mengapa, setiap kali aku melihatmu
keteduhan selalu terpancar dari kedua bola mata itu
membuatku terperangkap jauh kedalamnya
bahkan sedetikpun tak bisa aku mengedipkan mata
mengapa setiap kali aku melihatmu
senyuman itu selalu muncul
membuatku terlena terpesona
sampai tak aku hiraukan kesedihanku
mengapa setiap kali aku melihatmu
tak ada satupun kata yang keluar dari mulutku
membuatku bisu dan tuli dalam sekejap
seakan tak satupun huruf yang ada diotakku, selain dirimu...
haruskah aku tetap melihatmu, sementara jiwaku
terperangkap dalam kedua matamu
terlena oleh senyumanmu
terjerumus dalam kebisuan oleh karena dirimu
haruskah aku............??????
Kamis, 28 Januari 2010
Kamis, 14 Januari 2010
satu menit dalam tidurq
mataku terbangun dan mendapati hamparan rumput dihadapanku...
beberapa rumpun bunga nampak menghiasi karpet hijau segar itu, menjadikannya warna-warni indah yang sempurna.
seperti d sebuah bukit aku mendapati diriku, dan tak terlihat seorangpun disana...
pelan aku menghirup udara di sekitarku memaksanya masuk dan memenuhi ruang di paru-paruku.
sambil merentangkan tangan aku membayangkan diri menjadi rose dalam titanic... merasakan indahnya alam...
lebih sempurna lagi kalau ada yang mendampingi... itu yang memenuhi benakku
suara derap langkah kuda mengusikku, mengembalikanku kebukit hijau nan indah
dari kejauhan terlihat kuda putih dengan pengendaranya...
tak terlihat wajahnya tertutup oleh kabut...
perlahan... sangat perlahan dy mendekat...
NAMUN....
beberapa tetes air membasahi wajahku membuatku terpejam, dan tak lama
terhenyak sebentar aku di tempat tidurku
memikirkan sesuatu yg terjadi dlm bayang tidurq...
sambil tersenyum aq berucap...
"datanglah kau pangeran impianku"...
beberapa rumpun bunga nampak menghiasi karpet hijau segar itu, menjadikannya warna-warni indah yang sempurna.
seperti d sebuah bukit aku mendapati diriku, dan tak terlihat seorangpun disana...
pelan aku menghirup udara di sekitarku memaksanya masuk dan memenuhi ruang di paru-paruku.
sambil merentangkan tangan aku membayangkan diri menjadi rose dalam titanic... merasakan indahnya alam...
lebih sempurna lagi kalau ada yang mendampingi... itu yang memenuhi benakku
suara derap langkah kuda mengusikku, mengembalikanku kebukit hijau nan indah
dari kejauhan terlihat kuda putih dengan pengendaranya...
tak terlihat wajahnya tertutup oleh kabut...
perlahan... sangat perlahan dy mendekat...
NAMUN....
beberapa tetes air membasahi wajahku membuatku terpejam, dan tak lama
terhenyak sebentar aku di tempat tidurku
memikirkan sesuatu yg terjadi dlm bayang tidurq...
sambil tersenyum aq berucap...
"datanglah kau pangeran impianku"...
Asuhan Persalinan Normal
1. kie dan informent consent, menjelaskan kepa ibu dan keluarga mengenai kondisi ibu dan janin serta tindakan yang akan dilakukan
2. persiapan ibu, janin dan penolong
a. persiapan ibu : obat-obatan (lidokain,oksitosin,spuit 3cc,spuit5cc), kateter, doek steril, povidon iodine, savlon, gunting episiotomi, hacting pack, infus set, oxygen
b. persiapan janin : partus set, pengikat tali pusat, kain penghangat bayi, alat resusitasi bayi, suction, funandoskop (dopler)
c. persiapan penolong : cap, google, masker, scot, hanscoon steril, hanscoon panjang untuk manual placenta, sepatu boot, penolong yang kompeten
3. mengenali tanda-tanda kala 2, yaitu his yang adekuat (fundal dominant, lama his 40-60'' sebanyak 3-5x dalam 10'), show, dorongan mengejan, perineum menonjol, anus dan vulva membuka
4. lakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui apakah syarat-syarat dilakukannya persalinan normal terpenuhi, yaitu pembukaan lengkap, ketuban pecah atau dipecahkan, janin turun sampai HIII+/HIV, presentasi kepala dengan denominator uuk kiri/kanan depan, UPD normal sehingga dapat lahir pervaginam
5.ibu diposisikan litotomi, kandung kemih dikosongkan, desinfeksi vulva/vagina, pasang doek steril
6. ibu diajarkan cara mengejan yang benar : dalam keadaan litotomy, bila timbul his, ibu merangkul kedua kaki pada sendi lutut sampai batas siku, dagu menempel dada, mengejan pada perut bukan pada leher
7. bersamaan dengan his, ibu dipimpin mengejan, dan hanya mengejan pada saat his. saat his hilang, ibu diistirahatkan dan seorang asistenmelakukan evaluasi DJJ
8. pada waktu kepala janin di dasar panggul, UUk di bawah symphisis, subocciput sebagai hipomuklion, kepala janin mengadakan defleksi
9. pada waktu kepala janin membuka vulva, tangan kanan penolong menahan perineum, sedangkan tangan kiri menahan kepala janin agar defleksi tidak terlalu cepat
10. kemudian secara berturut2 lahirlah UUK, UUB, dahi, muka dagu, dan seluruh kepala. usap mulut dan hidung janin. wajah dan bagian belakang kepala bayi diusap serta bersihkan pula lipatan paha ibu dan daerah sekitar vulva.
11. periksa apakah ada lilitan tali pusat. bila lilitan longgar segera lepaskan. bila lilitan kencang segera klem di 2 tempat dan potong diantaranya dengan perlindungan tangan kiri
12. biarkan kepala janin mengadakan putar paksi luar'
13. penolong berdiri di kanan ibu, kepala janin dipegang secara biparietal, untuk melahirkan bahu depan kepala ditarik curam ke bawah sampai bahu depan lahir dan dielevasikan ke atas untuk melahirkan bahu belakang
14. tangan yang satu menahan kepala bayi sedangkan tangan penolong yang lain diletakkan di belakang badan bayi
15. bayi ditarik mendatar dan diletakkan di perut ibu
16. tali pusat diklem 3 cm dari pusar kemudian diurut ke arah ibu, diklem lagi dengan jarak 2 cm dari klem pertama, potong diantaranya dengan perlindungan tangan kiri
17. sisa tali pusat pada bayi diikat, klem dilepaskan. bayi diselimuti kemudian diberikan kepada ibu untuk disusui (inisiasi dini) kemudian bayi dirawat
2. persiapan ibu, janin dan penolong
a. persiapan ibu : obat-obatan (lidokain,oksitosin,spuit 3cc,spuit5cc), kateter, doek steril, povidon iodine, savlon, gunting episiotomi, hacting pack, infus set, oxygen
b. persiapan janin : partus set, pengikat tali pusat, kain penghangat bayi, alat resusitasi bayi, suction, funandoskop (dopler)
c. persiapan penolong : cap, google, masker, scot, hanscoon steril, hanscoon panjang untuk manual placenta, sepatu boot, penolong yang kompeten
3. mengenali tanda-tanda kala 2, yaitu his yang adekuat (fundal dominant, lama his 40-60'' sebanyak 3-5x dalam 10'), show, dorongan mengejan, perineum menonjol, anus dan vulva membuka
4. lakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui apakah syarat-syarat dilakukannya persalinan normal terpenuhi, yaitu pembukaan lengkap, ketuban pecah atau dipecahkan, janin turun sampai HIII+/HIV, presentasi kepala dengan denominator uuk kiri/kanan depan, UPD normal sehingga dapat lahir pervaginam
5.ibu diposisikan litotomi, kandung kemih dikosongkan, desinfeksi vulva/vagina, pasang doek steril
6. ibu diajarkan cara mengejan yang benar : dalam keadaan litotomy, bila timbul his, ibu merangkul kedua kaki pada sendi lutut sampai batas siku, dagu menempel dada, mengejan pada perut bukan pada leher
7. bersamaan dengan his, ibu dipimpin mengejan, dan hanya mengejan pada saat his. saat his hilang, ibu diistirahatkan dan seorang asistenmelakukan evaluasi DJJ
8. pada waktu kepala janin di dasar panggul, UUk di bawah symphisis, subocciput sebagai hipomuklion, kepala janin mengadakan defleksi
9. pada waktu kepala janin membuka vulva, tangan kanan penolong menahan perineum, sedangkan tangan kiri menahan kepala janin agar defleksi tidak terlalu cepat
10. kemudian secara berturut2 lahirlah UUK, UUB, dahi, muka dagu, dan seluruh kepala. usap mulut dan hidung janin. wajah dan bagian belakang kepala bayi diusap serta bersihkan pula lipatan paha ibu dan daerah sekitar vulva.
11. periksa apakah ada lilitan tali pusat. bila lilitan longgar segera lepaskan. bila lilitan kencang segera klem di 2 tempat dan potong diantaranya dengan perlindungan tangan kiri
12. biarkan kepala janin mengadakan putar paksi luar'
13. penolong berdiri di kanan ibu, kepala janin dipegang secara biparietal, untuk melahirkan bahu depan kepala ditarik curam ke bawah sampai bahu depan lahir dan dielevasikan ke atas untuk melahirkan bahu belakang
14. tangan yang satu menahan kepala bayi sedangkan tangan penolong yang lain diletakkan di belakang badan bayi
15. bayi ditarik mendatar dan diletakkan di perut ibu
16. tali pusat diklem 3 cm dari pusar kemudian diurut ke arah ibu, diklem lagi dengan jarak 2 cm dari klem pertama, potong diantaranya dengan perlindungan tangan kiri
17. sisa tali pusat pada bayi diikat, klem dilepaskan. bayi diselimuti kemudian diberikan kepada ibu untuk disusui (inisiasi dini) kemudian bayi dirawat
Q....
Aku.....
Aku hidup daam bayangan...
Bukan bayangan orang lain...
Tapi bayangan abstrak yang kuciptakan sendiri
Aku membuat dirik terjebak
Terus masuk ke dalam
Tanpa memperdulikan kenyataan
Masa bodoh dengan kenyataan
Aku putus asa
Putus asa pada kenyataan
Yang selalu ak memihakku
Bukan dalam hal apapun....
Karena aku tahu banyak orang yang ingin
Ingin memiliki kehidupanku
Aku tak sempurna
Aku selalu berbohong
Tak ingin kecewa
Dan selalu menghindari resiko
Aku ingi lepas bebas seperti burung
Pergi kemanapun, melakukan apapun
Tanpa ketakutan
Atau kebimbangan
Aku sadar aku manusia
Makhluk tak sempurna
Tapi salahkah
Kalo aku menginginkan kesempurnaan
Aku hidup daam bayangan...
Bukan bayangan orang lain...
Tapi bayangan abstrak yang kuciptakan sendiri
Aku membuat dirik terjebak
Terus masuk ke dalam
Tanpa memperdulikan kenyataan
Masa bodoh dengan kenyataan
Aku putus asa
Putus asa pada kenyataan
Yang selalu ak memihakku
Bukan dalam hal apapun....
Karena aku tahu banyak orang yang ingin
Ingin memiliki kehidupanku
Aku tak sempurna
Aku selalu berbohong
Tak ingin kecewa
Dan selalu menghindari resiko
Aku ingi lepas bebas seperti burung
Pergi kemanapun, melakukan apapun
Tanpa ketakutan
Atau kebimbangan
Aku sadar aku manusia
Makhluk tak sempurna
Tapi salahkah
Kalo aku menginginkan kesempurnaan
ensefalitis herpes simpleks pada anak
Pembimbing:
Prof. Darto S., dr., SpAK
Penyusun:
Thiwit Nurul Huda 010516636
N.F. Witris Salamy 010516637
Stephen A.W. 010516640
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK
FK UNAIR / RSU Dr. SOETOMO
Surabaya
2009
MENINGOENCEPHALITIS
Definisi Encephalitis
Encephalitis adalah suatu peradangan dari otak. Ada banyak tipe-tipe dari encephalitis, kebanyakan darinya disebabkan oleh infeksi-infeksi. Paling sering infeksi-infeksi ini disebabkan oleh virus-virus. Encephalitis dapat juga disebabkan oleh penyakit-penyakit yang menyebabkan peradangan dari otak (1).
Definisi Meningitis
Meningitis adalah suatu peradangan dari selaput-selaput (yang disebut meninges) yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Meningitis mungkin disebabkan oleh banyak virus-virus dan bakeri-bakteri yang berbeda. Ia juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat memicu peradangan dari jaringan-jaringan tubuh tanpa infeksi (seperti systemic lupus erythematosus dan penyakit Behcet) (1)
Etiologi Meningitis
Meningitis dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah kedalam cairan otak. Meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya, akan pulih tanpa pengobatan dan perawatan yang spesifik. Namun Meningitis disebabkan oleh bakteri bisa mengakibatkan kondisi serius, misalnya kerusakan otak, hilangnya pendengaran, kurangnya kemampuan belajar, bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan Meningitis disebabkan oleh jamur sangat jarang, jenis ini umumnya diderita orang yang mengalami kerusakan immun (daya tahan tubuh) seperti pada penderita AIDS (1).
Meningitis pada neonatus sampai umur 3
(Berasal dari jalan lahir) E. Coli, Klebsiella, Listeria,
Enterococcus, Streptococcus Golongan B (GBS)
Herpes Simplex (HSV,
75% tipe 2)
Meningitis pada Anak yang Berumur 3 Bulan
sampai 3 Tahun
• H. Influenzae: dulu penyebab utama pada 60% kasus
meningitis bakteri pada berumur < 1 tahun.
• H. Influenzae tipe B juga menyebabkan: epiglotitis,
OMP, arthritis septik & cellulitis.
• Vaksin HIB mengurangi kasus 98% HIB di AS
• Kini N. meningitidis & S. pneumoniae menjadi
penyebab utama di AS.
• Meningitis TBC paling sering tampak di golongan anak
ini, sebagai lanjutan dari infeksi primer.
Meningitis pada Anak yang Berumur 3
sampai 21 Tahun
• Penyebab utama: Virus (enterovirus,
arbovirus, herpesvirus)
• Bakteri yang paling sering N. meningitidis & S
pneumoniae
• Sindroma meningokoksemia: syok, DIC,
asidosis metabolik, purpura, eskemia pada
ujung jari, & apnea.
Etiologi Encephalitis
Encephalitis dapat diseabkan oleh infeksi bakteri dan seringkali oleh karena infeksi virus. Ada 2 jenis encephalitis, (1) Primary encephalitis, atau yang biasa disebut acute viral encephaliti, disebabkan oleh infeksi virus secara langsung pada spinal cord dan otak. Infeksi yang terjadi dat berupa infeksi local, hanya pada area tertentu, atau diffuse, tersebar diberbagai tempat. (2) encephalitis sekunder, atau yang disebut juga post-infective encephalitis, merupakan komplikasi dari infeksi virus yang telah terjadi. Encephalitis sekunder ini adalah akibat dari reaksi imun tubuh atau infeksi visur terdahulu yang biasa disebut sebagai acute disseminated encephalitis. Penyakit ini muncul pada 2-3 minggu setelah infeksi virus yang sebenarnya.
Kebanyakan kasus encephalitis di US disebabkan oleh enterovirus, herpes simplex virus tipe 1 dan 2, gigitan binatang (rabies), atau arbovirus yang mana penularan dari binatang yang terinfeksi ke manusia melalui gigitan. Hewan yang terinfeksi dapat berupa kutu, nyamuk, ataupun serangga penghisap darah lainnya.
Salah satu contohnya, Lyme disease, yaitu infeksi bakteri oleh karena gigitan kutu yang bias menyebabkan encephalitis (1).
Herpes simplex encephalitis
Herpes simplex encephalitis (HSE), terjadi pada kurang lebih 10 % dari semua kasus encephalitis., dengan frekuensi sebanyak 2 kasus tiap tahunnya. Lebih dari sebagian kasus yang tidak diterapi dapat berakibat fatal. Sekitar 30% kasus merupakan akibat dari infeksi sebelumnya dan kebaanyakan kasus karena reaktivasi dari infeksi sebelumnya.
Herpes Simplex Virus type 1, yang mana menyebabkan luka dingin pada mulut dan mata ataupun pelepuhan pada organ tersebut, dapat menyerang pada berbagai kelompok usia namun seringkali banyak menyerang pada kelompok usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 40 tahun. Gejala yang timbul, meliputi sakit kepala, demam samapai 5 hari, diikuti dengan perubahan tingkah laku dan kepribadian, kejang, lumpuh setengah badan, halusinasi dan bergai macam penurunan kesadaran. Kerusakan otak yang timbul pada anak-anak dan dewasa biasanya terlihat di daerah lobus frontal dan temporal.
Herpes Simplex Virus tipe 2 (herpes genital) seringkali menular karena kontak seksual. Ibu yang terinfeksi dapat menularkan pada bayinya pada saat persalinan melalui kontak dengan secret kemaluan, walaupun hal ini jarang terjadi. Pada neonatus, gejala-gejala seperti letargi, kejang, rewel biasanya muncul antar usia 4-11 hari setelah persalinan (4).
Pathophysiology
Masih belum jelas, ada kemungkinan
(1) Infeksi otak sering merupakan infeksi primer akibat transmisi virus secara langsung melalui jalan neuronal dari perifer ke otak melalui N. Trigeminus atau N. Olfactorius. Factor – factor yang mempercepat terjadinya HSE tidak diketahui. Walaupun HSE sering didapatkan pada penderita dengan penurunan system imun, sebagian besar penderita tidak pernah mengalami supresi system imun. Pada sepertiga kasus-kasus HSE merupakan komplikasi dari infeksi primer HSV sedangkan sisanya disebabkan oleh infeksi ulangan.
(2) Pada beberapa kasus HSE merupakan reaktivasi infeksi berupa herpes virus laten dalam otak. HSV asimtomatik sering dijumpai berdasarkan tingginya prevalensi antibody terhadap HSV pada populasi. Infeksi HSV laten dalam otak merupakan bagian terbesar dari penyakit neurologi asimptomatik. Dari hasil otopsi, HSV dijumpai di otak pada 35 % populasi tanpa gejala neurologi hingga penderita meninggal. (5)
Manifestasi Klinis
EHS dapat bermanifestasi sebagai bentuk akut atau sub akut. Pada fase prodromal, pasien mengalami malise dan demam berlangsung 1-7 hari. Manifestasi ensefalitis simulai dengan sakit kepala, muntah, perubahan kepribadian dan gangguan daya ingat yang sangat sulit dideteksi pada anak kecil. Kemudian pasien mangalami kejang dan penurunan kesadaran. Kejang dapat berupa kejang fokal maupun kejang general. Harus diingat bahwa kejang umum dapat diawali kejang fokal yang berkembang menjadi kejang umum. Bila kejang fokal sangat singkat, orangtua sering tidak mengetahui.
Kesadaran menurun sampai koma dan letyargi. Koma adalah faktor prognosis yang sangat buruk, pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh dengan gejala sisa yang berat. Kematian biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama. Pemeriksaan neurologis seringkali meunjukkan afasia, ataksia, gangguan sistem otonom, paresis saraf kranialis, kaku kuduk dan papiledema. Kadang-kadang manifestasi klinis menyerupai meningitis aseptik tanpa manifestasi ensefalitis yang jelas.
Jelaslah bahwa manifestasi klinis sangatlah tidak spesifik, terutama pada anak, dan diagnosis WHS sangat memerlukan kecurigaan klinis yang bsangat kuat. Secara prktis kita harus selalu memikirkan kemungkinan EHS bila menjumpai seorang anak dengan demam, kejang terutama kejang fokal, dan gejala neurologis fokal lain seperti hemiparesis atau afasia dengan penurunan keasdaran yang progresif (5).
Diagnosis
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Gangguan kesadaran, demam, disfasia, ataxia, kejang fokal > general, hemiparesis, gangguan saraf otak, hilangnya lapangan pandang, dan papiledema. Pada neonatus, temperature tidak stabil, ubun-ubun besar menonjol, tanda traktus piramidalis, ikterus, renjatan, perdarahan, distress nafas dan lesi kulit yang khas (6).
Pemeriksaan Penunjang
• Analisis CNS, menunjukkan pleositosis mononuclear dengan peningkatan kadar protein sedangkan kadar glukosa normal atau menurun sedikit
• PCR, analisis PCR CSS bersifat sensitive dan spesifik untuk menegakkan diagnosis HSE, walaupun sudah mendapatkan terapi antivirus.
• MRI, mampu menunjukkan perubahan patologis yang biasanya bilateral, pada bagian medial lobus temporalis dan bagian inferior lobus frontalis. Adanya lesi pada lobus temporalis merupakan hal bermakna dalam dugaan HSE
• EEG, menunjukkan kelainan fokal abnormal, seperti spike dan slow-wave atau pola periodic sharp-wave pada lobus temporalis.
• Biopsi otak, merupakan salah satu pemeriksaan definitive untuk menegakkan diagnosis HSE.
Diagnosis banding
Meningitis asetik
Penatalaksanaan
Acylovir 10 mg/kgBB/dosis setiap 8 jam iv drip dalam 1 jam selama 10 hr. Efek samping adalah peningkatan kadar ureum dan kreatinin, tergantung kadar obat dalam plasma. Pemberian secara perlahan akan mengurangi efek samping (6,5).
Terapi suportif lainnya, seperti obat anti kejang, penurun panas, oksigenasi, juga nutrisi baik parenteral maupun enteral.
Prognosis
Prognosis EHS yang tidak diobati sangat buruk dengan kematian 70-80% setelah 30 hari dan meningkat menjadi 90% dalam 6 bulan. Pengobatan dini dengan asiklovir akan menurunkan mortalitas menjadi 28%. Gejala sisa lebih sering ditemukan dan lebih berat pada kasus yang tidak diobati. Keterl;ambatan pengobatan yang lebih dari 4 hari memberikan prognosis buruk, demikian juga koma, pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh sengan gejala sisa yang berat (5).
Daftar Pustaka
1. Creator, Graham. Dr. Herpes Simplex Encephalitis. 2003 . Available from : Available from : www.encephalitis.info/Info/.../TypesEncephalitis/HSE.aspx
2. Kohl S. Post natal herpes simplex viru infection. In : Feign RD, Cherry JD, ed. Textbook of pediatric infectious disease. Philadelphia: WB Saunders, 1992
3. NINDS, Meningitis and encephalitis fact sheet. April 2004. available from : http://www.ninds.nih.gov/disorders/encephalitis_meningitis/detail_encephalitis_meningitis.htm
4. Pritz, Tod. Herpes Simplex Encephalitis, Update : Jan 7, 2010. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/792486-overview
5. Soetomenggolo, Taslim. dkk. Buku Ajar Neurologi Anak. 1999. Jakarta.
6. Pedoman Diagnostik dan Terapi Bag / SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr. Soetomo. Edisi III. 2006. Surabaya
Prof. Darto S., dr., SpAK
Penyusun:
Thiwit Nurul Huda 010516636
N.F. Witris Salamy 010516637
Stephen A.W. 010516640
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK
FK UNAIR / RSU Dr. SOETOMO
Surabaya
2009
MENINGOENCEPHALITIS
Definisi Encephalitis
Encephalitis adalah suatu peradangan dari otak. Ada banyak tipe-tipe dari encephalitis, kebanyakan darinya disebabkan oleh infeksi-infeksi. Paling sering infeksi-infeksi ini disebabkan oleh virus-virus. Encephalitis dapat juga disebabkan oleh penyakit-penyakit yang menyebabkan peradangan dari otak (1).
Definisi Meningitis
Meningitis adalah suatu peradangan dari selaput-selaput (yang disebut meninges) yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Meningitis mungkin disebabkan oleh banyak virus-virus dan bakeri-bakteri yang berbeda. Ia juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat memicu peradangan dari jaringan-jaringan tubuh tanpa infeksi (seperti systemic lupus erythematosus dan penyakit Behcet) (1)
Etiologi Meningitis
Meningitis dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah kedalam cairan otak. Meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya, akan pulih tanpa pengobatan dan perawatan yang spesifik. Namun Meningitis disebabkan oleh bakteri bisa mengakibatkan kondisi serius, misalnya kerusakan otak, hilangnya pendengaran, kurangnya kemampuan belajar, bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan Meningitis disebabkan oleh jamur sangat jarang, jenis ini umumnya diderita orang yang mengalami kerusakan immun (daya tahan tubuh) seperti pada penderita AIDS (1).
Meningitis pada neonatus sampai umur 3
(Berasal dari jalan lahir) E. Coli, Klebsiella, Listeria,
Enterococcus, Streptococcus Golongan B (GBS)
Herpes Simplex (HSV,
75% tipe 2)
Meningitis pada Anak yang Berumur 3 Bulan
sampai 3 Tahun
• H. Influenzae: dulu penyebab utama pada 60% kasus
meningitis bakteri pada berumur < 1 tahun.
• H. Influenzae tipe B juga menyebabkan: epiglotitis,
OMP, arthritis septik & cellulitis.
• Vaksin HIB mengurangi kasus 98% HIB di AS
• Kini N. meningitidis & S. pneumoniae menjadi
penyebab utama di AS.
• Meningitis TBC paling sering tampak di golongan anak
ini, sebagai lanjutan dari infeksi primer.
Meningitis pada Anak yang Berumur 3
sampai 21 Tahun
• Penyebab utama: Virus (enterovirus,
arbovirus, herpesvirus)
• Bakteri yang paling sering N. meningitidis & S
pneumoniae
• Sindroma meningokoksemia: syok, DIC,
asidosis metabolik, purpura, eskemia pada
ujung jari, & apnea.
Etiologi Encephalitis
Encephalitis dapat diseabkan oleh infeksi bakteri dan seringkali oleh karena infeksi virus. Ada 2 jenis encephalitis, (1) Primary encephalitis, atau yang biasa disebut acute viral encephaliti, disebabkan oleh infeksi virus secara langsung pada spinal cord dan otak. Infeksi yang terjadi dat berupa infeksi local, hanya pada area tertentu, atau diffuse, tersebar diberbagai tempat. (2) encephalitis sekunder, atau yang disebut juga post-infective encephalitis, merupakan komplikasi dari infeksi virus yang telah terjadi. Encephalitis sekunder ini adalah akibat dari reaksi imun tubuh atau infeksi visur terdahulu yang biasa disebut sebagai acute disseminated encephalitis. Penyakit ini muncul pada 2-3 minggu setelah infeksi virus yang sebenarnya.
Kebanyakan kasus encephalitis di US disebabkan oleh enterovirus, herpes simplex virus tipe 1 dan 2, gigitan binatang (rabies), atau arbovirus yang mana penularan dari binatang yang terinfeksi ke manusia melalui gigitan. Hewan yang terinfeksi dapat berupa kutu, nyamuk, ataupun serangga penghisap darah lainnya.
Salah satu contohnya, Lyme disease, yaitu infeksi bakteri oleh karena gigitan kutu yang bias menyebabkan encephalitis (1).
Herpes simplex encephalitis
Herpes simplex encephalitis (HSE), terjadi pada kurang lebih 10 % dari semua kasus encephalitis., dengan frekuensi sebanyak 2 kasus tiap tahunnya. Lebih dari sebagian kasus yang tidak diterapi dapat berakibat fatal. Sekitar 30% kasus merupakan akibat dari infeksi sebelumnya dan kebaanyakan kasus karena reaktivasi dari infeksi sebelumnya.
Herpes Simplex Virus type 1, yang mana menyebabkan luka dingin pada mulut dan mata ataupun pelepuhan pada organ tersebut, dapat menyerang pada berbagai kelompok usia namun seringkali banyak menyerang pada kelompok usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 40 tahun. Gejala yang timbul, meliputi sakit kepala, demam samapai 5 hari, diikuti dengan perubahan tingkah laku dan kepribadian, kejang, lumpuh setengah badan, halusinasi dan bergai macam penurunan kesadaran. Kerusakan otak yang timbul pada anak-anak dan dewasa biasanya terlihat di daerah lobus frontal dan temporal.
Herpes Simplex Virus tipe 2 (herpes genital) seringkali menular karena kontak seksual. Ibu yang terinfeksi dapat menularkan pada bayinya pada saat persalinan melalui kontak dengan secret kemaluan, walaupun hal ini jarang terjadi. Pada neonatus, gejala-gejala seperti letargi, kejang, rewel biasanya muncul antar usia 4-11 hari setelah persalinan (4).
Pathophysiology
Masih belum jelas, ada kemungkinan
(1) Infeksi otak sering merupakan infeksi primer akibat transmisi virus secara langsung melalui jalan neuronal dari perifer ke otak melalui N. Trigeminus atau N. Olfactorius. Factor – factor yang mempercepat terjadinya HSE tidak diketahui. Walaupun HSE sering didapatkan pada penderita dengan penurunan system imun, sebagian besar penderita tidak pernah mengalami supresi system imun. Pada sepertiga kasus-kasus HSE merupakan komplikasi dari infeksi primer HSV sedangkan sisanya disebabkan oleh infeksi ulangan.
(2) Pada beberapa kasus HSE merupakan reaktivasi infeksi berupa herpes virus laten dalam otak. HSV asimtomatik sering dijumpai berdasarkan tingginya prevalensi antibody terhadap HSV pada populasi. Infeksi HSV laten dalam otak merupakan bagian terbesar dari penyakit neurologi asimptomatik. Dari hasil otopsi, HSV dijumpai di otak pada 35 % populasi tanpa gejala neurologi hingga penderita meninggal. (5)
Manifestasi Klinis
EHS dapat bermanifestasi sebagai bentuk akut atau sub akut. Pada fase prodromal, pasien mengalami malise dan demam berlangsung 1-7 hari. Manifestasi ensefalitis simulai dengan sakit kepala, muntah, perubahan kepribadian dan gangguan daya ingat yang sangat sulit dideteksi pada anak kecil. Kemudian pasien mangalami kejang dan penurunan kesadaran. Kejang dapat berupa kejang fokal maupun kejang general. Harus diingat bahwa kejang umum dapat diawali kejang fokal yang berkembang menjadi kejang umum. Bila kejang fokal sangat singkat, orangtua sering tidak mengetahui.
Kesadaran menurun sampai koma dan letyargi. Koma adalah faktor prognosis yang sangat buruk, pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh dengan gejala sisa yang berat. Kematian biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama. Pemeriksaan neurologis seringkali meunjukkan afasia, ataksia, gangguan sistem otonom, paresis saraf kranialis, kaku kuduk dan papiledema. Kadang-kadang manifestasi klinis menyerupai meningitis aseptik tanpa manifestasi ensefalitis yang jelas.
Jelaslah bahwa manifestasi klinis sangatlah tidak spesifik, terutama pada anak, dan diagnosis WHS sangat memerlukan kecurigaan klinis yang bsangat kuat. Secara prktis kita harus selalu memikirkan kemungkinan EHS bila menjumpai seorang anak dengan demam, kejang terutama kejang fokal, dan gejala neurologis fokal lain seperti hemiparesis atau afasia dengan penurunan keasdaran yang progresif (5).
Diagnosis
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Gangguan kesadaran, demam, disfasia, ataxia, kejang fokal > general, hemiparesis, gangguan saraf otak, hilangnya lapangan pandang, dan papiledema. Pada neonatus, temperature tidak stabil, ubun-ubun besar menonjol, tanda traktus piramidalis, ikterus, renjatan, perdarahan, distress nafas dan lesi kulit yang khas (6).
Pemeriksaan Penunjang
• Analisis CNS, menunjukkan pleositosis mononuclear dengan peningkatan kadar protein sedangkan kadar glukosa normal atau menurun sedikit
• PCR, analisis PCR CSS bersifat sensitive dan spesifik untuk menegakkan diagnosis HSE, walaupun sudah mendapatkan terapi antivirus.
• MRI, mampu menunjukkan perubahan patologis yang biasanya bilateral, pada bagian medial lobus temporalis dan bagian inferior lobus frontalis. Adanya lesi pada lobus temporalis merupakan hal bermakna dalam dugaan HSE
• EEG, menunjukkan kelainan fokal abnormal, seperti spike dan slow-wave atau pola periodic sharp-wave pada lobus temporalis.
• Biopsi otak, merupakan salah satu pemeriksaan definitive untuk menegakkan diagnosis HSE.
Diagnosis banding
Meningitis asetik
Penatalaksanaan
Acylovir 10 mg/kgBB/dosis setiap 8 jam iv drip dalam 1 jam selama 10 hr. Efek samping adalah peningkatan kadar ureum dan kreatinin, tergantung kadar obat dalam plasma. Pemberian secara perlahan akan mengurangi efek samping (6,5).
Terapi suportif lainnya, seperti obat anti kejang, penurun panas, oksigenasi, juga nutrisi baik parenteral maupun enteral.
Prognosis
Prognosis EHS yang tidak diobati sangat buruk dengan kematian 70-80% setelah 30 hari dan meningkat menjadi 90% dalam 6 bulan. Pengobatan dini dengan asiklovir akan menurunkan mortalitas menjadi 28%. Gejala sisa lebih sering ditemukan dan lebih berat pada kasus yang tidak diobati. Keterl;ambatan pengobatan yang lebih dari 4 hari memberikan prognosis buruk, demikian juga koma, pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh sengan gejala sisa yang berat (5).
Daftar Pustaka
1. Creator, Graham. Dr. Herpes Simplex Encephalitis. 2003 . Available from : Available from : www.encephalitis.info/Info/.../TypesEncephalitis/HSE.aspx
2. Kohl S. Post natal herpes simplex viru infection. In : Feign RD, Cherry JD, ed. Textbook of pediatric infectious disease. Philadelphia: WB Saunders, 1992
3. NINDS, Meningitis and encephalitis fact sheet. April 2004. available from : http://www.ninds.nih.gov/disorders/encephalitis_meningitis/detail_encephalitis_meningitis.htm
4. Pritz, Tod. Herpes Simplex Encephalitis, Update : Jan 7, 2010. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/792486-overview
5. Soetomenggolo, Taslim. dkk. Buku Ajar Neurologi Anak. 1999. Jakarta.
6. Pedoman Diagnostik dan Terapi Bag / SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr. Soetomo. Edisi III. 2006. Surabaya
Langganan:
Komentar (Atom)