Rabu, 07 April 2010

...ku (ch 1)

SUARAKU…..

“Eh lihat, itu anak barunya”
“yang bisu itu ya”
“bisu kok bisa masuk sini”
”tau tuh, ini khan sekolah favorit”
”kenapa nggak masuk SLB aja sih”
Bisikan-bisikan itu yang mengiringiku sejak pintu gerbang tadi. Walaupun sudah berusaha tapi tetap saja telingaku panas.
Bruk..., sesosok tubuh menabrakku, sekilas aku melihat seraut mimik kesepian dari matanya, tapi kemudian
”Eh, nggak punya mata, kalo jalan liat-liat donk” serentetan cacian dilemparkannya. Ingin sekali rasanya aku membalas makian itu, tapi.... Astaghfirullah apa yang kupikirkan. Berbagai asma Allah ku dengungkan, menghlangkan perasaan kesalku, perlahan aku bangkit sementara pemilim tubuh itu menatapku tajam seolah-olah aku mangsanya.
”Nggak punya mulut, ato jangan-jangan kamu bisu” semakin banyak lagi asma Allah yang kuserukan di hati ini.
”Dia emang bisu kok, makanya nggak bisa jawab” datang lagi serombongan orang yang memojokkanku.
Ya Allah berikanlah kesabaran pada hambamu ini, seruku dalam kalbu. Mereka semua mendekatiku tapi terhenti ketika seorang guru menyapaku,
”Kamu Nadine khan ?” Aku hanya mengangguk sambil mengucap syukur kepada Penciptaku.
”Ayo ikut bapak !!” segera kubereskan buku-bukuku yang berserakan dan mengikuti bapak itu.
”Tidak usah menghiraukan mereka, memang mereka selalu begitu...” seru Bapak yang bernama Agung itu, aku tahu dari buku yang dibawanya, ”Kamu masuk kelas ini dan Bapak adalah wali kelasmu, jadi kalau ada apa-apa katakan saja pada bapak” tambah beliau, beliau terlihat sudah begitu tua namun masih cukup segar dari wajahnya yang bersinar.
Kami berhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan ’Kelas 1-7’, terdengar celotehan beberapa anak dari dalamnya.
”Baiklah kamu masuk dulu, Bapak ke ruang guru sebentar” aku tersenyum pada beliau sebagai pengganti rasa terima kasih yang dibalas dengan senyuman ramah.
Begitu langkah kakiku memasuki ruangan kelas, celotehan yang tadi terdengar sampai keluar berubah menjadi bisikan sinis, aku memilih tempat duduk paling depan, dekat meja guru.
”Hai.. kamu anak baru ya...” sapa seorang gadis berkepang dengan senyuman yang manis, aku mengangguk kepala sambil menjabat tangannya yang telah diulurkan terlebih dahulu.
”Aku Rachel... namamu...” aku menuliskan namaku diatas memo yang selalu kubawa, kemudian memberikan kepadanya.
”Nadine... namamu bagus, tapi terlalu panjang, ehm... balehkan aku memnggilmu Nad saja....” tanyanya sopandan senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya. Aku menggangguk sekali lagi, senang rasanya mempunyai seorang teman yang tulus kepadaku.
”Kamu pasti pinter banget deh... sori yach... walaupun kamu tidak bisa bicara kamu bisa masuk sini dengan mudah, aku saja harus merayu ayahku dulu..” dia mulai bercerita tentang dirinya dan kelihatannya dia senang ’ngobrol’ denganku walaupun terkadang pertanyaannya tidak bisa langsung kujawab.


”Nad....Nad....Nad.... tungguin donk” Rachel berlari ke arahku. ”Aku mau cerita sesuatu ma kamu, jadi jangan pulang dulu ya...” ucapnya sambil melihat sekeliling. ”nanti aku cerita’in, tap aku mau ngenalin kamu dulu ma seseorang..” aku hanya bisa mengangkat bahu, menurutinya. Dan sekarang hampir setengah jam aku duduk sendirian, Rachel belum juga terliat.
”sorry Nad, kelamaan unggu ya...” Rachel menepuk pundakku dari belakang, aku tersenyum menanggapinya.
”kenalin Nad, ni Una... ” aku menawarkan tanganku tapi dia hanya meliriknya saja, lirikan sinis.
”Una’ kok gitu sich...” Rachel benar-benar marah, terlihat dari wajahnya yang memerah. Tidak ingin memperburuk suasana, aku memegang lengan Rachel sembari menggeleng.
”napain sih lue... kenalin gue ma orang bisu...”
”Na’... aku ngenalin kamu ke Nad biar bisa bantuin kamu...”
”gimana dia bisa ngebantu’in gue klo dia sendiri bisu...”
Astaghfirullah... aku hanya bisa menyebut asma-Nya, mendengar makian dari cowok itu. Ini bukan pertama kalinya dia mengumpat dan mengejekku.
”ya udah, terserah kamu... aku cuma pengen bangebantu... tapi klo sikap kamu kayak gini... sia-sia...” Akhirnya Rachel menyerah, dia mngajakku pergi tanpa menghiraukan cowok itu.

”Dia itu kakakku, Arjuna....” Rachel menjelaskan semuanya kepadaku, ”orang tua kami bercerai... kakakku ikut ayah, dan aku ikut ibu...”, dia menceritaka semuanya sambil sesekai mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
”Kakakku nggak pernah diperhatiin ma ayah, sehingga dia lari ke obat-obatan, sudah 2 kali nyawanya hampir melayang karena overdosis. Aku sudah beberapa kali mencoba menyadarkannya, tapi... sampai akhirnya ibuk meninggal. Belakangan dia mulai mencoba belajar agama tapi diantara kami tidak ada yang bisa dijadikan guru, Ayah terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya... sedangkan aku, ilmuku pas-pasan aku takut kalau salah...”
Aku mendengar semua ucapan Rachel sambil berpikir, pantas rasanya aku pernah mengenali wajah arjuna, banyak persamaan diantara keduanya, hidung, rahang, tulang pipi, mulutnya mungkin lesung pipitnya juga. Tapi yang paling berkesan di benakku dan mungkin satu-satunya perbedaannya dengan adikkanya adalah matanya.
”Nad... kamu mau membantuku khan...” Rachel mengiba, kali ini bukan senyum yang diberikannya tapi mata memohon. Aku tersenyum sambil mengiyakannya, tanganku menunjuknya dan kemudian aku tersehyum lagi. Rachel mengerti maksudku.
”tentu saja aku ikut, kita akan belajar bersama....” sekali lagi senyumnya mengembang.

Aku mencari wajah itu, seharian ini aku belum melihat senyumnya, arjuna lewat di depanku tetap saja sengan nada kesepiannya tapi ada yang berbeda. Sepertinya... aku menjegatnya dan kelihatan sekali dia enggan meladeniku.
”apa sih gue sibuk....” aku memberinya isyarat ’dimana rachel’.
”Ngapain si lue..” serunya tidak sabar melihat bahasa tubuhku. Segera saja aku menuliskan nama rachel di memoku dan memebrikan kepadanya.
Dia melihat tulisanku dan segera saja mimik wajahnya berubah.
”gue nggak tau... dan jangan pernah ganggu aku lagi...” bentaknyakasar sambil meremas memo itu dan membuangnya.
Dasar ndak tau aturan, ngapain juga aku tadi nanya dia.... sesalku. Tapi dimana Rachel, tidak biasanya dia bolos sekolah setidaknya selama aku mengenalnya.
”Jadi Arjuna itu kakaknya Rachel ya.. pantes Arjuna kelabakan kayak gitu, aku pikir mereka pacaran...”
”eh tapi, kasian juga ya si Rachel, ibunya baru saja meninggal papanya mau nikah lagi dan sekarang mesti dioperasi pula...”
Sekelompok anak lewat di depanku mereka membicarakan Rachel, operasi... sejak kapan? Kenapa dia tidak pernah cerita ?.... Aku harus pergi, tapi kemana? Mereka tidak mengatakannya tadi. Nggak mungkin aku menjelajahi seluruh rumah sakit di Surabaya. Tanya mereka /... tapi apa mereka mau menggubrisku, melirik saja mereka tidak mau.
Ah .... aku pergi ke rumahnya saja, orang rumahnya pasti tau. Aku membongkar isi tasku dan mencari alamat Rachel. Ketemu... sekarang aku harus cepat, hampir berlari aku menuju gerbang sekolah tapi....
”Kamu mau ke tempat Rachel khan....“ Arjuna mencegatku tepat di depan gerbang sekolah, hampir saja aku terjatuh karena kaget. Ngimpi apa ni anak, jadi baik gini... pikirku heran.
’’Cepet... mau ikut nggak ?“ sikap arogannya tidak berubah ternyata, Tanpa ba..bi...bu... lagi begitu tulang dudukku menyentuh jok motornya dia melaju sekencang-kencangya menantang jalanan. Duh... nie anak, ngak bisa pelan-pelan dikit napa... pikirku lagi. Kira-kira ada angin apa ya... sampe dia mw nyaperin aku bahkan ngasih tumpangan... semoga bukan hal buruk yang terjadi...tiba-tiba saja firasat buruk menyergap benakku.
Dia menurunkakku tepan di depan RSI sedangkan dia sendiri pergi mencari temapt parkir. Sudah sangat lama aku tak pernah menjejakkan kakiku disini, namun ternyata masih ada yang mengenaliku. Dengan sentyum khasnya Pak Satpam--yang dulu sering kuajak bermain petak umpet---menyapaku, mungkin dia akan banyak bertanya kalo Arjuna tidak buru-buru menepuk pundakku dan dengan isyarat satu tangan dia menyuruhku mengikutinya.
”kamar 302, lantai 3..” ucapnya begitu melewatiku. Sambil berjalan aku menatap mengelilingi lorong-lorong dan ruangan yang kulewati. Mencoba mencari perbedaannya dengan memoriku beberapa tahun yang lalu, namun hampir tak ada perubahan yang berarti seingatku.
”Kalian terlambat...” ucapan itu yang menyambut kami setibanya di kamar Rachel. Aku mencari-cari sosok manis teman baruku itu di sebelah seorang laki-laki paruh baya—yang aku kira ayahnya. Tak terlihat lagi lesung pipit miliknya, juga mata ceria yang mempesonaku, yang ada di depanku sekarang hanya sosok seorang gadis tak bernyawa dengan kain putih menyelubunginya. Dengan tubuh gemetaran Arjuna menutup sisa tubuh adiknya dengan kain tersebut, samar aku melihat air mata di wajahnya.

Satu minggu sudah berlalu sejak kepergian Rachel, walaupun baru 3 bulan sejak aku mengenalnya naun aku sangat terpukul dengan kepergiannya. Terlebih lagi kejadian tersebut membuat luka yang hampir sembuh dihatiku, perlahan terbuka. Tapi yang paling mungkin menanngun beban terberat adalah Arjuna. Matanya terlihat semakin dingin... jauh lebih dingin dari awal aku mengenalnya, sepertinya kesepian di hatinya sudah mencapai puncaknya.
Panjang umur juga dia... baru saja aku memikirkannya, dia melintas didepanku. Entah kenapa tiba-tiba aku bangit dan perlahan menikutinya. Langkahnya pelan namun dengan pasti seolah tahu kemana tujuannya, aku mengikutinya. Sempat dia menoleh ke arahku, tapi tanpa bertanya dia membiarkanku mengikutinya, bahkan dia memberikan helmnya kepadaku dan tumpangan di jok belakang motornya. Aku tahu pasti kemana tujuan kami, tempat peristirahatan terakhir orang yang—kebetulan—kami sayangi.

Tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit adalah hal pertama bagiku, lebih lagi dengan adanya Arjuna disampingku. Dia membawaku kemari, dari mimik mukanya dia terlihat ingin mengatakan sesuatu.
”Rachel bercerita banyak sekali tentangmu, dan ini baru pertama kalinya sejak dia bisa bicara....” ucapnya pelan, begitu pelannya seperti desir angin.
”Dia juga berpesan padaku... kalau sampai terjadi sesuatu dengannya... Aku harus tetap menjadi temanmu...” baru kali ini aku mendengar Arjuna berbicara banyak walau terpatah-patah. Desir angin membuat dedaunan sekitar kami ikut berbicara, tapi keheningan diantara kami membuat semuanya seakan berhenti.
Aku memandangnya, wajah itu masih sama, tetap dalam kekakuannya dan kesendiriannya, bahkan sekarang lebih terasa. Tanpa sadar aku bersenandung sambil menatap bintang yang seolah berubah menjadi senyum Rachel, senyum yang tidak akan pernah hilang dari benakku.
”Rachel juga bilang, kalau sebenarnya kamu tidak bisu.... hanya... tidak ingin bicara...” ucapnya pelan lebih seperti bicara pada dirinya sendiri. Entah kenapa kali ini tidak sedikitpun terbersit rasa kesal atau marah karena kata bisu yang dikeluarkannya, bahkan yang kurasakan saat ini hanyalah kelegaan, tak tahu karena apa. Aku teringat salah satu kalimat favoritku, ”ada terlalu banyak rahasia dalam kehidupan ini dan sebaiknya hal itu tetap menjadi rahasia”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar