Senin, 05 April 2010

PENGGUNAAN HCT (HIDROKLOROTIAZIC) PADA PENDERITA GERIATRI DENGAN HIPERTENSI

MAKALAH ILMIAH FARMASI

PENGGUNAAN HCT (HIDROKLOROTIAZIC) PADA PENDERITA GERIATRI DENGAN HIPERTENSI










Mahardian Pahlefi 010516634
Sarah Meryska A 010516635
Thiwit Nuruh Huda 010516636
Nanda Fadhilah Witris Salamy 010516637



LABORATORIUM ILMU FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
OKTOBER 2009







BAB I
PENDAHULUAN

Jumlah lansia semakin lama semakin banyak. Di Indonesia saja, di tahun 2007 sudah ada 5.65% populasi penduduk yang berusia 65 tahun ke atas (Depkes RI, 2009 Walaupun peningkatan tekanan darah bukan merupakan bagian normal dari ketuaan, insiden hipertensi pada lanjut usia adalah tinggi. Setelah umur 69 tahun, prevalensi hipertensi meningkat sampai 50%.Menurut JNC (Joint National Committee) VII yang berlaku 2003, hipertensi ditemukan sebanyak 60-70% pada populasi berusia di atas 65 tahun.

Baik TDS maupun TDD meningkat sesuai dengan meningkatnya umur. TDS meningkat secara progresif sampai umur 70-80 tahun, sedangkan TDD meningkat sampai umur 50-60 tahun dan kemudian cenderung menetap atau sedikit menurun. Kombinasi perubahan ini sangat mungkin mencerminkan adanya pengakuan pembuluh darah`dan penurunan kelenturan (compliance) arteri dan ini mengakibatkan peningkat tekanan nadi sesuai dengan umur.

Ada beberapa faktor yang mungkin berpengaruh pada peningkatan jumlah penderita hipertensi pada usia lanjut, diantaranya , (1) Terjadi pengerasan pembuluh darah, khususnya pembuluh nadi (arterial). Hal ini disertai pengurangan elastisitas dari otot jantung (miokard), (2) Sensitivitas baroreseptor pada pembuluh darah berkurang karena rigiditas pembuluh arteri. Akibatnya pembuluh darah tidak dapat berfluktuasi dengan segera sesuai dengan perubahan curah jantung, (3) Selain itu fungsi ginjal juga sudah menurun. Ginjal dalam keadaan normal juga berperan pada pengaturan tekanan darah, yaitu lewat sistem renin-angiotensin-aldosteron. Jika tekanan darah sistemik turun, ginjal menghasilkan renin lebih banyak untuk mengubah angiotensinogen (angiotensin I) menjadi angiotensin II, zat yang dapat menimbulkan vasokonstriksi pada pembuluh darah. Akibatnya tekanan darah akan meningkat. Selain beberapa faktor diatas, belakangan juga diketahui bahwa Resistensi Na akibat peningkatan asupan dan penurunan sekresi juga berperan dalam terjadinya hipertensi. Walaupun ditemukan penurunan renin plasma dan respons renin terhadap asupan garam, sistem renin-angiotensin tidak mempunyai peranan utama pada hipertensi pada lanjut usia.

Oleh karena itu penatalaksanaan hipertensi pada lanjut usia, terutama dalam bidang medikamentosa yang umum digunakan adalah diuretic, dengan prinsip dosis awal yang kecil dan ditingkatkan secara perlahan. Dengan sasaran tekanan darah yang ingin dicapai adalah tekanan darah sistolik _ 140 dan diastolic _ 90 mmHg. Salah satu preparat diuretic adalah HCT atau Hiroklorotiazid yang paling banyak terdapat di puskesmas karena harganya yang murah. Sehingga dokter umum perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bahan obat tersebut. Pengetahuan terhadap farmakokinetik, farmakodinamik, efek samping dan toksisistas HC diharapkan mampu membantu dokter umum untuk memilih terapi yang sesuai untuk pasiennya dengan didasarkan pada prinsip 5 tepat.
















BAB II
FARMASI – FARMAKOLOGI

a. Sifat fisiko-kimiwi
Struktur Hidroklorotiazid :
6-Chloro-3,4-dihydro-2H-1,2,4-benzo hiadiazine-7-sulfonamide 1,1-dioxide
BM : 297,73
pKa : 7,9 – 9,2
Hidroklorotiazid mengandung tidak kurang dari 98,0% C7H8ClN3O4S2 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Sediaan : serbuk halus, putih atau praktis putih; praktis tidak berbau. Kelarutan : sukar larut dalam air (< 1 dalam 10.000), mudah larut dalam larutan natrium hidroksida, dalam n-butilamina, dan dalam dimetilfornamida; agak sukar larut dalam metanol; tidak larut dalam eter, dalam kloroform, dan dalam asam mineral encer.

b. preparat dan cara penggunaan
hydrochlorotiazid biasa diberikan lewat oral dengan sediaan tablet (25mg, 50mg, 100mg) dan sediaan cair-solusio (10mg/ml, dan 100mg/ml)

c. farmakologi umum
Farmakokinetik
Semua thiazide diabsorbsi pada pemberian secara oral, umumnya efek obat tampak setelah 1 jam. Tetapi terdapat perbedaan dalam metabolismenya. Semua thiazide disekresi oleh sistem sekretorik asam organik dan bersaing pada beberapa hal dengan sekresi uric acid oleh sistem tersebut. Sebagai hasilnya, kecepatan sekresi uric acid dapat menurun, dengan diikuti peningkatan kadar uric acid serum. Pada steady state, produksi uric acid tidak dipengaruhi oleh thhiazide. Klorothiazide didistribusikan ke seluruh ruang ekstrasel dan dapat melewati sawar uri, tetapi obat ini hanya ditimbun dalam jaringan ginjal saja. Dengan suatu proses aktif, tiazid diekskresi oleh sel tubuli proksimal ke dalam cairan tubuli. Jadi klirens ginjal obat ini besar sekali, biasanya 3-6 jam sudah diekskresikan dari badan. Klorotiazid dalam badan tidak mengalami perubahan metabolik.


Farmakodinamik
Diuretik ini bekerja menghambat simporter Na dan Cl di hulu tubulus distalis. Sistem transpor ini dalam keadaan normal berfungsi membawa Na, selanjutnya dipompakan ke luar tubulus dan ditukar melalui kanal klorida. Efek farmakodinamik tiazid yang utama ialah meningkatkan ekskresi Natrium, klorida dan sejumlah air. Efek natriuresis dan kloruresis ini disebabkan oleh penghambatan mekanisme reabsorpsi elektrolit pada hulu tubuli distal. Laju ekskresi Na maksimal yang ditimbulkan oleh tiazid jauh lebih rendah dibandingkan dengan apa yang dicapai oleh beberapa diuretik lain, hal ini disebabakan 905 Na dalam cairan filtrat telah direabsorbsi lebih dulu sebelum mencapai tempat kerja tiazid.

Derivat tiazid memperlihatkan efek penghambatan karbonik anhidrasedengan ptensi yang berbeda-beda. Zat yang aktif sebagai pengahmbat karbonik anhidrase, dalam dosis yang mencukupi, memperlihatkan efek yang sama seperti asetazolamid dalam eksresi bikarbonat. Agaknya efek penghambatan karbonik anhidrase ini tidak berarti secara klinis. Efek penghambatan enzim karbonik anhidrase diluar ginjal praktis tidak terlihat karena tiazid tidak ditimbun di sel lain.

Pada pasien hipertensi, tiazid menurunkan tekanan darah bukan saja karena efek diuretiknya tetap juga karena efek langsung terhadap arteriol sehingga terjadi vasodilatasi.



Interaksi obat
Pengunaan indometayid dan NSAID lain dapat mengurangi efek diuretic tiazid karena kedua obat ini menghambat sìntesìs prostaglandin vasodilator di ginjal sehingga menurunkan aliran darah ginjal dan laju filtrasì glomerulus. Probenezid menghambat sekresì tiazid ke dalam lumden tubulus, sehingga efektivitas tiazid berkurang. Penggunaan obat-obat anti aritmia dan digitalis juga dapat meningkatkan risiko hipokalemia pada penderita dgn pengobatan tiazide.
























BAB III
TOKSISITAS

Efek samping tiazid berkaitan dg kadar plasma. Obat ini mulai digunakan sejak tahun 1950 dg dosìs 200 mg/h. dg tujuan untuk mendapat efek diuresìs. Akibatnya, doßìß tinhi ini menimbulkan berbagai efek samping. Uji klinik yg lebih br membuktikan bahwa dosìß yg lebih rendah yaitu 12,j-aj mg HCT kebih efektìf menurunkan tekanan darah dan mengurangi risìko kardiovaskuler. Efek ramping penggunbn diuretik tiazid adalah sebagai berikut.

Gangguan elektrolit, meliputi hipokalemia, hipovolemia, hiponatremia, hipokloremia, hipomagnesemia. Hipokalemia mempermudah terjadinya aritmia terutama pada pasien yang mendapat digitalis atau antiaritmia lain. Pemberian diuretik pada pasien sirosis dengan asites perlu dilakukan dgn hati-hati, gangguan pembentukan ion H menyebabkan amoniak tdk dpt diubah menjadi ion amonium dan memasuki darah, ini merupakan sakah satu faktor penyebab terjadinya depresi mental dan koma pada pasien sirosis hepatis.

Hiperkalsemia, tendensi hiperkalsemia pada pemberian tiazid jangka panjang merupakan efek samping yang menguntungkan terutama untuk orang tua dengan risiko osteoporosis, karena dpt mengurangi risiko fraktur.

Hiperurisemia, diuretik thazid dapat meningkatkan kadar asam urat darah karena efeknya menghambat sekresi dan meningkatkan reabsorbsi asam urat. Efek samping ini perlu menjadi perhatian pada pasien artritis gout karena dapat mencetuskan serangan gout akut.

Tiazid menurunkan toleransi glukosa dan mengurangi efektivitas obat hipoglikemik oral. Ada 3 faktor yang menyebabkan hal ini dan telah dapat dibuktikan pada tikus yaitu kurangnya sekresi insulin terhadap peninggian kadar glukosa plasma, meningkatnya glikogenolisis, dan berkurangnya glikogenesis. Penyelidikan klinis menunjukkan bahwa deplesi ion K ikut memegang peranan dalam hal menurunnya toleransì glukosa ini, mungkin sekali melalui penghambatan konversì insulin menjadi insulìn.

Tiazid dapat menyebabkan peningkatan kolesterol dan trigliserida plasma dgn mekanìsme yang tdk diketahui.

Gangguan fungsì seksual kadang-kadang dpt terjadì akibat pemakaian diuretic. Mekanìsme efek sampìng ini tdk diketahui dgn jelas.






















BAB IV
PEMBAHASAN

Prevalensi hipertensi pada lanjut usia lebih tinggi dibanding dengan penderita yang lebih muda. Sebagian besar merupakan hipertensi primer dan hipertensi sistolik terisolasi. Diagnosis hipertensi sama dengan orang pada umumnya seperti yang dianjurkan oleh JNC VI dan WHO. Mekanisme hipertensi pada lanjut usia belum sepenuhnya diketahui. Hal yang penting mungkin karena adanya pengakuan pembuluh darah arteri, disamping faktor lainnya seperti penurunan sensitivitas baroreseptor maupun adanya retensi natrium.

Penatalaksanaan hipertensi pada lanjut usia, pada prinsipnya tidak berbeda dengan hipertensi pada umumnya; yaitu terdiri dari modifikasi pola hidup dan bila diperlukan dilanjutkan dengan pemberian obat-obat antihipertensi. Obat yang umum digunakan adalah diuretic dengan prinsip dosis awal yang kecil dan ditingkatkan secara perlahan dengan sasaran tekanan darah yang ingin dicapai adalah tekanan darah sistolik kurang dari/sama dengan 140 dan diastolic kurang dari / sama dengan 90 mmHg. Salah satu preparat diuretik yang banyak ditemukan adalah HCT.

Diuretik jenis ini bekerja menghambat simporter Na dan Cl di hulu tubulus distalis. Sistem transpor ini dalam keadaan normal berfungsi membawa Na, selanjutnya dipompakan ke luar tubulus dan ditukar melalui kanal klorida. Efek farmakodinamik tiazid yang utama ialah meningkatkan ekskresi Natrium, klorida dan sejumlah air. Efek natriuresis dan kloruresis ini disebabkan oleh penghambatan mekanisme reabsorpsi elektrolit pada hulu tubuli distal.

Memang banyak efek samping yang ditemukan pada penggunaan seperti, hipokalemi, hiperkalsemia, hiperurisemia. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian sumplemen K atau pada kasus hipertensi pada penderita usia lanjutbisa dikombinasikan dengan obat anti hipertensi lainnya seperti golongan ACE inhibitor.

Penggunaan obat-obatan lain juga perlu diwaspadai karena interaksinya dengan HCT, seperti penggunaan NSAID, obat-obatan anti aritmia dan dìgitalis. Penggunaan NSAID dapat mengurangi efek diuretik, sebaliknya digitalis dapat meningkatkan risiko terjadinya hipokalemia.
























BAB V
RINGKASAN DAN KESIMPULAN

HCT merupakan salah satu preparat dari golongan Diuretik yang bisa digunakan untuk terapi medikamentosa pada penderita usia lanjut dengan hipertensi. Penggunaannya yang luas di masyarakat menuntut dokter umum untuk mengetahui farmakodinamik, farmakokinetik, efek samping dan toksisitas obat ini. Sehingga dokter umum mampu memilih HCT sebagai medikamentosa pada pasien bila diperlukan secara tepat.

SUMMARY
HCT is one of diuretic used for medicinal terapeutic in geriatic with hypertension. The wide using of HCT makes the physician to know the pharmacodynamics, pharmacokinetic, averse effect and toxicity of HCT. So, the physician can choose the right therapy for patient according to the rule of 5 rights.

















DAFTAR PUSTAKA

1. Tjokroprawiro, Askandar. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya. 2000. Rumah Sakit Pendidikan Dr. Soetomo.
2. Gan Gunawan, Sulistia. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta. 2007. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
3. Katzung, Bertram G. Farmakologi : Dasar dan Klinik Edisi Pertama. Jakarta. 2001. Salemba Medika.
4. Kuswardhani, RA Tuty. Penatalaksanaan Hipertensi pada Usia Lanjut. Denpasar. 2006. Jurnal Penyakit Dalam vol. 7 No 6. RSUD Sanglah, Denpasar.
5. Kaplan, NM. Hypertension in the elderly. London. 1999. Martin Dunitz;.
6. National Institute of Health (2003). JNC 7 Express: The 7th Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar