangan... nypnya sama non dia selalu dipukul... tapi nyonya dan suaminya itu sudah bercerai katanya, malah ada yang bilang suaminya itu sudah mati....”

”Apa setiap tahun Nadia selalu seperti ini....”

Bik inah menggeleng lagi.

”Biasanya cuman diam aja seminggu, lebih banyak dikamar... kalo sampe mimpi buruk kayak yang kemaren sih nggak pernah den....” Bi inah masih sesenggukan di dalam pelukan nanda. Sementara Rey mengintip keadaan Nadia dari balik pintu dan Arjuna duduk ekspresi wajahnya menggambarkan penuhnya isi didalam pikirannya.

”Pagi... syukurlah kamu udah sadar... kita semua kuatir...” Nanda menyapa. Aku melihat sekelilingku. Ada Bik inah dengan mata sembab, mamanya Arjuna, Rey, dan di sebelah kiriku Papanya Arjuna tengah tersenyum. Aku membalas sapaan itu dengan senyum yang sebisa mungkin tanpa hawa ketakutan yang belakangan ini kurasakan. Namun ada kehampaan yang muncul tiba-tiba.

Nad tersenyum, ”dia dia kantin beli sarapan.. 2 hari ini dia tidak lepas dari sisimu... ”.

Aku kembali tersenyum namun aku merasa panas ulai menjalar dari leher ke wajahku, Nad semakin terpingkal melihatnya.

”hei...hei... sudah mulai bercanda sekarang... bagai mana kabarmu adik kecil...? kau membuat kami semua kelimpungan.... ” Rey mendekat dan mengelus pipiku, sebuah kecupan kecil di keningku cukup mengejutkanku.

”Liat saja kalau sampai Arjuna melihatnya....” seru Nanda, melihat adegan barusan, ada senyum hangat tersimpan di mulutnya.

”Jangan bilang kamu cemburu Nad... ” Rey mulai menggoda Nad.

”Tidak... sama sekali tidak, kalau itu kamu...”

Aku tersenyum bahakn menambahkan sedikit suara di tawaku.

”Syukurlah... jangan buat kami khawatir lagi ya... ” Tante Misca ganti mencium pipi kananku, masih tersisa kantung mata di kedua belah matanya, wajahnya jga pucat tanpa make up.

”cukup sekali ini saja... O sudah sangat tua untuk menerima kejutan seerti ini Nak...” Ganti Om Jay yang mencium pipi kiriku, raut kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya, sedikt banyak Aku merasa bersalah. Dengan sedikit memaksa aku mengkupkan kedua tanganku, memberi isyarat permintaan maaf.

”Sudahlah... yang penting sekarang kamu bersama kami... jangan pernah merasa sendirian lagi....” Tante Misca menutupkan kedua tangannya diatangan tanganku dan kembali menaruhnya di kedua sisi tempat tidurku.

Langit hitam penuh bertaburan bintang, bentuk bulan yang tidak bulat sempurna terselimuti awan menambah kekhusukan suasa na malam. Bisikan angin diantara rerumputan menambah simfoni khas lagu ciptaan alam. Nadia terlihat memejamkan mata meresapi semua bisikan alam sekelilingnya mencoba mengartikan dan memaknai nada-nada yang dibuat alam.

”Jangan... Pernah... Melakukannya... Lagi....” suara Arjuna terdengar berat dan penuh tekanan disetiap katanya. Nadia langsung membuka mata dan menunduk dengan lirikan matanya dia mencoba mencari kemarahan di wajah Arjuna.

Kembali tidak ada suara, Arjuna kembali terdiam, matanya juga menutup namun entah apa yang ada dalam pikirannya.

”Maaf....” terdengar bisikan perlahan, sangat pelan seolah satu nada dengan desiran angin

”Aku tidak ingin kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya...” Arjuna kembali berucap, perlahan dia menggeser tangannya, menggenggam tangan mungil nan lentik disampingnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar