Kamis, 14 Januari 2010

ensefalitis herpes simpleks pada anak

Pembimbing:
Prof. Darto S., dr., SpAK


Penyusun:

Thiwit Nurul Huda 010516636
N.F. Witris Salamy 010516637
Stephen A.W. 010516640



DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK
FK UNAIR / RSU Dr. SOETOMO
Surabaya
2009


MENINGOENCEPHALITIS

Definisi Encephalitis
Encephalitis adalah suatu peradangan dari otak. Ada banyak tipe-tipe dari encephalitis, kebanyakan darinya disebabkan oleh infeksi-infeksi. Paling sering infeksi-infeksi ini disebabkan oleh virus-virus. Encephalitis dapat juga disebabkan oleh penyakit-penyakit yang menyebabkan peradangan dari otak (1).

Definisi Meningitis
Meningitis adalah suatu peradangan dari selaput-selaput (yang disebut meninges) yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Meningitis mungkin disebabkan oleh banyak virus-virus dan bakeri-bakteri yang berbeda. Ia juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat memicu peradangan dari jaringan-jaringan tubuh tanpa infeksi (seperti systemic lupus erythematosus dan penyakit Behcet) (1)

Etiologi Meningitis
Meningitis dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah kedalam cairan otak. Meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya, akan pulih tanpa pengobatan dan perawatan yang spesifik. Namun Meningitis disebabkan oleh bakteri bisa mengakibatkan kondisi serius, misalnya kerusakan otak, hilangnya pendengaran, kurangnya kemampuan belajar, bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan Meningitis disebabkan oleh jamur sangat jarang, jenis ini umumnya diderita orang yang mengalami kerusakan immun (daya tahan tubuh) seperti pada penderita AIDS (1).




Meningitis pada neonatus sampai umur 3
(Berasal dari jalan lahir) E. Coli, Klebsiella, Listeria,
Enterococcus, Streptococcus Golongan B (GBS)
Herpes Simplex (HSV,
75% tipe 2)
Meningitis pada Anak yang Berumur 3 Bulan
sampai 3 Tahun
• H. Influenzae: dulu penyebab utama pada 60% kasus
meningitis bakteri pada berumur < 1 tahun.
• H. Influenzae tipe B juga menyebabkan: epiglotitis,
OMP, arthritis septik & cellulitis.
• Vaksin HIB mengurangi kasus 98% HIB di AS
• Kini N. meningitidis & S. pneumoniae menjadi
penyebab utama di AS.
• Meningitis TBC paling sering tampak di golongan anak
ini, sebagai lanjutan dari infeksi primer.
Meningitis pada Anak yang Berumur 3
sampai 21 Tahun

• Penyebab utama: Virus (enterovirus,
arbovirus, herpesvirus)
• Bakteri yang paling sering N. meningitidis & S
pneumoniae
• Sindroma meningokoksemia: syok, DIC,
asidosis metabolik, purpura, eskemia pada
ujung jari, & apnea.


Etiologi Encephalitis
Encephalitis dapat diseabkan oleh infeksi bakteri dan seringkali oleh karena infeksi virus. Ada 2 jenis encephalitis, (1) Primary encephalitis, atau yang biasa disebut acute viral encephaliti, disebabkan oleh infeksi virus secara langsung pada spinal cord dan otak. Infeksi yang terjadi dat berupa infeksi local, hanya pada area tertentu, atau diffuse, tersebar diberbagai tempat. (2) encephalitis sekunder, atau yang disebut juga post-infective encephalitis, merupakan komplikasi dari infeksi virus yang telah terjadi. Encephalitis sekunder ini adalah akibat dari reaksi imun tubuh atau infeksi visur terdahulu yang biasa disebut sebagai acute disseminated encephalitis. Penyakit ini muncul pada 2-3 minggu setelah infeksi virus yang sebenarnya.
Kebanyakan kasus encephalitis di US disebabkan oleh enterovirus, herpes simplex virus tipe 1 dan 2, gigitan binatang (rabies), atau arbovirus yang mana penularan dari binatang yang terinfeksi ke manusia melalui gigitan. Hewan yang terinfeksi dapat berupa kutu, nyamuk, ataupun serangga penghisap darah lainnya.
Salah satu contohnya, Lyme disease, yaitu infeksi bakteri oleh karena gigitan kutu yang bias menyebabkan encephalitis (1).
Herpes simplex encephalitis
Herpes simplex encephalitis (HSE), terjadi pada kurang lebih 10 % dari semua kasus encephalitis., dengan frekuensi sebanyak 2 kasus tiap tahunnya. Lebih dari sebagian kasus yang tidak diterapi dapat berakibat fatal. Sekitar 30% kasus merupakan akibat dari infeksi sebelumnya dan kebaanyakan kasus karena reaktivasi dari infeksi sebelumnya.
Herpes Simplex Virus type 1, yang mana menyebabkan luka dingin pada mulut dan mata ataupun pelepuhan pada organ tersebut, dapat menyerang pada berbagai kelompok usia namun seringkali banyak menyerang pada kelompok usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 40 tahun. Gejala yang timbul, meliputi sakit kepala, demam samapai 5 hari, diikuti dengan perubahan tingkah laku dan kepribadian, kejang, lumpuh setengah badan, halusinasi dan bergai macam penurunan kesadaran. Kerusakan otak yang timbul pada anak-anak dan dewasa biasanya terlihat di daerah lobus frontal dan temporal.
Herpes Simplex Virus tipe 2 (herpes genital) seringkali menular karena kontak seksual. Ibu yang terinfeksi dapat menularkan pada bayinya pada saat persalinan melalui kontak dengan secret kemaluan, walaupun hal ini jarang terjadi. Pada neonatus, gejala-gejala seperti letargi, kejang, rewel biasanya muncul antar usia 4-11 hari setelah persalinan (4).

Pathophysiology
Masih belum jelas, ada kemungkinan
(1) Infeksi otak sering merupakan infeksi primer akibat transmisi virus secara langsung melalui jalan neuronal dari perifer ke otak melalui N. Trigeminus atau N. Olfactorius. Factor – factor yang mempercepat terjadinya HSE tidak diketahui. Walaupun HSE sering didapatkan pada penderita dengan penurunan system imun, sebagian besar penderita tidak pernah mengalami supresi system imun. Pada sepertiga kasus-kasus HSE merupakan komplikasi dari infeksi primer HSV sedangkan sisanya disebabkan oleh infeksi ulangan.
(2) Pada beberapa kasus HSE merupakan reaktivasi infeksi berupa herpes virus laten dalam otak. HSV asimtomatik sering dijumpai berdasarkan tingginya prevalensi antibody terhadap HSV pada populasi. Infeksi HSV laten dalam otak merupakan bagian terbesar dari penyakit neurologi asimptomatik. Dari hasil otopsi, HSV dijumpai di otak pada 35 % populasi tanpa gejala neurologi hingga penderita meninggal. (5)

Manifestasi Klinis
EHS dapat bermanifestasi sebagai bentuk akut atau sub akut. Pada fase prodromal, pasien mengalami malise dan demam berlangsung 1-7 hari. Manifestasi ensefalitis simulai dengan sakit kepala, muntah, perubahan kepribadian dan gangguan daya ingat yang sangat sulit dideteksi pada anak kecil. Kemudian pasien mangalami kejang dan penurunan kesadaran. Kejang dapat berupa kejang fokal maupun kejang general. Harus diingat bahwa kejang umum dapat diawali kejang fokal yang berkembang menjadi kejang umum. Bila kejang fokal sangat singkat, orangtua sering tidak mengetahui.
Kesadaran menurun sampai koma dan letyargi. Koma adalah faktor prognosis yang sangat buruk, pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh dengan gejala sisa yang berat. Kematian biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama. Pemeriksaan neurologis seringkali meunjukkan afasia, ataksia, gangguan sistem otonom, paresis saraf kranialis, kaku kuduk dan papiledema. Kadang-kadang manifestasi klinis menyerupai meningitis aseptik tanpa manifestasi ensefalitis yang jelas.
Jelaslah bahwa manifestasi klinis sangatlah tidak spesifik, terutama pada anak, dan diagnosis WHS sangat memerlukan kecurigaan klinis yang bsangat kuat. Secara prktis kita harus selalu memikirkan kemungkinan EHS bila menjumpai seorang anak dengan demam, kejang terutama kejang fokal, dan gejala neurologis fokal lain seperti hemiparesis atau afasia dengan penurunan keasdaran yang progresif (5).
Diagnosis
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Gangguan kesadaran, demam, disfasia, ataxia, kejang fokal > general, hemiparesis, gangguan saraf otak, hilangnya lapangan pandang, dan papiledema. Pada neonatus, temperature tidak stabil, ubun-ubun besar menonjol, tanda traktus piramidalis, ikterus, renjatan, perdarahan, distress nafas dan lesi kulit yang khas (6).
Pemeriksaan Penunjang
• Analisis CNS, menunjukkan pleositosis mononuclear dengan peningkatan kadar protein sedangkan kadar glukosa normal atau menurun sedikit
• PCR, analisis PCR CSS bersifat sensitive dan spesifik untuk menegakkan diagnosis HSE, walaupun sudah mendapatkan terapi antivirus.
• MRI, mampu menunjukkan perubahan patologis yang biasanya bilateral, pada bagian medial lobus temporalis dan bagian inferior lobus frontalis. Adanya lesi pada lobus temporalis merupakan hal bermakna dalam dugaan HSE
• EEG, menunjukkan kelainan fokal abnormal, seperti spike dan slow-wave atau pola periodic sharp-wave pada lobus temporalis.
• Biopsi otak, merupakan salah satu pemeriksaan definitive untuk menegakkan diagnosis HSE.

Diagnosis banding
Meningitis asetik
Penatalaksanaan
Acylovir 10 mg/kgBB/dosis setiap 8 jam iv drip dalam 1 jam selama 10 hr. Efek samping adalah peningkatan kadar ureum dan kreatinin, tergantung kadar obat dalam plasma. Pemberian secara perlahan akan mengurangi efek samping (6,5).
Terapi suportif lainnya, seperti obat anti kejang, penurun panas, oksigenasi, juga nutrisi baik parenteral maupun enteral.
Prognosis
Prognosis EHS yang tidak diobati sangat buruk dengan kematian 70-80% setelah 30 hari dan meningkat menjadi 90% dalam 6 bulan. Pengobatan dini dengan asiklovir akan menurunkan mortalitas menjadi 28%. Gejala sisa lebih sering ditemukan dan lebih berat pada kasus yang tidak diobati. Keterl;ambatan pengobatan yang lebih dari 4 hari memberikan prognosis buruk, demikian juga koma, pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh sengan gejala sisa yang berat (5).







Daftar Pustaka
1. Creator, Graham. Dr. Herpes Simplex Encephalitis. 2003 . Available from : Available from : www.encephalitis.info/Info/.../TypesEncephalitis/HSE.aspx
2. Kohl S. Post natal herpes simplex viru infection. In : Feign RD, Cherry JD, ed. Textbook of pediatric infectious disease. Philadelphia: WB Saunders, 1992
3. NINDS, Meningitis and encephalitis fact sheet. April 2004. available from : http://www.ninds.nih.gov/disorders/encephalitis_meningitis/detail_encephalitis_meningitis.htm
4. Pritz, Tod. Herpes Simplex Encephalitis, Update : Jan 7, 2010. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/792486-overview
5. Soetomenggolo, Taslim. dkk. Buku Ajar Neurologi Anak. 1999. Jakarta.
6. Pedoman Diagnostik dan Terapi Bag / SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr. Soetomo. Edisi III. 2006. Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar